pemberontakan

September 3rd, 2005 by fitri-asad

Debukan drum ritmis dalam tempo yang cepat. Menyusul melodi dan gitar yang meraung tinggi, juga cabikan bas yang dinamis. Di tengah itulah menyelinap masuk sebuah lagu. Suara vokal dalam jerit panjang, lengking yang menyakitkan telinga, namun lantang mengekspresikan sesuatu yang demikian lepas. Perpindahan nada berlangsung cepat tanpa mengubah tempo musik. Energi musikal di situ seakan-akan membayangkan kemarahan dan pemberontakan yang dieksplorasi habis-habisan. Juga dalam ”performance” dan perangai pentas mereka.

Di bawah panggung, di antara musik yang berdentam-dentam dan jerit panjang sang vokalis, sejumlah penonton tak hanya menggerak-gerakkan kepala mereka. Tapi juga melakukan pogo, sebuah gaya komunitas underground dalam merespons musik. Mereka terkesan bergerak liar dan seenaknya, saling bertubrukan, saling menerjang. Bahkan ada beberapa di antaranya terjatuh dan hampir terinjak-injak. Tapi mereka hanya saling tertawa.

Di pentas, musik dan suara vokalis terus bergemuruh. Bertelanjang dada, dengan tubuh dihiasi tato, suara  sesekali seperti parau. Namun terus meninggi dalam tempo monoton yang ditingkahi permainan gitar yang dinamis. Demikian juga dengan penampilan bas yang atraktif. Sedangkan tabuhan drum tak hanya energik, tapi juga sesekali menunjukkan kegarangannya. Pukulan dan ketukannya terukur meski dalam lompatan-lompatan nada yang cepat.

Beberapa lagu mereka bawakan, yang umumnya bertutur dan meneriakkan realitas yang chaos, seperti nomor "Jerit Kematian" dan "Aborsi". Itulah penampilan kelompok Victim of Rage (V.O.R). Penampilan group musik underground asal Bandung yang beraliran Brutal Death ini adalah satu dari sejumlah penampilan grup musik underground lainnya dalam acara bertajuk Stay In Underground di Bukit Kafe, Cimahi, Minggu (23/1) kemarin.

Demikian juga kelompok Discount, yang hadir dengan warna musik punk. Begitu naik ke pentas, kontan mereka langsung menggebrak dengan nomor-nomor yang menghentak, yang langsung direspons penonton dengan pogo. Grup musik yang terdiri dari Apep (vokal), Cevo (drum), Pict (gitar) dan Opik (bas) ini, memainkan sejumlah nomor lagu yang meneriakkan realitas dan semangat pemberontakan, seperti "Anjing Perang", "Politikus", atau "Terpenjara Diri".

Ketika salah seorang personel Discount melemparkan ratusan stiker ke arah penonton, sementara musik terus berdentam-dentam, suasana makin panas. Penonton yang rata-rata adalah anak-anak remaja belasan tahun dengan dandanan yang khas itu, langsung turun ikut berebut. Dan pogo terus dilanjutkan. Mereka bergerak, saling menabrakkan diri, saling terjang, dan terus bergerak!

Seperti penampilan kelompok musik yang lain, tak jelas benar syair yang diucapkan oleh Avev sebagai vokalis, kecuali hanya terdengar sebagai raungan dan jeritan. Bahasa dan kata-kata di situ seakan-akan tidak lagi menjadi penting untuk dikomunikasikan. Bahkan terkesan itulah yang mereka lawan. Karena itulah, jeritan, raungan, adalah satu-satunya cara untuk mengomunikasikan pemberontakan mereka.

Dan di situ juga bukan pada tempatnya orang bicara tentang kaidah-kaidah estetika yang konvensional. Sebab, musik-musik underground hadir dengan kaidah estetika musikalitasnya sendiri. Dan juga jangan ditanyakan skill dan permainan musik mereka. Paling tidak, seperti yang ditunjukan grup-grup yang tampil hari itu, seperti Discount, Victim of Rage, atau juga Crawl of The Dark, bisa dikatakan bahwa performance dan skill mereka di atas rata-rata. Setidaknya ketiga grup ini memiliki harapan yang lebih jauh dalam mengeksplorasi kemampuan mereka.

Setidaknya begitulah underground yang dipahami oleh remaja-remaja konyol yang ada di indonesia saat ini. Mereka hanya memahami underground movement sebagai musik, tanpa membawa ideologi tertentu. Mereka memang melakukan pemberontakan, dari penampilannya saja kita sudah bisa menilai sendiri bahwa mereka melanggar kaidah2 formal yang ada (dan saya suka). Dari segi cara bicara, cara hidup, dan hal lainnya mereka sengaja nyeleneh untuk memberangus belenggu kekakuan. Dalam sebuah wawancara yang saya lakukan bersama seorang kru posmagz terhadap salah satu komunitas punk di banjarmasin, mereka melakukan tindakan yang 180 derajat berbeda dari yang orang anggap karena mereka bosan dengan belenggu kekakuan yang dibuat oleh manusia.

Sebagai seorang yang sedikit ‘nge-punk’, saya juga membeontak belenggu kekakuan yang dibuat di oganisasi saya. Katanya gak layak seorang yang katanya aktivis (eh, gue aktivis ya?) menggunakan pakaian2 yang gak layak. Ah, gak layak yang seperti apa? Saya nutup aurat kok! Kan aurat cowok cuma diantara puser dan lutut? Kenapa pusing2 mikirin yang selain itu? Kalo memang Islam gak suka orang yang gak pake kemeja atau baju koko, atau pake sarung, kenapa Islam cuma membatasi aurat laki2 cuma sebatas puser sampai lutut?

Bedanya, pemberontakan saya punya dalil, sedangkan pemberontakan anak punk gak ada dalilnya. Koma!

Sebenarnya saya salut dengan pemberontakan yang dilakukan anak2 dari komunitas punk, skinhead, blackmetal, hardcore, atau apalah nanamanya.  Kabarnya, punk-pun lahir sebagai reaksi pemberontakan kaum buruh di pinggiran inggris terhadap kezaliman sistem! Kurang lebih sama dengan revolusi bolsjevic, mereka pun melakukan pemberontakan dan ingin menerapkan ideologi sosialis sebagai alternatif kapitalis disaat semua orang tertidur pulas di atas kasur berduri bernama demokrasi kapitalis (termasuk orang2 ‘sholeh’ yang sekarang masuk parlemen menikmati tai ayam demokrasi, hi..jijay)

Tapi…

Jauh sebelum kaum punk lahir, jauh sebelum tarian pogo jadi tren, jauh sebelum rambut mohawk jadi dandanan favorit, jauh sebelum gelang spike selalu melingkar di tangan remaja, jauh sebelum celana belel jadi dandanan khas anak muda, dan jauh sebelum dakwah lewat media sepeti posmagz ini ada, telah terjadi sebuah pemberontakan besar! Pemberontakan yang memberangus mainstream saat itu, pemberontakan yang tidak menyisakan lagi ketakutan, melainkan ketakutan akan azab Allah. pemberontakan yang menghilangkan segala kemarahan, kecuali terhadap kezaliman dan kekufuran, pemberontakan yang tak memberi tempat sedikitpun  bagi ideologi lain. Pemberontakan itu telah dicatat dengan tinta emas para ulama dan darah suci para syuhada. Pemberontakan Muhammad terhadap peradaban arab jahiliyyah!

Setelah pemberontakan suci itu, tak satupun wanita yang perlu takut keluar rumah, karena kehormatan mereka berada di bawah tanggung jawab sang kholifah. Setelah pembeontakan gemilang itu, tak satupun kebodohan dibiarkan melanda rakyat negara yang baru saja didirikan Muhammad di Madinah. Tak satupun negeri ditaklukkan, kecuali kerahmatan menaungi negeri tersebut. Tak satupun jiwa kaum muslimin gugur, kecuali dijanjikan surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.

Tapi… seribu tiga ratus tahun kemudian, disaat negara yang didirikan Muhammad telah melebarkan sayap kerahmatannya ke dua pertiga belahan dunia, romawi, persia, spanyol, dan negeri-negeri lainnya….seorang yahudi berkhianat! Dia bersekongkol dengan inggris untuk meruntuhkan negara itu (khilafah) dan membuat surat palsu untuk memecat kholifah Abdul hamid II dan kemudian mengasingkannya.

Ya, setelah sekian lama pertarungan fisik tak pernah bisa mengalahkan kaum muslimin dan negara Islam, akhirnya SANG KAPIR mengetahui rahasia kekuatan kaum Muslimin dan negara Islam, yaitu al-Quran! Selama al-Quran tidak dipisahkan dari kaum Muslimin, maka harapan untuk menghancurkan negara Islam adalah mimpi di siang bolong. Maka mulailah usaha mereka memisahkan kaum Muslimin dari al-Quran. Al-Quran hanya dijadikan ibarat penentram hati dikala duka, dan sekedar untuk dibaca dan ditenteng atau dimasukkan dalam tas setiap bepergian. Tapi, ajaran-ajaran yang temaktub dalam al-Quran sama sekali tidak dipedulikan. Sukser besar bagi SANG KAPIR!

