Letih
November 7th, 2005 by fitri-asadKadang letih menjelma nyata dalam kenadiran diri
Letih untuk mengepakkan kembali sayap ini
letih tuk menengadah ke angkasa menantang langit
tapi, iman di dada melonjak-lonjak mencari pemenuhan yang hakiki
setengah tersungkur dalam
ku coba menjahit keping semangatku yang entah berceceran di mana
walaupun tak sempurna
banyak tanya yang terselip dalam serat-setar syarafku
tanya yang kadang menuntunku ke dalam keraguan tentang impian sebuah negeri yang kita perjuangkan
sepi juga kadang mencumbuiku
menyeretku utnuk bersembunyi dari kawan-kawan
yang selalu mengingatkakanku tentang langit yang masih pekat
oh…….aku kadang ingin tidur lelap
bersama impian-impian pribadiku
apakah aku salah???
kalau itu yang sering hadir
oohhh…toloooooooooooong
(bersama senja, di depan komputer, ditemani asap rokok yang mengusik rongga hidungku)
maaf…
November 7th, 2005 by fitri-asadUntuk j or P
Maaf…
jika yang kuingat darimu hanya sebentuk kebohongan
bahkan lebih dari itu
sedetik sebelum saat ini
November 5th, 2005 by fitri-asadKetika, sebuah jelaga
Anggun luruh pada semesta
jutaan bias makna berpendar
mengelilingi tanya abstrak
sebuah pencarian makna
moksa
diri ini menemui titian yg fana….
Pencarian Abstrak
October 30th, 2005 by fitri-asadKusibak getir yang tercekap lama
-ada yang tiba-tiba beku-
kelu pada satu sisi
Menohok terdalam ruang yang berbaur hampa
semuanya perlahan keropos
Tanpa makna
-ruh hanya terjaga dalam sepi-
Meniti kabut
Tak akan pernah selesai
mencari sebuah realita yang tak sekedar bayang kabut
-hingga senja pun berlumut-
Yang sempat terekam oleh benak
-kalut ini bukan jawaban atas sebuah pencarian-
Surat Untuk Seorang Saudara
October 19th, 2005 by fitri-asadالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته بسم الله الر حمن الرحيم
UKHTI, ANA NGERTI K’LO NT GA SUKA JIKA ADA YANG MENGGUNAKAN KATA KITA. “MENYAMARATAKAN SEMUA”, KATA NT, “PADAHAL KAN GA MUNGKIN JUGA ANA DAN NT SAMA.” TAPI, UKHTI, ANA SUKA DENGAN KATA KITA. KATA INI MENUNJUKKAN KETIDAKSOMBONGAN. KETIKA ANA MENGGUNAKANNYA, KONTEKS KALIMATNYA NUNJUK UNTUK SEMUA. BISA ANA, NT, ATAU ORANG LAIN.
ITULAH INDAHNYA PERBEDAAN. HANYA SATU KATA (KITA). NAMUN, ADA NUANSA YANG BERBEDA KETIKA DI DENGAR OLEH DUA ORANG.
BEGITU JUGA KETIKA KITA MENGIKAT TALI PERSAUDARAAN DENGAN MUSLIMAH LAIN.PERSAUDARAAN INI MENYATUKAN DUA HATI YANG BERBEDA KARAKTER. BANYAKNYA PERBEDAAN JANGAN SAMPAI MEMBUAT KITA TERPECAH. MEMBUAT KITA BERMUSUHAN.
DISINI ANA INGIN MELIHAT LAGI APA SEH YANG NYATUIN KITA SELAMA INI?? APAKAH BENAR KITA BERSATU KARENA KITA MELETAKKAN DASAR IKATAN BERSATUNYA KITA ADALAH IKATAN AKIDAH. SEPERTI RASULULLAH DAN PARA SAHABAT YANG BERSATU, MENEGAKKAN KALIMATULLAH DI BUMI ARAB, PADA MASA AWAL KEBANGKITAN ISLAM. ATAUKAH IKATAN YANG MENYATUKAN KITA TERNYATA ADALAH IKATAN PERASAAN?? IKATAN YANG SANGAT RAPUH ITU.
