Archive for July, 2006

Aku Masuk Koran

Tuesday, July 11th, 2006

   

“Copeetttttt!!!”

 

Tanpa
menunggu hitungan detik aku segera kabur menjauhi ibu gendut yang
dompetnya kini tergenggam erat di tanganku. Ibu gendut yang memakai
daster dan gelang rincing besar-besar di lengannya serta empat cincin
di jari tangan kanan dan kririnya berteriak-teriak histeris. Ibu muda
yang sedang menggendong bayi yang tadi ditemani ngobrol ikut juga
berteriak-teriak.

 

“Coopeettt!!!”

 

Aku
semakin mempercepat lariku. Kaki-kaki kecilku yang tanpa alas
menjejak-jejak dengan cepat di jalan aspal rusak bebatuan. Perih. Tapi
aku tidak perduli. Aku lebih perduli dengan keselamatan diriku. Aku
tidak mau di pukul sampai bonyok oleh warga. Aku terus belari sampai
memasuki lorong yang agak sepi. Teriakan ibu tadi sudah tidak lagi
terdengar. Dia tak mungkin mengejarku. Tubuh gendutnya tentu sangat berat untuk dibawa berlari.

 

Menyadari
kalau keadaannya sudah aman. Aku memperlambat lariku. Ku atur nafasku
yang ngosngosan. Dadaku sudah tidak terlalu sesak lagi. Hhh, agak lega!
Titik-titik keringat merayap ringan di kening,
leher. Kuhapus dengan kerah bajuku yang sudah mengeras akibat
gumpalan-gumpalan daki. Aku lupa, kapan baju ini terakhir kucuci.
Kulirik dompet biru dengan gambar winnie the pooh di tanganku. Kuintip isinya. Ada lima puluh ribu empat ratus
rupiah. Hm.. Lumayan. Senyumku mengembang indah. Kue lemper Acil Tari melikuk-liuk gemulai di pelupuk mataku. Liurku menetes.

 

“Heiii!!!…”

 

Aku
kaget oleh teriakan keras dibelakangku. Kue lemper Acil Tari yang
melayang-layang di pelupuk mataku terlempar ke got. Anganku yang belum
sempat menjejak awan terpaksa terpelanting kembali ke bumi. Air liurku
kutelan kembali. Teriakan itu… teriakan itu untukku? Kutolehkan leher dengan pelan…

 

“Aaaaaaaaa!!!..”

 

Dibelakangku
ternyata ada belasan orang sedang berlari ke arahku. Ditangan mereka
ada bermacam-macam benda. Sebagian besar adalah kayu balok besar.
Ibu-ibu dan anak kecil memegang sandal jepit. Mereka ingin memukulku?..
untuk apa? Apa salahku kepada mereka? Apa aku pernah mencopet uang
mereka? Kapan?

 

“Aaaaaaa..!”
Mulut, hidung dan mataku melebar serempak. Ibu gendut itu ada
disela-sela mereka! Anak kecil dekil sekarang apa yang kau
tunggu….Lariiii…!!!

 

Kembali
kaki kecilku dengan lincah berlari. Busyet tuh ibu! Buat apa dia
ngundang orang segala untuk mengejarku. Gak ada kerjaan amat! Lagian
uang yang aku copet cuma lima puluh ribu. Dibandingkan uang yang dia
miliki yah lima puluh ribu gak ada apa-apanya. Rumahnya besar. Emas
mengkilat-kilat bergelantungan di sekujur tubuhnya. Pasti uangnya
banyak sekali. Ah dasar orang kaya. Pelit! Diikhlas aja napa sih! Dasar
bandit kecil. Udah nyolong duit orang, eh pake nyalahin orang lagi.
Senyumku memgembang. Tapi mendadak padam. Deru kaki di belakangku
semakin mendekat.

 

“Hei Anak kecil! Berhentiiiii”

 

Bodo! Dikejar mau dipentungin disuruh berhenti. Siapa yang mau! Dasar! Berhenti berarti bunuh diri
tau! 

 

Lariiiii…

 

Dengan
tenaga yang masih tersisa kukepalkan tanganku dan kuangkat tumitku
tinggi-tinggi. Aku terus berlari sekencang-kencangnya dengan rambut
bergerai-gerai. Kakiku seakan refleks berlari sendiri. Tubuhku
membundar mengencang. Meliuk liuk keluar masuk lorong.