81 tahun telah berlalu sejak negara adidaya itu runtuh, negeri-negeri bekas naungan negara khilafahpun menjadi potongan2 kue yang sangat menggiurkan bagi SANG KAPIR. Para wanita yang terlahir di negeri-negeri eks-khilafah pun sangat menggiurkan bagi tentara2 kapir untuk melampiaskan syahwatnya. Seluruh negeri kaum muslimin menangis dan berharap akan kembalinya negara impian itu. Tapi siapa saja yang berniat dan bersuara untuk mewujudkan kembali negara impian itu (khilafah Islam), maka dia adalah TERORIS! Dimulailah propaganda-propaganda buruk melawan terorisme. SANG KAPIR memaksakan undang2 anti-terorisme kepada setiap negeri kaum Muslimin.

BODOHNYA!!! Masih banyak kaum Muslimin yang tidak menyadari hal ini, mereka menganggap bahwa sistem yang ada sekarang adalah sistem yang ideal. Mereka menganggap demokrasi sudah final. Penguasa negeri2 kaum Muslimin pun semakin memperlihatkan kesetiaannya kepada negara2 KAPIR IMPERIALIS dan mengorbankan rakyatnya yang mayoritas Muslim.

Ya,

81 tahun telah berlalu sejak runtuhnya negara khilafah yang telah berhasil menaungi 2/3 belahan dunia selama 13 abad. Muncullah berbagai gerakan/harokah Islam untuk mewujudkan kembali negara khilafah Islam. Meski ditengah perjalanan banyak yang kehabisan nafas, namun tetap ada gerakan yang terus setia dan terus berjuang demi tegaknya negara impian, negara khilafah. Dan mereka adalah pemberontak!

Ya, mereka adalah pemberontak! Dan pemberontakan mereka adalah sebuah keharusan, pemberontakan yang dilakukan ditengah jerit tangis anak dan istri mereka. Mereka memberontak dengan segenap kemampuan dan segenap keikhlasan, dengan PEMIKIRAN yang akan memberangus aturan kufur di negeri ini dan negeri-negeri lainnya.

Apa bedanya pemberontakan mereka dengan pemberontakan kaum underground? Bedanya ada pada nilai. Meskipun pemberontakan yang dilakukan sama, yaitu sama2 memberontak kapitalis/aturan yang tidak ideal. Tapi dari sisi nilai, jelas berbeda. Pemberontakan yang dilakukan oleh kaum underground tidak dilandasi dengan motivasi ruhiyah, bahkan tak jarang dilakukan dengan MENIADAKAN TUHAN. Sementara, pemberontakan yang saya sebutkan belakangan (pemberontakan demi mewujudkan kembali khilafah Islam) dilandasi dengan motivasi spiritual (ruhiyah) dengan cara yang benar pula, yaitu dengan perang pemikiran.

Keep Revolt!!!

It’s The Love….

July 21st, 2005 by fitri-asad

Khoeksss..Khoeksss…
Oit oit…jangan muntah dulu …gak ada kantong plastik nih…
Okey…kenapa saya milih judul itu?? Hmmm..karena kebetulan kata itu yg nyangkut di kepala setelah berjam jam nongkrongin komputer. Argh..ternyata membuat judul tulisan pun bukan pekerjaan yang gampang..lagian apa ngaruhnya sih sebuah judul?? Iya kan??

Beberapa hari ini saya bete abis campur sebbel. Sudah seminggu saya diuber-uber fans minta tanda tangan, mana tanda tangan se-rim yg telah saya persiapkan kena hujan lagi…tanda tangannya luntur abiz, kan saya capek banget kalo harus bikin tanda tangan lagi…(hehehe…gak percaya kan…ember!!)..maksudnya… saya lagi di uber-uber Pimpred media butut ini. Deadline tinggal menghitung jam, dan tidak ada satupun ide yang nongol di kepala. Puyeng2! Bola mataku sampai mau meloncat keluar saking seriusnya menatap langit langit kamar, kali aja si ide mau menampakkan dirinya secara utuh…uuuugh…ternyata tetap aja…otakku blank…gelap!

Hmm…ternyata harus ku akui…otakku mulai berkarat.

Kemudian tanpa sadar terlintas pikiran…ngapain juga sih susah susah nulis…bikin bulletin seperti ini, mana selalu di kejar kejar deadline..iya kalo ada yg mau di tulis?? Kalo lagi mampet kayak WC kos gini? Kan susah …harus manggil tukang sedot WC segala…(iih joyok abiz)…kemampetan ini makin menjadi jadi ketika isi sms cuma “ “Sil, …artikelnya mana?”

Huaaa..saya capek! capek asli!..saking capeknya saya minta pamit untuk hengkang aja dari dunia perbuletinan. Melengang santai tanpa di kejar-kejar deadline…juga tidak harus begadang melayout. Juga tidak harus berpuyeng puyeng ria mikirin uang tuk nyetak. Setelah pertarungan perasaan yang seru (kayak film action) antara ingin keluar dengan tetap bertahan akhirnya…keputusannya…KE…LU…AR!..Yup, saya kalah! saya nyerah! (bendera putih setengah tiang berkibar kibar di tangan).. Huaaaa!!! aku bebaaas! Good bye buletin jelex…muaach muaach I’ll miss uuuu….(khoeks!)

Tiba tiba sebuah bisikan menghantam hantam kesadaran saya bak palu dogam! Dug! saya tersentak.. Oh..Tuhan …apa yang telah saya perbuat? Secengeng inikah saya? tak seharusnya saya keluar. Tak seharusnya saya nyerah! Emang apa tujuan saya nulis?? Agar mereka sadar?? Kalo gak sadar sadar juga, apa saya harus nyerah dan ngerasa apa yg saya lakuin sia-sia?? Sadarlah!!! (loh sekarang malah saya yg di suruh sadar..) yang dinilai oleh Allah bukan hasil, tapi usaha! Usaha yang di landasi keikhlasan. Saya seperti ini bukankah karena usaha teman-teman yang tak pernah putus asa mencereweti saya dan tak jarang mereka juga harus menerima semprotan dan nada sinis dari saya, tapi apakah mereka menyerah?? Tidak, mereka tidak pernah menyerah. Dan seandainya saat itu mereka menyerah, barangkali saya masih tetap berenang-renang ria dalam comberan dosa sampai sekarang. Oh Tuhan…hamba malu. Sangat malu!

Brukk!!! Tubuh ringkih penuh celak dosa ini tiba tiba tersungkur..memamerkan kekerdilan diri dan kemaha terbatasan. Dalam isakan panjang kutuangkan segala gumpalan gumpalan kecengenganku di hadapan Rabbul Izzati penguasa jagad yang Maha Tidak Terbatas.
Ya Allah…kuatkanlah hamba untuk mengemban amanat ini. Amanat untuk menyebarkan risalah yang di bawa oleh rasul-MU. Tetapkanlah hati hamba untuk selalu ikhlash menyebarkan cinta di bumi, seperti matahari yang tak mengharapkan apapun dari semesta atas sinar yang di berikannya.

Ya Allah…hamba sangat rapuh…tapi izinkanlah hamba mengais ridhamu dalam kerapuhan ini, karena ridhamu adalah cita cita tertinggi hamba.

*****

Tulisan ini saya buat ketika saya berada dalam titik kerapuhan…jangankan tuk berjalan tegak…berdiri pun tidak mampu…Karena cintalah yang menuntun saya untuk hadir lagi di hadapan kawan kawan…menyapa kawan kawan…karena saya sangat mencintai kalian…sangat!!!
Tapi saya gak bisa mengekpresikankan cinta saya yang meluber ini dalam bahasa lisan, karena lidah ini terasa berlipat lipat jika saya ingin mengatakannya . Izinkanlah saya mengungkapkan cinta ini dalam bentuk tulisan sederhana dan gak bermutu, semoga mampu mewakili apa yang tidak sanggup saya lisankan.

Kawan, Betapa tak terperikan hati saya, ketika melihat kawan sudah semakin sombong dan congkak di depan Allah…memamerkan segala kepongahan. Dengan dada membusung berjalan di bumi Allah…menabrak apa yang telah Allah gariskan…kawan gak perduli lagi apakah yang telah kawan lakukan itu menjadi murka Allah atau tidak. Kawan sudah tidak perduli, bahkan terlalu cuek untuk ukuran mahluk bertitel manusia yang di beri potensi akal untuk berfikir mana yang baik mana yang buruk, mana yang di larang mana yang tidak.

Betapa saya ingin berkata kepada kalian saat melihat kalian duduk berdua dengan pacar kalian di sebuah taman sambil saling meremas tangan..”kawan…dia itu bukan muhrimmu..jangan biarkan dia menyentuhmu…” tapi bibir ini tak mau terbuka…kelu mendadak…dan… saya hanya sanggup melangkah dari hadapanmu dengan hati remuk.

Ketika kawan dengan penuh kebanggaan memamerkan kemolekan bodi yang kawan tidak pernah ikut campur sedikitpun dalam penciptaan tubuh molek itu…ingin lidah ini berkata “ Kawan…seorang muslimah wajib memakai jilbab…karena murka Allah akan selalu mengikutimu selama auratmu masih melambai melambai seperti itu…” tapi lidah ini terasa bertulang…dan…kembali saya berlalu dari hadapanmu, lagi lagi dengan hati remuk.