JIKA TERNYATA KITA MENGAMBIL IKATAN PERASAAN SEBAGAI JAWABAN, MAKA SECEPATNYALAH KITA HARUS MENGEMBALIKANNYA KEPADA DASAR IKATAN YANG BENAR, YAITU IKATAN AKIDAH. KARENA IKATAN INI TIDAK AKAN PERNAH MEMBUAT KITA TERPECAH BELAH. JIKA PUN TERNYATA JAWABAN KITA ADALAH IKATAN AKIDAH MAKA KITA HARUS SEGERA MENGINTROSPEKSI DIRI KITA. BENARKAH ITU?
SEANDAINYA IKATAN AKIDAH YANG MENGIKAT APA MUNGKIN KETEGANGAN INI TERJADI? APA MUNGKIN KITA AKAN SALING MENGACUHKAN? APA MUNGKIN KITA TIDAK SALING MEMUHASABAHI, MENASEHATI, DAN MENGINGATKAN? SEBAGAI PENGEMBAN DAKWAH YANG MERUPAKAN PENGGERAK UMAT MENUJU KEBANGKITAN, TIDAK SEMESTINYA KITA TIDAK BISA MENYELESAIKAN MASALAH KECIL INI. JIKA DIBANDINGKAN DENGAN MASALAH UMAT YANG LAIN. BETAPA SEPELENYA MASALAH INI. MASIH BANYAK YANG MESTI DIPIKIRKAN.
INGAT!! KITA ADALAH PENGGERAK . KITA ADALAH API YANG MEMANASKAN SEMANGAT UMAT UNTUK MENGGAPAI RIDHO ALLAH. KITA INGIN KAN MENJADI INSAN YANG MULIA. INSAN YANG DICINTAI OLEH ALLAH. DAN INSYA ALLAH KITA TERMASUK INSAN YANG MULIA.
NAMUN TERNYATA MENJADI SEPERTI YANG KITA INGINKAN ITU TAK SESEDERHANA MEMBALIK TELAPAK TANGAN. SEMAKIN KITA MENUJU KE TUJUAN ITU, KITA SEMAKIN MENDAPAT BANYAK UJIAN SEBAGAI REFLEKSI KECINTAAN ALLAH KE KITA. DAN ITULAH YANG MENYADARKAN ANA.
KITA SEDANG DIUJI, UKHTI. MAKA BERSABARLAH….
INSYA ALLAH KITA AKAN MENDAPATKAN PAHALA ATAS KESABARAN KITA. JANGAN PERNAH KITA MENGELUH ATAS APA YANG MENIMPA KITA. JANGAN PERNAH KITA BERSUUDZON KEPADA ALLAH. ALLAH LAH YANG MENGETAHUI HAKEKAT KEBAIKAN YANG SEBENARNYA UNTUK UMATNYA. ALLAH PUN TELAH BERFIRMAN BAHWA DIBALIK KESUSAHAN AKAN ADA KEBAIKAN. YAKINLAH ITU….
AFWAN JIKA SELAMA INI SEBAGAI SEORANG SAUDARA ANA SERING MENGAMBIL HAK NT UNTUK MENDAPAT NASEHAT, DAPAT MUHASABAH, DAPAT KERAMAHAN SAUDARA, ATAUPUN DAPAT SENYUM TULUS SUDARANYA. AFWAN SEKALI LAGI JIKA KATA KITA MEMBUAT NT JENGKEL
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
(Sok Bgt Gue…:P)
Rakyat
September 5th, 2005 by fitri-asadHartoyo Andangjaya menulis tentang rakyat dalam salah satu sajaknya yang berbunyi:
Rakyat ialah kita
Jutaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi tanah tercinta
jutaan tangan yang mengayun bersama
membuka hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik kota
mereba kelam di tambang logam
dan batu bara menaikkan layar menebar jala
rakyat ialah tangan yang bekerja
………………………………………..
rakyat ialah kita puisi kaya makna di wajah semesta
Kalau Hartoyo menekankan rakyat dengan “kita”, Rendra malah menggugat, dan dengan lantang mengatakan bahwa rakyat bukan “kita”. Gugatan itu dituangkan dalam sajak “pernyataan dari rakyat” :
Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu
karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan
maka kita bukan sekutu!