 

Tapi…

 

Dadaku…
Dadaku oh! Dadaku mendadak sakit sekali. Seperti dipukul godam. Kuremas
dadaku. Nafasku sesak. Mataku berarir. Liurku meleleh. Aku meludah ke
tanah. Oh! Darah! Aku kenapa? Aku kena apa?! Apakah aku akan mati??
Tidakkkk!!!

 

“Berhentiiiii….!!!”

 

Mereka
masih terus mengejarku. Aku tidak punya pilihan lain saat ini selain
berlari sekencang-kencangnya. Sambil memegangi dada, aku terus berlari,
berlari dan berlari.

 

Aku
ngosngosan. Dadaku semakin merejam sakit. Kuangkat wajahku, di depan
mukaku terpampang masjid dengan menara mengkilat-kilat disepuh cahaya
matahari jam 12 siang. Kaki kecilku menyeret tubuhku masuk kedalam
pagar masjid. Kosong. Ini bukan waktunya shalat. Aku terus masuk ke
dalam masjid. Masuk sampai ke tempat imam shalat. Aku bersimpuh dan
mengangkat tinggi-tinggi kedua tanganku yang ditopang lengan kurus
berdebu.

 

“Tuhan..
tolong hambamu! Aku sudah lama tidak menyebutmu! Tapi sekarang aku
mencarimu, kamu di mana tuhan. Aku minta tolong. Tuhaaaaaaaaan kamu di
manaaaaaa?!!!

 

Aku berteriak-teriak sendiri. Suara cemprengkuku menggema di seantero masjid. Aku merinding mendengar suaraku sendiri.

 

“Hei berhentiiiii”

 

Waks! Mereka masih mengejarku! Dan sekarang mereka sudah ada di halaman masjid!!!

 

Lariiii….

 

Aku segera mengambil langkah seribu. Kabur lewat pintu samping. Ini katanya pintu tempat imam kabur kalau kentut.

 

“Berhentiiiii…!”

 

Orang-orang
dibelakangku masih juga berlari mengejarku. Mereka semakin dekat dan
semakin banyak. Aku terus berlari sambil menoleh ke belakang.

 

Dug!

 

Hidungku mencium tiang listrik. Sakit. Kuelus sebentar dan kemudian belari lagi sekencang-kencangnya.

 

Buk!

 

Sebuah sandal jepit mendarat
di tengkukku. Aku menoleh, ternyata anak kecil dari rombongan pengejar
yang melempar. Bagus juga sandalnya. Sayang cuma sebelah.

 

 “Berhentiiiiiii”

 

Aku terus berlari.

 

“Berhentiiiiiiii!!!”

 

Okhok!
Darah segar kembali keluar saat aku batuk. Sekarang dadaku sudah tak
tertahankan lagi sakitnya. Aku sudah tidak bisa berlari. Aku terduduk di pinggir jalan dekat got. Tungkaiku gemetaran. Tubuhku gemetaran. Jari-jari tanganku gemetaran. Jantungku berdegup-degup tidak karuan. Keringat membanjiri seluruh tubuhku. Liurku asin. Aku meludah ke tanah. Lagi lagi darah! Aku tertuduk sambil menekan-nekan dadaku. Apakah aku akan mati??!

 

Mataku
memanas. Air perlahan menyembul dari ceruk mataku dan
buliran-bulirannya mengalir deras ke pipi. Aku menangis. Bukan hanya
karena sakit di dada. Di hatiku tiba-tiba ada yang tersayat perih. 

 

Sambil
terus memegangi dadaku yang sakit, aku merenungi nasibku yang
luntang-lantung. Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Aku sempat
punya ibu. Tapi ibu meninggal akibat di bakar massa. Ibuku
diseret-seret diarak beramai-ramai didepan mataku dalam keadaan
telanjang, kemudian dilempar ke dalam api unggun yang menyala-nyala.
Aku hanya menangis melihat tubuh ibu terpanggang. Di desa ini, hukuman
bagi pelacur adalah dengan dibakar.