Salah satu bukti cinta seorang saudara…adalah saling nasehat menasehati…dan tidak akan pernah tega melihat saudaranya terjerumus…sebenarnya itu yang ingin saya lakukan. Tapi saya terlalu kerdil untuk mengungkapkan cinta yang tumpah ruang kepada kalian. Saya terlalu takut kalian akan mengatakan “Halaah sok…iyya karena kamu kerempeng…bodimu gak beraturan…ancur tak berbentuk… jadi wajar kalo di tutup..sedangkan kami…sayang kan? Kalo anugerah seindah ini gak di pamerin…”atau “…Emang kalo saya pacaran napa?? Bukan urusan loe…?? Atau “ “Jangan sok alim loe…aku tahu masa lalumu seperti apa… hitam pekat juga..” atau “Jangan ngurusin orang aja loe…diri loe tuh yang di urusin…” plus pandangan sinis yang mampu membuat hati terasa tergergaji…hancur luluh jadi serbuk (hiperbola banget yah???)..Kawan..saya kurang tegar untuk menerima kata kata yang seperti itu…Hati ini lemah, saya hanya bisa berharap lirih ..”Ya Allah tuntunlah kawan kawan hamba…dengan segenap cintaMu…jangan biarkan mereka berlama-lama dalam kubangan dosa…karena hamba sangat mencintai mereka. Kuatkanlah hati hamba dan lancarkan lidah ini untuk menasehati mereka sebagai ungkapan cinta hamba” Amin…

Sejumput Asa

July 21st, 2005 by fitri-asad

Kita punya hidup yang berhembus lewat nafas, teratur dan ringan. Hidup tak sesederhana nafas yang mengalun teratur. Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah pertarungan. Siapa yang ingin bertahan hidup mesti berjuang dan bertarung dengan dinamika kehidupan.
Izinkanlah kami melakoni perjuangan itu dengan segenap daya yang kami punya. Kami adalah pejuang yang “hidup” karena adanya perjuangan. Kami adalah petarung yang “hidup” karena memang harus bertarung. Kami, hanya punya perjuangan dan kami akan terus berjuang hingga batas memaksa kami berpisah.
Perjuangan ini tidak ringan, maukah kalian bergabung dalam perjuangan ini saudaraku? Mengubah wajah dunia agar esok tidak sama dengan hari ini.

Wati Memakai Sepatu Tinggi

July 21st, 2005 by fitri-asad

Wati lulus dari akademi sekretaris dengan nilai yang baik. Semua lulusan Akademi Sekretaris yang nilainya baik otomatis mendapat pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar, karena perusahaan besar selalu berkembang dengan pesat, dan karena itu selalu membutuhkan sekretaris yang baik.

Alhasil, pada suatu pagi wati sudah berhadapan dengan Sekretaris Kepala sebuah perusahaan. Inilah hari pertama sebagai pekerja dalam hidupnya, dan belum-belum ia sudah mendapat masalah.

“Engkau tahu apa kesalahanmu pada hari pertamamu ini?”
Wati tidak mengerti. Ia belum melakukan pekerjaan apa-apa.
“Tidak, saya tidak tahu.”
Sekretaris Kepala memandangnya dengan sengit. Baginya para sekretaris baru selalu merupakan ancaman.
“Lihatlah ke bawah,” katanya.
Wati melihat ke bawah, ia melihat sepatunya sendiri.
“Sepatu saya?”
“Ya! Sepatumu! Masa’ sekretaris pakai sepatu tennis!”
“Apa salahnya, yang dibutuhkan adalah kemampuan saya dalam kesekretariatan, bukan sepatu saya.”
“Kemampuan dan tampang, bego!”
“Tampang?”
“Wati, kalau kamu ingin bekerja diperusahaan ini, kamu harus mengenakan sepatu tinggi. Mungkin tidak usah tujuh sentimeter, tapi pokoknya sepatu tinggi. Karena hanya sepatu tinggi memberi image modern dan professional sebagai seorang sekretaris. Tampang seorang sekretaris adalah bagian dari image direktur dan perusahannya, jadi jangan memalukan.”
“Jadi, untuk apa saya belajar yang hebat-hebat, kalau penilaian pada diri saya hanya berdasarkan pakaian?” (Dikutip dari cerpen Wati Memakai Sepatu Tinggi karya Seno Gumira Ajidarma)
*****

Sepertinya sudah menjadi standar baku bahwa untuk memberi image modern dan profesional, wanita-wanitanya harus berblazer, plus blues, rok span, kosmetik dan minyak wangi yang mahal-mahal, tak ketinggalan juga sepatu tinggi yang menimbulkan irama ritmis, tak tik tak tik seperti mesin ketik kantor polisi. Tak peduli kakinya harus lecet, tungkainya kapalan, jari-jari kakinya mekar seperti kipas, betisnya mengeras karena harus menopang berat badan dengan kondisi tubuh tidak seimbang.

Bukan itu saja. Tuntutan untuk menjadi manusia modern diantaranya lagi adalah harus mempunyai struktur wajah yang berkarakter (?), tinggi dan berat badan harus proporsional. Untuk itu, mereka rela memeras tubuhnya di pusat-pusat kebugaran, ikut terapi penambah tinggi badan, keluar masuk salon, dan kalau perlu, bagian wajah dan tubuhnya direparasi baik dengan operasi plastik atau dengan menggunakan silicon. Wah..wah!

Hal ini juga didukung oleh tuntutan pasar. Maksudnya, agar dikatakan perusahaan-perusahaan bonafid, dalam penerimaan pegawai mereka merasa perlu untuk mencantumkan syarat-syarat sebagai berikut: Berpenampilan menarik, tinggi badan min. 165, dan bla…bla…yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan.

Manusia-manusia modern juga semakin hari semakin menampakkan gejala keedanan. Gimana kami tidak mengatakan edan. Untuk menjadi atau disebut sebagai manusia modern mereka menggunakana cara-cara yang “primitif”. Lihat saja, mereka memakai pakaian yang sudah tidak layak pakai. Robek sana sini. lengan cuma sebelah bergelantungan dan berumbai-rumbai (mengingatkan pada zaman tarzan saja). Bahkan baju tersebut tidak cukup untuk menutupi seluruh tubuhnya. Diangkat ke atas kelihatan di bawah. Cukup di bawah, kelihatan di atas. Bahannya juga aneh-aneh. Ada juga yang membuat baju dari kulit kerang, lempengan CD, dari kulit kayu, kulit binatang dan sebagainya.. Ditambah lagi dengan aksesoris yang semakin melengkapi ke’primitif’annya. Kalung dari gigi gajah, cincin dari tulang, anting-anting dari akar, dan sebagainya. Lebih edannya lagi, mereka rela merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pakaian dan aksesoris yang aneh-aneh tersebut, plus tingkah laku yang lebih aneh lagi. Lengkap dah! Ini zaman kebebasan! Teriak mereka serak. Ah..yang bener? Kebebasan yang seperti apa?

Modernisme : Kebebasan tanpa Nalar (Freedom without reason)

C. Wright Mills, sosiolog Amerika yang kontroversial, menandaskan bahwa pada abad XVIII, pemikiran pencerahan (atas nama nalar dan kebebasan ) telah meraup sukses besar (Succes story) dalam memusnahkan pelbagai ketidakadilan, kedunguan, dan prasangka dari order tua (the old order). Dalam pemikiran pencerahan (Enlightement), nalar dan kebebasan telah bersekutu dalam rangka perjuangan merontokkan rantai-rantai rejim kuno (Ancien regime) yang biasa disebut dengan abad kegelapan (the dark age). Akhirnya, tentu saja, pencerahan memberikan kontribusi besar kepada terjadinya revolusi prancis dan revolusi industri yang kemudian melahirkan masyarakat baru (new regime). Tapi sayang, setelah “pesta pora” perayaan kemenangan tersebut (kemenangan atas musnahnya abad kegelapan yang mengkungkung kebebasan dan nalar manusia dalam tradisi-tradisi gereja), dalam perjalanan sejarah selanjutnya, nalar dan kebebasan menjadi saling memusuhi.

‘Permusuhan’ antara nalar dan kebebasan ini berawal ketika manusia telah tiba di stadium kejayaan rasionalitas instrumentalnya, yaitu zaman ketika teknologi semakin menampakkan “keperkasaannya”. Zaman bisnis raksasa. Di zaman ini, menurut Horkheimer, individu (manusia) dipandang sebagai benda dan alat belaka. Individu benar-benar kehilangan identitasnya, no man! Manusia tidak mampu lagi bertindak sebagai “manusia” ataupun untuk sekedar merancang masa depannya sendiri. Untuk bisa bertahan, ia harus menyerahkan semua keterampilannya, kecendrungannya, dan nalarnya kepada perusahaan. Modal-modal raksasa yang buta itu menjadi maha tahu, sedang individu (manusia) menjadi mesin ‘yang dungu’ (Horkeimer dikutip dari Ridwan Al-makassary, 2000).

Pelan namun pasti, manusia menjelma menjadi ‘robot girang’ (cheerful robot, Mills)) yang miskin daya reflektif . Ia tidak mampu memahami muatan makna dari tindakan yang ditempuhnya. Ia tidak mampu berpartisipasi memformulasi tujuan dari pengejaran rasionalnya. Ia bertindak sesuai dengan dikte lingkungannya. Bergerak mengikuti sabda modernisme tanpa perlu mendiskusi, mendebat, menolak dan memutus berdasarkan nalar kritis dari tujuan tindakan yang seharusnya dipertanyakan kembali. ‘Robot girang’ hanya mengetahui bagaimana cara berbuat (what to do) namun tidak tahu mengapa itu harus dilakukan (why it is tobe done).