Karena kami dibungkam
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
Maka kami bilang tidak kepadamu!…..
Terjadi kontradiksi antara kedua sajak tersebut. Rakyat dalam pandangan Hartoyo lebih kepada tataran “idea” sedangkan rakyat dalam pandangan Rendra adalah dalam tataran “reality”. Hal yang harus disadari memang, bahwa antara “idea” dan “reality” antara “conception” dan “creation” tidak selamanya selalu seiring sejalan. Antara wacana dan sector riil, antara yang “di atas meja” dan yang “di bawah meja” kadang selalu tercipta jarak.
Siapakah rakyat itu?
Dalam bahasa latin, Rakyat biasa disebut populis. Dalam bahasa inggrisnya sering disebut people. Dalam konteks keindonesiaan? Masih menjadi teka-teka silang. Bingung. Karena pengertian rakyat di Indonesia bisa berbeda-beda sesuai dengan kepentingan. Seperti perseneling yang dengan mudah diganti-ganti oleh sopir.
Rakyat dalam Undang-undang Dasar 45 adalah pemegang kedaulatan tertinggi, sehingga disebutkan pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Ini sejalan dengan pandangan Hartoyo Andanjaya bahwa rakyat ialah kita. Tapi pada perjalanan selanjutnya kata rakyat mengalami pergeseran makna. Kata rakyat sering dilekatkan kepada kelompok masyarakat yang tidak mempunyai cukup kekuatan atau legitimasi untuk secara gampang memerintah orang lain begitu saja. Kata rakyat bergeser nilainya menjadi wong cilik, akar rumput kering yang selalu terinjak sepatu. Bahkan pada rezim sebelumnya, rakyat sering dianggap sebagai duri-duri tajam yang harus disingkirkan. Diburunya wiji thukul, penyair solo yang merupakan ketua jaringan kesenian Rakyat (Jaker) karena dicurigai sajaknya menyuarakan sosialisme-komunisme sebab didalam sajaknya banyak menyebut kata “rakyat” merupakan fakta gamblang tentang hal ini (lha! apa kaitannya kata “rakyat” di Indonesia dengan sosialisme-komunisme?)
Dalam struktur hirarki, rakyat selalu menempati bagian alas. Kelompok yang tidak pernah naik kelas. Kelompok yang harus rela di pecundangi dan di gencet-gencet oleh mereka dari kelompok atas dalam hal ini kaum elit atau penguasa. Dalam distribusi kekayaan alam (namanya saja di posisi alas ) yah, harus rela mendapat ampasnya. Itupun kalau masih ada ampasnya. Apesnya lagi, kadang nasib rakyat seperti kata pepatah, tidak makan nangkanya dapat getahnya. Tidak menikmati kekayaan alamnya, ketiban utangnya.
Wacana tentang rakyat memang selalu mengandung polemik, membutuhkan waktu yang panjang dan melelahkan. Apakah pengertian rakyat itu tertuju kepada seluruh penghuni negeri ini, termasuk juga penguasanya, pengusahanya, koruptornya, malingnya, garongnya, tukang becaknya, penjual jamu gendongnya, ataukah pengertian rakyat hanya tertuju kepada mereka yang menjadi korban gusuran untuk gedung-gedung bertingkat milik konglomerat, mereka yang hidup di daerah kumuh, mereka yang sering di eksploitasi tenaganya oleh pihak perusahaan dan hanya mendapat upah pas-pasan, atau mereka yang tinggal dipedalaman yang tidak kebagian listrik dan pembangunan jalan yang layak?