Selain Mills, kekhwatiran lain tentang kondisi manusia-manusia modern juga diungkapkan oleh Max Weber bahwa masyarakat modern menjadi maju secara teknologi diakibatkan oleh penyebaran rasionalisasi dalam format kapitalisme dan birokrasi. Teknologi mampu memproduksi lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit dan usaha yang sedikit pula. Masyarakat modern sukses meminimalkan pemiskinan material. Tetapi hal itu, ironisnya, digerakkan dengan jalan memiskinkan spirit manusia.

Kemiskinan spirit manusia inilah yang kemudian menyeret manusia modern kedalam situasi anomi atau normless yang merupakan jurang bahaya yang siap menghancurlumatkan masyarakat modern. Anomie, menurut Berger (dikutip dari Kematian Manusia Modern, Ridwan Al-Makassary, 2000) adalah mimpi buruk yang sempurna di mana individu hidup dalam dunia amburadul, kehilangan kepekaan, dan kegilaan. Anomie adalah titik yang tak tertahankan di mana individu mungkin memilih mati karenanya. Kekhawatiran yang sama juga dilontarkan oleh Emile Durheim. Dan dalam keputus-asaannya ia berteriak parau,”Agama adalah obat anomie masyarakat modern!”

Dari beberapa pemikiran panjang para sosiolog di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kita sebenarnya tengah berada dalam suatu pungkasan yang menemui jalan buntu, dan kita telah jauh terjebak di dalamnya.. Dan kebebasan yang menjadi “dalil” manusia-manusia modern sebenarnya telah memasung kebebasan manusia itu sendiri. Tepatnya: kebebasan yang memenjarakan!

Dalam kegamangan, kecemasan, ketidakpastian, ketakutan, putus asa, fatalisme, dan kehilangan harapan, manusia-manusia modern memilih untuk menceburkan diri dalam lautan kegilaan.

Tidak harus ikut-ikutan gila.

Kegilaan zaman yang sudah semakin tua dan keriput ini dulukiskan dengan sangat jitu oleh Pujangga Jawa Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam Serat Kalatidhanya : Amenangi zaman edan/ ewuh aya ing pambudi/ melu edan nora tahan/ ning yen tan melu/ boya keduman melik/ kaliren wekasani pun/ sabeja-bejane kang lali/ luwih beja kang eling lawan waspada Yang saya coba artikan: Mengalami zaman edan/bingung dalam bertindak/ ikut edan enggak tahan/ kalau enggak ikut edan/ enggak kebagian, kelaparan akhirnya/ insyallah, seuntung-untungnya yang gila masih lebih untung yang ingat dan waspada.

Ditengah kebingungan yang tak berujung pangkal ini, ikut edan bukan cara yang tepat. Apalagi kita sebagai muslim yang mempunyai pegangan yang kuat untuk tidak ikut terombang ambing oleh arus zaman. Al-Qur’an dan As-sunnah, telah memberikan jawaban tuntas dari pertanyaan-pertanyaan yang selalu hadir dalam kebimbangan pencarian jati diri sebagai manusia.

Masalahnya, ketika kita terlalu jauh terseret arus zaman, masihkah ada keinginan dari kita untuk kembali ke ajaran Al-Qur’an dan As-sunnah lagi?

” Sungguh aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Sesuatu tersebut itu adalah sesuatu yang jelas, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya” sabda Rasulullah.
“Kebenaran adalah dari Tuhanmu, maka janganlah kamu menjadi orang yang ragu,” Firman Allah SWT.

Masihkah kita ingin ikut-ikutan edan?!

Ya Allah, ketika kebenaran nampak sebagai kebatilan, dan ketika kebatilan nampak sebagai kebenaran, maka tunjukkanlah yang benar itu benar, dan berilah aku kemampuan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah yang batil itu batil, dan berilah aku kemampuan untuk menolaknya. Amin!

Pembusukan Budaya

July 21st, 2005 by fitri-asad

Cerita seorang teman yang kuliah di kota metropolitan sana, bahwa pergaulan disana sudah sangat memprihatinkan. Adegan mesra antara lawan jenis dengan mudah dapat dijumpai di mana -mana. Di mal, di pinggir jalan, di angkot, di pojok kampus, di kos, pokoke adegan seperti itu sudah menjadi tontonan umum. Bahkan yang lebih seru dan lebih gawat lagi, teman saya tanpa sengaja menyaksikan “adegan gulat” antara dua lelaki homo di sebuah taman. Dan yang sangat mengherankan, kata teman saya, orang-orang disekitar taman yang juga menyaksikan “adegan gulat” tersebut tidak merasa heran, seolah-olah kejadian seperti itu merupakan hal yang wajar dan biasa dalam budaya kita. Juga tidak ketinggalan gambar-gambar porno yang dapat membuat manusia sesak nafas, terpajang dengan damai dimana-mana. Di majalah, tabloid, cover neovel picisan, di pinggir jalan, di depan gedung bioskop, di toilet dan sebagainya.

Barangkali teman saya merupakan salah satu generasi yang mengalami “keterlambatan budaya” demikin pula halnya saya, karena masih mempersoalkan hal-hal yang menurut orang lain sesuatu yang biasa. Bukankah hal-hal seperti yang tergambar tadi merupakan gejala kemajuan budaya? Entah dilihat dari sudut pandang yang mana.

Teman saya bertanya tentang keadaan disini (di banjarmasin), saya bilang bahwa keadaan disini masih baik-baik saja (walaupun bukan berarti tidak ada), dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya, masih mending. Nilai-nilai relegius masih tertanam kuat dalam praksis budaya masyarakat. Jawaban saya subyetif aja, karena saya sendiri belum terlalu jauh menjelajahi kota ini. Barangkali kalau ditelusuri lebih jauh, keadaannya lebih dari sekedar “baik-baik saja” (semoga persepsi ini salah).

Meminjam istilahnya Mustofa W. Hasyim, bahwa lambat tapi pasti, kita sedang mengalami apa yang dinamakan proses “pembusukan budaya” .

Kalau kita cermati lebih jauh lagi, sebenarnya “pembusukan budaya” hanyalah merupakan gejala pelengkap, karena pada saat yang bersamaan juga telah terjadi proses pembusukan yang menyentuh hampir semua sektor kehidupan manusia. Pembusukan politik, pembusukan ekonomi, pembusukan sosial dan sebagainya, dengan indikasinya masing-masing.
Kita perlu bersyukur, apabila masih ada orang yang merasa sesak nafas mencium kebusukan-kebusukan yang terjadi disekitarnya. Karena tidak dapat dibayangkan apabila “hidung” kita sudah tidak peka lagi untuk mengindrai kebusukan-kebusukan tersebut. Bahkan tidak jarang orang sekarang memilih untuk menyetel sedemikin rupa indra penciumannya agar tidak dapat mencium kebusukan atau memilih untuk mem-bloon-kan diri seolah-olah tidak pernah terjadi pembusukan , dan itu merupakan salah satu cara ampuh dan jitu untuk dapat bisa hidup damai dan tenang di tengah-tengah kebusukan. Atau memang kita tidak dapat mencium kebusukan tersebut karena saking dekatnya alias kita sendirilah sumbernya. Bukankah yang busuk-busuk yang bersumber dari diri kita sendiri, kita tidak pernah menganggapnya busuk?.

Bukan saatnya kita diam

Melihat realitas pembusukan yang terjadi secara kaffah dan berjamaah tersebut, tidak harus membuat kita frustasi berat, apalagi sampai pingsan segala, tapi juga bukan dengan cara diam atau mem-bloon-kan diri, seolah-olah semuanya baik-baik saja, karena kenyataanya, pembusukan itu ada dan terjadi di depan hidung kita.
Kata sebagian orang, diam itu emas, walau kata dosen bahasa inggris saya , “silent is not always golden”. Diam bisa berarti ketidak-berdayaan. Diam juga bisa merupakan ungkapan pengakuan tidak langsung bahwa dialah pelakunya. Misal, ketika kenyamanan kita menikmati perjalanan di sebuah angkot tiba-tiba terusik oleh “aroma tak diundang” yang tiba-tiba hadir, orang-orang dalam angkot tersebut serentak melakukan pencarian dengan hidung masing-masing mencari sumber aroma tersebut, tapi ada salah seorang yang diam saja, dan seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa, maka kita akan berfikir, “ jangan-jangan …dia pelakunya”. Nah…Hayo ngaku! Walaupun sebetulnya hal ini tidak bisa dijadikan acuan, karena sekarang manusia semakin pintar untuk mengelabui orang. Dia yang melakukan pembusukan, tapi malah dia yang paling duluan nutup hidung dan paling nyaring suaranya untuk membasmi kebusukan, bahkan dia sendiri yang mengetuai “tim pencarian pembusukan” dan tanpa basa-basi menuduh orang lain sebagai pelakunya.

Jika pembusukan tersebut mencapai titik yang dominan, maka diam itu adalah dosa! “jika kamu melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tanganmu, apabila tidak mampu maka rubahlah dengan lidahmu, jika tidak mampu maka dengan hatimu, dan itulah selemah-lemahnya iman” sabda Nabi.

Kenapa kita mesti terbebani untuk melakukan perubahan baik dengan tangan maupun lisan?. Logika sederhananya, jika kita melihat orang yang buang sampah disembarang tempat, walaupun itu di got atau dikolong rumahnya sendiri, kemudian kita hanya diam dengan alasan, itu kan hak atau urusannya mereka, maka apabila terjadi banjir, apakah banjir tersebut hanya akan menimpa orang yang membuang sampah tadi?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ath-Thabrani, Rasululah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat umum karena perbuatan orang-orang tertentu hingga masyarakat umum melihat kemungkaran di hadapan mereka, sedangkan mereka mampu mengingkarinya, tetapi mereka tidak mengingkarinya. Jika mereka berbuat demikian, Allah pasti akan menyiksa masyarakat umum dan orang-orang tertentu itu”
Oleh karena itu, masyarakat secara umum harus berusaha sekuat mungkin dan sungguh-sungguh untuk mencegah dan menghalangi segala jenis perilaku “pembusukan”. Masyarakat harus meningkatkan intensitas amar ma’ruf nahi mungkar baik dalam hal kualitas ketegasan maupun kuantitasnya.

Ramadhan, Momentum menuju titik fitri
Setelah sekian lama berbusuk-busuk ria, marilah kita bersama-sama mandi dan menyabuni diri di telaga Ramadhan. Walau idealnya, untuk mandi dan menyabuni diri tidak perlu harus menunggu datangnya bulan Ramadhan karena pintu magfirah Allah selalu terbuka lebar untuk hambanya yang mau bertobat dan menyerahkan diri. Dan kita sungguh sangat lemah dan tak berdaya walau sekedar menentukan apakah usia kita masih bisa sampai kepada ramadhan berikutnya.

Kadang tidak habis pikir, kenapa setelah kita mensucikan diri di bulan Ramadhan, kita harus mencemplungkan diri kita lagi ke comberan kehidupan? Kenapa kehidupan yang demikian yang menjadi pilihan kita? Sedangkan jalan yang lurus dan di ridhai Allah masih terbentang luas? Apakah keruwetan hidup telah memuaikan dan melelehka keimanan kita, juga kemanusiaan kita sehingga kita tidak mampu lagi membedakan mana yang harum mana yang busuk?

Manusia adalah Ahsanu At-taqwiim (sebaik-baik makhluk), dan kita sendiri yang memilih untuk menghempaskan diri kedalan status asfala saafiliin (sejelek-jelek makhluk) dan bahkan kal an’aam bal Adhollun (seperti binatang, bahkan lebih jelek).

Merenungi kembali bencana-yang menimpa kita yang sepertinya sangat komplit. Tidak hanya bersentuhan dengan salah satu sisi kehidupan saja, tetapi hampir menyentuh semua sisi kehidupan. Mulai dari bencana alam (kekeringan, kebakaran hutan, banjir daan sebagainya), bencana kecelakaan, bencana ekonomi-keuangan (krisis yang berkepanjangan, harga barang yang semakin melonjak), bencana sosial (kerusuhan-kerusuhan), bencana politik, bencana budaya ( makin dominannya budaya hedonisme, materialistik, sekularistik dan sebagainya), bencana hukum (ketidakadilan, keriminalitas yang semakin meningkat), seharusnya membuat mata kesadaran kita terbuka. Karena apabila hal tersebut belum juga mampu membangunkan kesadaran kita, maka teguran Allah bukan lagi berupa “cubitan”, bukankah kadang manusia dipenthung dulu baru sadar? Dan apabila hal itu betul-betul terjadi, kita hanya bisa melongo dan berkata,” Kog bisa begini?”. Terlambat!

Menyebrang Samudera Tanpa Bahtera

July 21st, 2005 by fitri-asad

Kebangkitan Islam telah lama dicanangkan. Namun, perumusannya boleh dikatakan tetap simpang siur, termasuk apa hakikat kebangkitan Islam itu, bagaimana mencapainya, dan darimana memulainya. Sebagian kalangan memandang kebangkitan Islam harus dimulai dengan dari kebangkitan akhlak, sebagian lain menunjuk kebangkitan ekonomi; Sebagian lagi berkeyakinan bahwa kebangkitan Islam harus dimulai dari sekaligus dicirikan oleh kebangkitan tekhnologi, dan lain-lain.

Sementara itu dalam realita di masyarakat banyak kita jumpai elemen umat yang sudah dan tengah mengusahakan kebangkitan umat berdasarkan visi, persepsi, dan orientasi masing-masing. Tetapi, tidak jarang usaha mereka justru kontraprodiktif dengan kebangkitan Islam itu sendiri.

Saya sependapat dengan yang dinyatakan Dr. Ing. H. Fahmi Amhar, seorang peneliti senior pada Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakorsurtanal), yang juga merupakan dosen luar biasa pada pascasarjana IPB dan Univ. Pramadina. Bahwa kebangkitan umat Islam atau umat Islam dikatakan mengalami kebangkitan bila umat iIslam secara real tidak lagi terjajah, politik mereka benar-benar independent, ekonomi mereka tidak dijerat hutang, hokum mereka bukan hukum imitqsi warisan penjajah, dan budaya mereka tidak membebek pada orang-orang kafir.

Tidak bisa dipungkiri untuk mewujudkan sebuak kebangkitan haruslah diawali dari kebangkitan cara berfikir umat Islam sendiri. Apalagi sebenarnya potensi kebangkitan yang ada di tengah umat Islam saat ini boleh dikatakan besar. Dari rahim umat Islam sedunia sudah lahir berjuta-juta muslim yang memiliki potensi besar, baik sebagai ulama, saintis, teknokrat, ataupun industriawan.

Sayangnya, ibarat sapu lidi, mereka seperti lidi yang bertebaran, tidak diikat agar bisa digunakan secara efektif. Sebagian besar dari mereka justru berkiprah di nereri-negeri Barat seperti Jerman, Prancis, Inggris, AS, dan Jepang. Mereka dikirim kesana untuk belajar sampai meraih PhD. Kemudian mendapati bahwa situasi dan kondisi negeri asal mereka belum siap untuk menggunakan keahlian mereka. Akhirnya mereka memetap di sana. Merekalah yang membuat pesawat di jerman, reactor nuklir di Inggris, atau satelit di AS.

Sesungguhnya peluang bagi kebangkitan umat Islam adalah besar. Saat ini kreadibilitas Barat, terutama AS semakin turun. Mereka tidak konsisten dengan jargon-jargonnya sendiri seperti demokrasi, HAM, dan lain-lain. Untuk jangka panjang mereka juga membahayakan masa depan mereka sendiri, dengan kerusakan ekologi,yang sangat parah di planet ini, akibat ketamakan ideologi mereka. Hubungan sosial di dalam masyarakat mereka juga amat rapuh.

Namun., walau peluang untuk menuju kebangkitan besar, tetapi tantangannya juga tak kurang besar. Dari segala lini, umat Islam sudah di gempur. Sudah berpuluh tahun kepada mereka dicekokkan pendidikan sekular, ekonomi ribawi, budaya ‘membebek’, bahkan kepercayaan yang sinkretis (semua agama sama). Para kapitalis tidak rela keeeepentingan kapitalistik-egoistiknya di masa depan tergugat oleh bangkitnya umat Islam. Karena itu mereka mengerahkan segala cara untuk menghadang Islam ideologis yang mereka ketahui memiliki potensi sangat besaruntuk membawa umat Islam kepada kebangkitan. Sehingga setiap gerakan. Orang yang bersikukuh memperjuangkan ideology Islam mereka tuduh teroris.

Di lain pihak, umat Islam sendiri ketika melihat kemajuan tekhnologi Barat yang memang maju pesat, lantas berpendapat kalau umat Islam hanya akan bangkit dengan tekhnologi. Bagi kalangan ini, kemajuan tewkhnologi adalah syarat sebuah kebangkitan. Padahal sebenarnya tekhnologi bukan syarat kebangkitan.. Karena dimanapun tekhnologi lebih sebagai produk dari proses sosial yang telah berhasil. Walau begitu tekhnologi jelas memiliki peran dalam proses kebangkitan. Sebab meski bukan yang paling mendasar, tekhnologi bisa menjadi titik masuk yang baik untuk dakwah kebangkitan Islam. Eropa sendiri baru menelurkan banyak penemuan teknologi setelah konflik (penguasa) negara dengan (kalangan) agama mereda. Demikian juga, Amerika baru menyusul ketertinggalan tekhnologinya setelah perang saudara yang melelahkan berakhir.

Dalam sejarah Islam, pada masa peradaban Islam memimpin dunia dan ilmuan Islam bermunculan khilafah menempuh strategi tiga jalur sekaligus untuk memajukan tekhnologi; Kesadaran individu kultrural,dan sruktural.

Pada level individu ditanamkan ajaran Islam yang mencintai ilmu dam memerangi takhayul, serta bahwa bila ada sustu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan Sesuatu, maka Sesutu itupun menjadi wajib. Dan sesuatu ini bisa tekhnologi. Misal, jihad hukumnya wajib. Jihad tidak akan sempurna bila tekhnologi pendukung tidak ada maka kaum muslim lalu mengembangkan astronomi (untuk menavigasi armada laut), kedokteran (untuk mengobati mujahidin yang terluka), atau kimia (untuk bikin mesiu / senjata), dsb. Bisa disimpulkan dalam hal tekhnologi khi;afah akan memacu dan mengembangkan inisiatif dan kreativitas individu untuk kemajuan tekhnologi.