Malas rasanya memperdebatkan tentang siapa dan apa itu rakyat, toh akhirnya kita juga sepakat bahwa dari dulu dan barangkali akan terus berlanjut entah sampai kapan, di mana-mana rakyat telah dikondisikan untuk manut, taat dan patuh. Dikondisikan untuk harus mendengar apa kata elit atau penguasanya tanpa boleh membantah sedikitpun. Tak jarang perintah dari sang penguasa hampir menjadi firman suci yang mutlak harus dilakukan. Bahkan konsekuensi jika tak menjalankan perintah dari para penguasa, secara psikis, sering terasa lebih menakutkan dari pada konsekuensi tidak menjalankan perintah Sang Khaliq. Iya, memang demikian, karena konsekuensi tak menjalankan perintah Sang Khaliq, sering dianggap remeh, karena ganjarannya dianggap nanti akan datang pada suatu masa.
Lebih baik sekarang kita menengok Mang Karun , tukang becak yang sering kena gusur karena alasan ketertiban kota dan sama sekali tidak menyimpan harta karun seculipun, yang sedang sibuk membuat Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Keluarga (RAPBK) selama satu bulan. Penghasilan : Tidak tetap, tergantung nasib. Pengeluaran : - Biaya makan untuk lima orang. Kalau 1 hari = Rp. 20.000 (menu tempe, sambel trasi plus krupuk), Kalau sebulan =Rp. 600.000,- - Biaya spp untuk ketiga anaknya di hitung rata-rata 20.000 (itu sudah yang kelas pinggiran), sebulan =Rp. 60.000,- - Biaya transportasi tiga orang anaknya pulang pergi sekolah, 1 0rang Rp 3000 x 3=9000 sehari. Kalau sebulan Rp. 270.000,-
Malang nian nasib Mang Karun. Dia keburu pingsan karena sesak nafas sebelum sempat menghitung biaya sewa kontrakan, beli minyak tanah untuk lampu teploknya, biaya perbaikan becaknya, dan sebagainya. Setelah siuman, Langit di atas kepala Mang Karun nampak semakin pekat. Sepekat kopi pahit yang dia minum setiap pagi. Harapan-harapan yang dia pancang tinggi harus di robohkan. Impian-impian manis yang dia kulum, terpaksa dia muntahkan. Sedangkan perut semakin tidak pernah kenal kompromi, dan perubahan yang dia harapkan hanya sekedar mimpi.
Penguasa yang seharusnya menjadi pelindung rakyat malah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang semakin tidak memihak rakyat. Wakil-wakil rakyat yang seharusnya menjadi aspirator rakyat malah mendukung dan gelinya lagi, mereka malah meminta tambahan gaji. Pernyataan-pernyataan para menteri semakin membuat dada yang sudah sesak menjadi semakin sesak. Subsidi yang cuma seupil-upil dicabut dengan alasan APBN sudah sekarat.
Kalau rakyat terus-terusan di subsidi, rakyat nantinya tidak kreatif, tidak mandiri, sebaiknya rakyat tidak di beri ikan, tapi di beri pancing, kata mereka. Duhai, jangan menghina rakyat dengan memberi pancing, sedangkan kali-kali yang akan dikail sudah kering dikeruk oleh kaum kapitalis.
Ah…Mang Karun tak mau berlama-lama berkeluh kesah. Dengan sisa-sisa nafasnya dia berusaha menyulam benang-benang asanya yang sudah rapuh dan koyak menjadi rajutan baru dan dengan keyakinan bulat bahwa dia masih punya tuhan yang selalu mendengar ratapan hambanya yang terzhalimi oleh penguasa. Ratapan yang mempu meretakkan langit yang semakin tua dan rapuh.
BIar Saja
September 3rd, 2005 by fitri-asadBiar saja…..
Dunia ini terus berputar,
dan mata angin tetap pada tempatnya,
sebab kita terlalu banyak alpa,
menginsafi tangga tangga hijau,
yang telah mengingkari syurga….
EPISODE
September 3rd, 2005 by fitri-asadKurengkuh mimpi bersama aliran darah
untuk luka yang tak pernah kering
biaskan aroma amis di tiap pernjuru mata angin
Muak!!! teriakku
Dalam perih ku coba menyusun keping keping asa
karena langit masih menampung harap
dari jiwa jiwa yang bergetar mengharapkan tetesan kasih
tuk hapuskan dahaga
dalam ragu ku untai do’a
"Ya Rahim, Bawalah aku kembali ke jalan_Mu"
nyekek!