Pada level kultutral, disemai opini bahwa menjadi saintis dan teknokrat itu terhormat, baik secara duniawi maupun ukhrawi. Tinta ilmuwan itu, sama beratnya dengan darah syuhada. Walhasil,rakyat jelata lebih mengagumi para ilmuwan, saints, atau teknokrat, dari pada artis atau penyanyi dangdut. Para hartawan pun belum puas sebelum “jor-joran” untuk kemajuan tekhnologi. Mereka wakaf perpustakaan, lab, atau observatorium, lengkap dengan membayar tenaga ahlinya.

Kebijakan pada level individu dan kultural itu tentunya harus didukung strategi ketiga, yaitu pada level structural negara. Pada level ini, negara jelas sangat berperan. Amerika saja bisa sangat maju kartena negara memberi stimulus yang luar biasa. Tekhnologi computer, ponsel, dan internet, semula dikembangkan untuk keperluan petahanan. Dalam negara khilafah, negara sponsor pengembangan jenis tekhnologi yang perlu pethatian lebih. Para ulama atau saints digaji, sekolah-sekolah unggulan dibuka gratis. Ini persis, seperti yang dilakukan Jerman saat ini, di mana sekolah sampai PhD juga gratis.
Walau tekhnologi Umat Islam saat ini tidak semaju Amerika atau Jepang, kaum muslim tetap mampu bangkit melawan musuh-musuh yang menghalangi. Karena masalah sebenarnya terletak pada manusia-manusianya. Tekhnologi bisa dihancurkan dalam sekejap atau dihabisi pelan-pelan dengan embargo. Tetapi kalau yang dimiliki adalah sumberdaya insani yang kuat akidahnya, teguh menggenggam mabda (ideology) islam, dan istiqomah melaksanakan segala perintah syariat yang merupakan konsekuensi mabda dalam waktu singkat kaum muslim bisa menyusul ketertinggalan tekhnologi.

Sejarah masa lalu telah membuktikan ini. Misalnya, dulu tekhnologi Rasulullah jauh di bawah Romawi dan Persia. Tetapi, para Sahabat Rasulullah di bawah naungan sistewm khilafah lkemudian terbakar oleh mabda Islam yang memerintahkan untuk menuntut ilmu, walaupun sampai ke negeri China. Maka Jadi, persoalannya bukan , “Where are you?”, namun “Where we are going to ?” Bukan tekhnologi yang tersedia di dunia Islam sekarang, namun tekhnologi yang akan dikuasai setelah kebangkitan.
Kebangkitan baru bias dimulai bila taraf berfikir umat telah mengalami kebangkitan. Lalu dijadikan pikiran-pikiran yang bangkit itu menjadi opini umum. Kemudian opini umum tersebut akan menjadi perasaan umum yang menyatukan masyarakat. Setelah itu, tinggal mencari kekuatan yang mampu melindungi, menjadi wadah penerapan seluruh syari’at Islam, baik politik ekonomi, pendidikan dan pengembangan teknologi yaitu berupa institusi khilafah. Insyaallah setelah itu kebangkitan akan diraih Islam dan kaum muslim.

Jadi mungkinkah Islam bangkit tanpa sebuah institusi khilafah? Jawabnya adalah: Sulit!. Sama sulitnya membayangkan orang berdiri tanpa kaki atau berenang menyeberangi samudra tanpa bahtera.

Refleksi

July 21st, 2005 by fitri-asad

Tiga anak kecil bersama bapak dan ibunya berdiri mematung memandangi bangunan yang telah menjadi puing di depannya. Bangunan yang dulu megah dan kokoh kini telah rata dengan tanah. Suatu kenyataan pahit yang harus mereka terima.
“Kemana kita pergi sekarang, Pa?” Anak yang paling sulung bertanya.
“Kita tetap di sini, Nak”
“Di tempat ini?”
“Ya!” Jawab bapaknya mantap.
“Dengan keadaan seperti ini?”
Ayahnya mengangguk.
“ Kenapa kita tidak menumpang ditempat orang, Pa”
Laki-laki berumur sekitar 45 tahun itu menatap anak sulungnya yang bertanya tadi kemudian memegang bahu anaknya dan berkata lembut,” sejak kapan Bapak mengajarimu menjadi cengeng? Lihatlah bangunan yang telah runtuh itu. Kita masih bisa membangunnya kembali, walau untuk sementara tidak sekokoh dulu, tapi suatau saat kita bisa merenovasinya menjadi bangunan yang megah dan indah yang kembali dapat menanungi kita semua.
“Mungkinkah itu, Pa?” Mata itu menatap bapaknya tak percaya. Bapaknya mengangguk dan tersenyum.
“Tinggal ditempat sederhana itu lebih baik dari pada tinggal ditempat yang bagus tapi numpang.”
Wajar jika anak tadi bertanya tentang ketidak mungkinan itu. Puing-puing didepannya semakin meyakinkannya bahwa impiannya bapaknya terlalu indah untuk diwujudkan. Ia menganggap bahwa kata-kata bapaknya hanya sekedar untuk menghiburnya. Anak itu tidak pernah tahu bahwa bapaknya masih punya simpanan uang untuk dapat membangun kembali rumah mereka walaupun tidak sekokoh dulu. Tapi setidaknya bapaknya telah mengajarkan kepada anaknya untuk tidak mudah berputus asa, berfikiran skeptis dan terlalu bersandarkan kepada realitas. Sesuatu bisa aja mungkin selama kita mau berusaha. Yang tidak mungkin apabila kita hanya tidur dan pasrah pada nasib. Percayalah bahwa LANGKAH KE SERIBU SELALU DI MULAI DENGAN LANGKAH PERTAMA!!!

******
Barangkali kawan akan bertanya apa maksud saya mengawali tulisan ini dengan analogi seperti di atas?. Jujur, saya hanya ingin menyuguhkan kenyataan yang tak kalah pahitnya dari realitas tersebut yaitu bahwa Umat Islam dulu pernah memiliki sebuah “rumah” yang megah dan kokoh yang menaungi seluruh umat Islam. Tapi apa yang terjadi sekarang? “Rumah” itu telah 81 tahun runtuh sejak runtuhnya Turki Utmani, yang kejadiannya tepat pada tanggal 3 Maret 1924. Yang tak kalah pahitnya lagi (lebih pahit dari oseng-oseng pare) adalah sebagian besar umat Islam tidak mengetahui hal ini. Dari polling yang dilakukan oleh kru Positip ternyata hampir 99% tidak mengetahui apa yang terjadi pada tanggal 3 Maret 1924. Menyedihkan banget kan?
Oh…Kawan bangunlah….matahari telah tinggi. Hapuslah iler kalian, Preteli belek-belek yang menutupi pandangan kalian dan kemudian bukalah jendela kamarmu dan lihatlah apa yang terjadi di luar sana!!!. Maka saya yakin kalian akan kaget melihat kenyataan bahwa sekarang UMAT ISLAM DI JAJAH!!! UMAT ISLAM YANG BANYAKNYA LAKSANA BUIH DI LAUTAN TELAH DI MAMAH DENGAN RAKUS OLEH UMAT LAIN SEBAGAIMANA ANJING-ANJING YANG MENGELILINGI HIDANGAN.
Kalian belum juga menyadarinya? Wah payah banget! Terlalu!
Kalau memang demikian yang kawan alami, maka segeralah kawan cuci muka berwudlu dan tersungkurlah, beristigfar mohon ampunan kepada Sang Ilahi, karena kalian telah lama tertidur dan betul-betul tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan nasib Umat Islam sekarang. Mohon ampunlah, karena Rasul junjungan kita telah bersabda bahwa barang siapa yang ketika bangun pagi tetapi tidak memikirkan nasib umatku, maka bukan termasuk golonganku.
Camkanlah kawan, kemana lagi kita mencari tempat perlindungan, tempat untuk di mohonkan syafaat kalau bukan kepada baginda Rasulullah. Tapi apa yang dapat kita lakukan ketika Rasulullah tidak mengakui kita sebagai umatnya?
Hiksss…(terdengar isak tangis di pojok sana)
udah..udah…bukan saatnya menyesali diri. Saatnya sekarang kita buka mata, buka telinga, buka hati dan kemudian dengan berbekal potensi yang ada dalam diri kita bersama dalam satu barisan untuk kembali mengangkat derajat kaum muslimin di mata dunia sebagai umat terbaik. Gimana? Siap?!!! (Siap boss!) Nah gitu dong. Ini baru generasi militan!

*****
Kawan, fakta tentang begitu mengenaskannya nasib kaum muslimin berceceran di mana-mana. Yang baru-baru ini yang masih segar bugar dalam ingatan kita adalah infasi Amerika terhadap Irak di susul kemudian Iran. Kekejaman yahudi terhadap saudara kita di palestina, afganistan dan Negri-negeri muslim lainnya. Tak terhitung berapa gallon sudah darah yang tumpah dari saudara kita kaum muslimin. Berapa Drum sudah air mata yang terkuras dari ayah yang ditinggal anaknya,dari ibu yang di tinggal buah hatinya, dari suami yang di tinggal istrinya, dari istri yang ditinggal suaminya. Sungguh tak terhitung kawan!
Di Indonesia sendiri pegimane? Eiiit…Jangan dikira aman dulu. Kalau kawan menyangka bahwa Indonesia bebas dari “penjajahan” Kaum kafir imprealis, berarti kawan salah besar (Maaf atas vonis ini). Kaum kafir imprealis (As dan konco-konco setianya) telah mencengkramkan taringnya di Indonesia dengan melalui jeratan utang. Berapa utang kita? $83,5 miliar Man (Rp. 616,63 triliun)! Itu adalah jumlah yang sangat besar (apalagi dibandingkan dengan kita yang masih di subsidi oleh ortu). Nah, dengan utang itu mereka dengan enaknya mendikte Indonesia (pemerintahnya).

****
Dalam sebuah diskusi dengan teman-teman di sebuah kedai kopi tak jauh dari kos kami terlibat pembicaraan seru. Intinya ialah sikap skeptis mereka terhadap perkataan saya yang mengatakan bahwa hanya dengan suatu khilafah (Daulah Islamiyah) Islam dapat diterapkan secara totalitas (kaffah). Menurut saya (dalam diskusi tersebut) adalah sutu kebohongan besar jika kita menginginkan kelanjutan kehidupan Islam yang mencakup seluruh sendi kehidupan jika kita masih hidup dalam system kufur produk otak udang manusia.
Diantara argument yang dilontarkan untuk menolak system khilafah adalah alas an sejarah. Sejarah Khilafah digambarkan sebagai fragmen kehidupan yang penuh darah, kekacauan, dan konflik. khalifah yang otoriter dan diktator, pembunuhan yang terjadi pada masa khulafaur-rasyidin , dan perlakuan Islam yang diskriminatif terhadap non-Muslim dan Wanita. (Jujur pernyataan ini juga yang saya lontarkan ketika pikiran-pikiran saya masih di selimuti virus realitas zaman kepada pemateri dalam kajian Islam kontemporer yang diadakan rutin oleh LDK Unlam, dari jawaban pemateri itulah kemudian saya bisa menjawab pertanyaan teman saya dalam diskusi di warung kopi saat itu, saat hujan mengguyur Banjarmasin)

Lewat media jelek ini (dengan segala keterbatasan saya tentunya, juga keterbatasan space yang diberikan kepada saya ) saya mencoba menjelaskan bahwa ada beberapa kesalahan mendasar dari argumentasi di atas, Pertama, kesalahan dalam menempatkan posisi sejarah Islam. Perlu diketahui bahwa kewajiban menegakkan khilafah bukanlah didasarkan pada argumentasi sejarah. Artinya sejarah bukanlah dalil untuk menerima atau menolak system khilafah. Dalam Islam yang menjadi dalil syari’at adalah al_qur’an, as-Sunnah, Ijma’ Sahabat dan Qiyas. Karena itu kewajiban Khalifah haruslah merujuk pada empat dalil tersebut.

Namun bukan berarti kenyataan sejarah tidak ada artinya sama sekali. Kita juga diharuskan untuk menengok sejarah masa lalu untuk dapat digunakan sebagai perenungan. Dari sejarah kita mengetahui apakah hukum-hukum syari’at Islam tersebut telah dilaksanakan atau tidak; apa akibat kalau hukum-hukum syari’at tesebut tidak dilaksanakan. Sebab, manusia sebagai pelaku hukum-hukum syari’at adalah tempat salah dan khilaf begitu juga dengan para khalifah. Satu-satunya yang ma’shum yang tidak mungkin keliru adalah para Nabi dan Rasulullah.
“Intrupsi…kalau gitu dalam penerapan system sekuler pun (system kapitalis atau sosialis dengan sistem cabangnya yang berupa Demokrasi, HAM, Pancasila de el el) itu juga tidak salah. Yang salah adalah orangnya, bukan sistemnya”
“Hmm.. gitu ya? Maaf, boleh saya lanjutkan dulu penjelasan saya, baru saya jawab pertanyaan Anda?”
“Yup”
(Menarik nafas panjang sambil menyeruput teh hangat ) Oh, ya sampai di mana tadi penjelasannya?”
“tentang kesalahan mendasar dari argumentasi penolakan mereka terhadap system khilafah”
Okey saya lanjutkan, sebagai system yang dipraktekkan oleh manusia, system khilafah adalah system politik yang manusiawi. Karena itu, dalam berbagai praktik system khilafah, bisa saja terjadi kekeliruan. Namun yang penting dicatat di sini adalah bahwa penyimpangan yang dilakukan oleh khalifah atau pejabat Negara, bukan berarti menunjukkan bahwa system khilafahna salah dan keliru. Tidaklah relevan menyalahkan system yang ideal dengan melihat kesalahan dari pelakunya.

Contoh sederhana adalah memandang Islam sebagai agama yang buruk hanya karena melihat prilaku sebagian para pemeluknya saat ini. Di Indonesia, misalnya, pembunuh, pemerkosa, garong, koruptor banyak yang berlebel Islam, tapi apakah itu berarti bahwa Islam menganjurkan untuk membunuh, memperkosa, mencuri, menyabet milik orang lain yang bukan haknya, korup dan sebagainya? Tentu tidak kan?

Kawan, kita jangan terjebak pada generalisasi. Maksudnya, menyimpulkan bahwa system khilafah sebagai system yang buruk hanya dengan mengungkap beberapa fakta sejarah. Beberapa fakta sejarah tentang sikap Khalifah tidaklah mencerminkan keseluruhan dari system khilafah tersebut. Apalagi yang dilakukan oleh khalifah tersebut adalah bentuk penyimpangan dari system khilafah yang benar. Tentu keliru menggambarkan masa pemerintahan Bani Umayah dengan hanya memfokuskan sejarah seorang Yazid atau menggambarkan masa pemerintahan Bani Abbas hanya dengan mengambil sebagian peristiwa dan tingkah laku para khalifahnya. Apalagi yang menjadi fakta sejarah adalah buku-buku sejarah yang dibuat oleh musuh-musuh Islam yang nyata kebenciannya terhadap Islam.

‘Gimana? Kamu setuju?”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, kawan,”
“Oh, tentang system sekuler. kawan percaya dengan ungkapan bahwa yang salah dari system itu hanyalah pelakunya? Bukan sistemnya?”
“yup,”
“Apa landasan kawan mengatakan demikian?”
Sejenak dia terdiam menatap cicak dengan ekor terputus yang sedang melintas.
Setelah menyeruput teh yang mulai dingin aku mulai angkat bicara lagi. Ku tatap manik-manik matanya.
“Kalau kawan tidak mempunyai landasan yang membenarkan argumen anda bahwa system sekuler hanyalah kesalahan pelakunya bukan sistemnya, berati argumen anda lemah. Kalau saya selama napas belum lepas dari ubun-ubun tetap tidak akan sudi berteduh di bawah system sekuler kapitalis yang nyata-nyata tidak pernah memberi keteduha itu”
“Kamu terlalu berteori kawan, coba terangkan alasan yang masuk akal”
“okey, (kembali kutatap manik-manik matanya). Yang membuat system sekuler itu siapa?” manusia kan? Bagaimana mungkin kawan mengimani system buatan manusia yang tempat bercokolnya salah dan khilaf, yang pengetahuan hanya seupil dibandingkan dengan ilmu Allah?”
Sepi
“Bagaimana mungkin seorang manusia bisa membuat aturan tentang manusia sebumi, sedangkan dia sendiri terikat oleh waktu dan ruang. Akalnya terbatas, dan indranya hanya mampu menjangkau jarak berapa meter?
Dingin
Bagaimana mungkin seorang manusia bisa membuat aturan yang sempuna, sedangkan dirinya sendiri terkungkung oleh sejuta keterbatasan?”
Gerimis mulai turun satu persatu.
“Setolol-tololnya orang yang membuat aturan tadi, masih lebih tolol yang membebek aturan tersebut”
Dia tersentak, mukanya memerah.
Maaf, kawan….

Karena Kita Bukan Kodok!