September 3rd, 2005 by fitri-asadnyekekkkk!!!
“Fren, kita kabur, yuk….!”
“Ayo. Mumpung penjegal uang 500 perak ga kliatan alis shinchannya” sobatku membalas.
Tengok kanan kiri, berputar ke belakang….
Hup… “Cepetan…” gw ambil helm dan dengan seluruh kecepatan yg gw miliki (apaan?) gw putar Majeeda (motor gw).
Yach… kalah cepat deh dengan abang tukang parkir yang berlari2 menghampiri kami. Gw ma temen gw langsung ketawa, ketahuan mo kabur. Hehe…he….
“Mba…” dia negur kami dengan wajah innocent-nya. Pasti tuh orang bingung ngeliat kami ketawa. Gw cuek ajah, pura2 ga denger. Kalo bosen nunggu pasti dia menjauh dan selamatlah uang 500.
“Mba…” dia negur lagi.
Hhhh…. Dengan berat hati gw kasih juga uang 500 perak ke dia. Benci bangget. Tapi, moga ada hikmahnya.
Nyekekk… hampir tiap tempat ada si abang tukang parkir. Gw harus nyisihin uang 500 perak hanya untuk numpang tempat naruh Majeeda walo cuma 5 menitan. Di depan gw, lagi. Lebih parah lagi 500 itu mesti gw bayar karena gw ada di wilayah kekuasaan abang tukang parkir ga peduli gw masih bertengger di atas Majeeda.
Ga tau apa gw perlu berhemat. Gw kan masih ngemis ma ortu. 500 perak kan lumayan. Bayangin kalo dalam satu hari gw mesti mampir di 5 tempat: Rp. 500 x 5 = Rp. 2.500.
Aaakh, uang segitu mah bisa buat sekali makan.
Untuk apa seh uang 500 perak itu???
Untuk ngejagain motor/ boil kita? Kalo ilang emang mau tanggung jawab??? Esensi dari tukang parkir itu kan seperti itu (nurut gw, seh).
Or agar motor yang diparkir teratur rapi??? Kalo ada yang bisa ngatur motornya dengan rapi tanpa bantuan abang tukang parkir, gimana???
Ataukah digunain karena kita udah minjem tempat dia buat naruh motor kita???
Emberrr… emang jalan punya dia apa???
Anyway, gw sbenarnya ngerti knapa banyak abang tukang parkir. Gw tau mereka butuh uang untuk menghidupi diri dan keluarganya. Anak mereka perlu biaya sekolah. Mereka ga mau di keluarga mereka terjadi tragedy bunuh diri hanya karena ga bisa bayar uang sekolah sebesar Rp. 2.500,- ataupun karena ga bisa bayar uang untuk biaya UAN sekitar seratus ribuan. Abang tukang parkir ga mau rumah tangga mereka retak hanya karena abang ga punya duit, abang cuma nyengsarain istrinya tersayang. Ga mau kan??
Ngerti koq, sekarang susah buat nyari kerja. Profesi sebagai abang tukang parkir kan alhamdulillah. Penghasilannya Insya Allah halal. Untung jika dibandingin jadi pengacara (pengangguran banyak acara) atau malah nyari duit dengan jalan yang ga bener.
Gw maklum abang tukang parkir sebenarnya juga ga bisa buat apa2. Mereka cuman ngejalanin episode kehidupannya dengan profesinya itu. Mengais setiap receh 500-an untuk keberlangsungan kehidupannya. Untuk anak-istrinya di rumah. Mereka pun adalah bagian dari potongan korban dalam kehidupan yang rusak di muka bumi ini.