July 21st, 2005 by fitri-asad

Hanya kodok yang terus menerus merasa asyik berkubang dalam panci walau panci itu berisi air yang mendidih terjerang panas. Sungguh, betapa malanganya kita jika bangga menjadi warga kodok yang tidak siap menghadapi gelombang perubahan (Setiawan Djody)

Kita tidak perlu takut dengan perubahan. Karena kehidupan tidak pernah stagnan. Selalu bergerak tanpa mampu kita cegah. Dari zaman primitif-tradisional, industri-modern, dan kemudian kita akan memasuki masa post industrial, gelombang ketiga, dan yang paling menggemparkan adalah globalisasi. Dan kita pun bakal memasuki era post capitalism, post structuralism, post modernism yang kita kenal dengan posmo (mengutip berbagai pendapat kaum futuristik Daniell Bell, Alvin Toffler, dan John Naisbitt). Ah..sepertinya hidup selalu bergerak linier, dan tidak memberikan kesempatan bagi kita untuk menoleh ke belakang. Padahal itu perlu, setidaknya untuk renungan.
Dari perubahan-perubahan yang meledak-ledak ini, saya sendiri sering mempertanyakan : What change? Perubahan yang sekedar berubah inikah yang sejatinya di sebut perubahan?
Apa pun jawabannya, perubahan adalah keniscayaan! Seperti peristiwa yang digambarkan dalam teori catastropy pada ilmu matematika.
Pertanyaan sentral sekarang adalah: Dimana peran umat Islam di tengah-tengah perubahan yang menimbulkan ledakan-ledakan sejarah tersebut?
“Sebagai pecundang!” Celetuk Ceplik yang tiba-tiba muncul dari balik tirai gerimis.
Tentu tidak! Umat Islam pernah memegang kendali peradaban selama berabad-abad. Dan dunia mengakui (kalau mau jujur) betapa besar kontribusi umat Islam terhadap kemajuan peradaban.
Timbulnya gerakan kebangkitan kembali (renaissance) yang terjadi pada abad ke –14 tidak bisa lepas dari pengaruh Islam yang mulai memasuki wilayah Eropa. Orang-orang Islam berhasil menyelamatkan pusaka Yunani, dipelihara lalu diterjemahkan ke bahasa Arab. Dari bahasa Arab kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Spanyol. Dengan berpusat di Spanyol, kebudayaan dan ilmu pengetahuan Islam bergerak mempengaruhi kehidupan Eropa. Maka terjadilah kebangkitan kembali Eropa. Kebangkitan menuju dunia ilmu pengetahuan yang maju serta tata budaya yang tinggi.
Rasionalisme pada abad ke –17 dengan tokohnya Rene Descartes dan John Locke, dan Pencerahan Baru atau Aufklarung pada abad ke-18 dengan dedengkotnya Voltaire, Montesque, Leibniz dan lain-lain semuanya adalah akibat dari penggalian kembali pusaka yunani oleh Islam. Eropa mengenal Khazanah ilmu filsafat Yunani adalah dari terjemahan-terjemahan Arab. Bukan itu saja, tapi Eropa bangkit juga karena pengaruh pemikiran murni muslimin Arab yang masuk bersama terjemahan-terjemahan tersebut.
Terhadap kontribusi besar yang diberikan Islam, Eropa telah bersikap tidak jujur kepada dirinya sendiri dan juga kepada dunia tentang sumber-sumber peradaban dunia modern yang dibangunnya. Padahal industri mustahil tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan ilmu pengetahuan dan teknologi mustahil tanpa induksi-deduksi dan metode percobaan yang datang dari Islam.
Tapi tidaklah semua orang Barat bungkam mengenai kebajikan-kebajikan Islam. Pujangga besar Percy Bysshe Shelly dan George Bernard shaw dari Inggris serta Johan Wolgang Von Goethe serta banyak lagi yang lain, termasuk Napoleon Bonaparate, telah jujur mengakui kebajikan-kebajikan Islam.
Napoleon Bonaparte bahkan dengan lantang bilang,” selama abad-abad pertengahan, sejarah Islam adalah sejarah peradaban sepenuhnya. Berkat keuletan kaum musliminlah maka ilmu pengetahuan dan falsafah yunani tertolong dari kebinasaan, dan kemudian datang membangunkan dunia barat serta membangkitkan gerakan intelektual sampai pada pembaharuan Bacon. Pada abad ke –7, ketika Dunia Lama itu sedang dalam sakaratul maut, Islam datang memberikan darah baru. Muhammad memberikan kepada mereka sebuah Qur’an yang merupakan titik tolak ke arah dunia baru”. Wow, mereka aja mengakuinya, kenapa kita malah gak pede dengan status keislaman kita?!
“Alaaaahh….bukan saatnya bernostalgia, Neng! Sekarang kondisi umat Islam gaimana? Tak lebih seperti ‘roti sandwich’ terhimpit di antara kekuatan raksasa, kapitalisme modern dan komunisme modern, tanpa bisa berbuat apa-apa. Pun untuk keluar dari himpitan tersebut. Anehnya lagi , mereka bahkan betah” Lagi-lagi Ceplik nyeletuk tanpa di minta.
Jujur, saya mengakui bahwa ceplik benar (mudah-mudahan dia tidak geer) Kenyataan pahit yang harus kita akui memang. Kondisi umat Islam sekarang tak lebih seperti ‘roti sandwich’. Terjepit!. Umat Islam terpuruk ke lembah yang sangat dalam karena telah menanggalkan ajaran agamanya, dan memisahkannya dari kehidupan. Mereka memilih untuk menjadi robot girang (the cheerful robot) yang bergerak mengikuti irama gendang yang ditabuh Barat. Memilih untuk membebek sabda pemikiran-pemikiran jahiliyah modern dan mengadopsinya menjadi pandangan hidup tanpa reserve. Menyedihkan!
“Melihat kenyataan yang demikian apa yang harus dilakukan umat Islam? Berdiam diri dan menjadikan kejayaan Islam dulu hanya sebagai kenangan sejarah? “.
Tentu tidak! Berjuang untuk membangkitkan kembali pilar-pilar Islam yang dulu pernah berdiri kokoh adalah suatu keharusan. Dan umat Islam kembali memegang kendali sejarah.
“Tapi kapaaaan, ?”
Segera!
“Caranyaaaa?”
“Waduh, sabar dong ceplik!”
Ceplik nyengir sambil terus mengunyah singkong goring.
Yah, tentu saja dengan membongkar pemikiran-pemikiran sekuler yang telah dicekoki kaum kafir imprealis kepada umat Islam.dan membangun kesadaran umat untuk kembali ke ajaran agamanya secara totalitas seperti firman Allah “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan, sebab sesungguhnya syaitan musuh yang nyata bagi kalian (TQS. Al-Baqarah (2):208) dan
“Huh…teorimu”.
Maaf kawan, bukan maksudku beretorika atau apapun. Saya hanya ingin memaparkan fakta barangkali masih ada sedikit keinginan dari umat Islam untuk bercermin, dan kemudian menyadari betapa mengenaskannya “tubuh” umat Islam sekarang.
Tubuh ummat Islam yang diibaratkan satu tubuh, kal jasadil wahidi, kata Rasul, kini telah tercabik-cabik menjadi keratan-keratan kecil. Kaum muslimin yang dahulunya hanya memiliki satu kepemimpinan dalam daulah khilafah Islamiyah kini dipecah-pecah oleh kafir imprealis menjadi dunia Arab dan dunia muslim non Arab. Dunia arab kemudian disayat-sayat menjadi 23 negara. Sementara itu dunia Islam di kerat-kerat menjadi belasan negara kecil-kecil. Negara yang kecil-kecil itupun disuwir-suwir lagi. Contohnya, Melayu dipecah menjadi Malaysia dan Indonesia. Malaysia pun dipecah lagi menjadi Malaysia dan Singapura. Di Indonesia sendiri, gema separatis masih terdengar di mana-mana. Aceh dan Maluku. Timor timur sudah lepas. Akibatnya adalah umat Islam pun terpisah satu sama lain. Tersekat-sekat oleh negara dan paham nasionalismenya masing-masing. Umat Islam menjadi tidak perduli lagi dengan kondisi saudaranya di belahan bumi yang lain. Contoh kecil, saat muslim palestina terus digempur, rumah-rumah mereka digusur, beribu-ribu orang diusir dari tanah mereka sendiri, jamaah masjid dibantai saat menunaikan shalat subuh, dan perjanjian perdamaian hanyalah sebatas batu loncatan penuh penghianatan, pemerintah negeri kaum muslimin hanya diam membloonkan diri. “ Kita tidak boleh mencampuri urusan dalam negeri negara lain” Alasannya. Bah!
Jelasnya, dengan nasionalisme, persaudaraan antar muslim sangat dibelenggu oleh batas-batas hukum dan teritorial. Apa yang bisa dilakukan oleh tubuh yang telah tercabik-cabik? Tidak ada! Umat Islam yang laksana buih di lautan banyaknya tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi kekejaman Israel-yahudi yang negaranya cuma seupil.
Itu baru contoh kecil teror-teror kaum kafir imprealis yang diinjeksikan ke tubuh umat Islam. Contoh lain lagi, kapitalisme di bidang ekonomi yang menyebabkan umat Islam menjadi miskin di negaranya yang kaya raya. Karena kekayaan itu hanya dinikmati oleh segelintir orang saja, yaitu penguasa dan pemilik modal. Belum lagi pembaratan budaya yang membombardir kehidupan umat Islam, destruksi aqidah dan syari’at dan masih banyak lagi yang lain.
Sekali lagi, berdiam diri bukan pilihan yang tepat. Karena itu adalah kepengecutan dan kekerdilan. Saatnya kita bangkit dan membangun kembali pilar-pilar Islam yang telah 81 tahun ambruk (setelah runtuhnya Turki Utsmani) menjadi bangunan yang kokoh yang dapat menaungi seluruh kaum muslimin dan seluruh umat manusia pada umumnya.
“Mungkinkah?”
Sangat mungkin, karena saya yakin kaum muslimin tanpa ragu akan memberikan tangannya, berangkulan pundak dan kemudian kita bersama-sama membangun kembali pilar Islam tersebut.
Umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan di muka bumi. Bukan umat bermental kodok yang terus merasa asyik berkubang dalam panci, walau panci itu berisi air terjerang panas.
“Kamu menyindirku ya?”
Maaf kawan, kebenaran harus disuarakan walau itu pahit. Bagi yang berhati,…renungkanlah!

Tidak ada pilihan lain
Kita harus berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku ?”

Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus.
(Diambil dari buku Tirani dan Benteng)