Menjadi abang tukang parkir adalah salah satu cara untuk nyari nafkah. Kebanyakan dari penarikan uang 500-an karena itu dilegalkan oleh pemerintah dengan dikeluarkannya perpu (peraturan pemerintah). Peraturan itu dibuat dengan alasan buat nambah pendapatan daerah dan membuka lapangan kerja bagi warganya. Hmmm, tapi tahukah pemerintah, kemacetan yang ditimbulkan dengan adanya parkir2 di pinggir jalan? Tahukah pemerintah banyak yang dengan terpaksa harus membayar 500 itu. 500 perak itu bagi sebagian orang mungkin ga ada artinya. tapi bagi sebagian orang yang laen 500 itu berharga sekali. Misalnya, seorang bapak yang ingin beli obat untuk anaknya yang sedang sakit parah. Si bapak kemudian pergi ke apotek dan bertanya ke penjualnya obat yang sesuai untuk sakit anaknya juga harga obat tsb. Kesepakatan terjadi si bapak merogoh uang di kantong celananya. Deg… kurang 500. si bapak pengen ngutang tapi udah peraturan apotek itu ga boleh ngutang. Akhirya si bapak ga jadi beli obat. Bisa kita bayangkan gimana nasib anaknya tanpa pengobatan. Atau loe sendiri, ketika sedang haus2nya,loe pergi ke kantin. Loe minum teh es dan makan kue 2 biji. Ketika mo bayar,oow, uangnya kurang 500 perak. pengen ngutang?? Malu!!! Di kantin ada banyak orang. Ada ce/cowok cakep, ada dosen, ada paman tukang parkir yang ternyata bisa bayar tunai. Bayangkan! Betapa berartinya uang 500 perak pada saat itu.
So, bisa kita simpulkan bahwa ternyata peraturan yang dibuat pemerintah di satu sisi nguntungin namun disisi laen malah ngerugiin.
Liat aja pelokalisasian pelacuran. Orang2 di pemerintahan itu sebagian besar adalah orang Islam yang tentunya tau klo Allah netapin hukum zina itu haram. Hanya karena pelokalisasian itu nambah pendapatan daerah dan memberikan lapangan kerja bagi masyarakatnya juga agar terjaga ketertiban masyarakat maka pemerintah ga segan2 untuk melegalkan pelacuran.
Ataupun penertiban2/ razia2. Selama ini penertiban yang dilakukan oleh Polisi hanya berkisar pada hal2 yang nurut gw ga bikin gw berdosa ato ngerugiin orang laen. Contohnya: razia SIM & STNK, razia helm. Emang seh gw tau ada razia2 untuk nertibin pelacuran2 jalanan dan perjudian. Tapi kembali lagi kita di buat bingung. Knapa yang ditertibin itu yang ga dilegalkan ma pemerintah. Padahal kita sama2 tau pelacuran dan perjudian itu haram. Nah, hal inilah yang seharusnya membuat kita berpikir bahwa terjadi kesalahan besaaar dalam kehidupan kita. Kita diatur dengan aturan yang salah.
Tentu ajah. Aturan yang ada selama ini kan yang bikin adalah manusia yang kita semua tau punya keterbatasan dalam memikirkan sisi kebaikan dan keburukan sesuatu. Contohnya? Kembali pada kasus kita yang pertama. PARKIR. Ya kan???
Coba ajah di dalam negara yang nerapin Sistem Islam yang didalamnya diterapkan syariat Islam. Aturan dari sang Maha Pencipta, Maha Pengatur, Maha Adil, Maha Benar, yaitu Allah SWT. Ga mungkin tuch peraturan yang dibuat nyengsarain kita. Islam kan rahmatan lil ‘alamin. Contohnya ya itu tadi. ga mungkin parkir bentar 500 perak. markir disini markir disana 500 perak. Sengsara aku sengsara oh karena dia sengsara… sengsaraaa sengsara ra ra… (begitu kata penyanyi dangdut ng-expresiin ancurnya hatinya).
Parkir merupakan sesuatu hal yang dibolehkan, bukanlah sesuatu yang terlarang. Jika dengan parkir itu masyarakat kesusahan karena diharuskan bayar, bisa jadi abang tukang parkir bakal digajih oleh negara. Dan kita pun bisa menghemat dan kita dapet ridho Allah karena dapat berIslam secara sempurna dalam yang nerapin Sistem Islam.Senengnya…..