 

Yah,
ibuku memang seorang pelacur. Dan aku tahu kalau pelacur itu di benci
tuhan. Tapi ibu melacur karena terpaksa. Ibu harus membayar utang-utang
kakek yang terjerat rentenir. Setelah itu katanya kakek sakit
keras. Ibu terpaksa menjual tubuhnya untuk biaya kakek berobat. Ibuku
lumayan cantik. Jadi banyak yang suka ibu. Tapi aku yakin hati ibu
pasti menjerit karena telah melakukan perbuatan yang di benci Allah.
Tapi, rintihan kakek lebih nyata terdengar di telinga ibu dari pada
rintihan manusia-manusia di neraka. Akhirnya ibu lebih memilih melacur.

 

 Air
mataku meleleh. Aku teringat ibu. Ibu, diakhirat ibu berada dimana? Di
neraka atau di surga? Kalau pelacur seperti ibu pantas di neraka, terus
orang-orang pintar yang melacurkan kepintarannya, untuk menipu dan
melakukan kebohongan-kebohoangan hanya demi uang tempatnya dimana ibu?
Di neraka juga? Kalau ibu melacur karena terpaksa, tapi mereka
melacurkan kepintarannya bukan karena terpaksa. Uang mereka banyak.
Tapi karena perut mereka tidak pernah kenyang hanya dnegan makan lima
piring.

 

Retina mataku yang masih tergenang air menelusuri setiap jengkal tubuhku yang sedang meringkuk. Ada kaki yang berbalut debu. Betis yang kurus, legam. Lutut yang bersisik
dan dikerubungi koreng. Baju yang compang camping dan penuh tambalan.
Dada yang tipis tinggal tulang. Hei, sudah agak menonjol, walau masih
kecil. Amboy, kau sudah jadi gadis kecil rupanya. Kubelai rambutku yang
lecek dan jarang disisir. Kuraba wajahku. Aku tidak melihat wajahku
sendiri. Pasti jelek sekali, walau pipiku belum di tumbuhi jerawat. Aku
meringis, ah pasti gigiku sudah sangat karatan. Aku tidak pernah sikat
gigi selama bertahun-tahun. Sambil menggit bibir, kubiarkan air merayap
hangat ke pipi. Kupejamkan mataku, kurasakan ribuan duri menusuk-nusuk
lembut hatiku. Sakit tak bernokhtah.

 

Sekarang
orang-orang itu sudah mengerubungiku. Tubuh kecilku meringkuk ditengah
kerumunan itu. Dari mulut-mulut mereka berhamburan sumpah serapah. Aku
tidak perduli. Sumpah serapah itu bagai suara penjual siomay yang
selalu lalu lalang di depan mataku.  

 

Buk…buk… buk..!

 

Kayu-kayu
yang mereka bawa mendarat satu persatu ke tubuhku. Aku hanya pasrah,
sambil hatiku menghitung berapa kali kayu itu mendera tubuhku.

 

“Rasain pencopet!!!” Makan nih kayu.

 

“Kecil-kecil udah jadi maling!!! Makan nih sandal!”

 

Oh!
Andai kayu dan sandal bisa dimakan, aku akan makan semua itu, Tapi
manusia ditakdirkan makan nasi, ikan, sayur. Dan sekarang itu semua
harganya mahal. Dan aku sudah tidak tahu kapan terakhir aku makan.
Sekarang aku sangat lapar. Perutku melilit sakit. Hei orang-orang yang
memukulku! Apa kalian pernah merasakan lapar sepertiku? Apakah
anak-anak kalian pernah merasakan liurnya meleleh karena ingin juga
makanan bergelantungan di toko-toko? Pernahkah kalian merasakan betapa
sakitnya jadi orang miskin. Tapi jeritan itu aku dekap dalam hati.
Percuma aku bicara. Percuma aku teriak. Telinga mereka tidak bisa mendengar, mata mereka tidak bisa melihat, hati mereka tak bisa merasa jeritan orang miskin.

 

Buk…buk…buk!

 

Kayu-kayu
dan sandal masih tetap menghunjam tubuh kecilku. Sekarang aku
terguling-guling ditanah sambil mendekap dadaku yang nyeri. Darah masih
tetap mengalir dari bibirku. 

 

Dompet
ditanganku sudah diambil yang punya. Maafkan aku, Bu! Aku terpaksa
mencopet. Jangan berkata “ kenapa kamu tidak minta saja?” omong kosong!
Kapan ibu memberi uang kalau aku minta? Orang kaya seperti ibu pelit!
Maafkan aku Bu kalau terpaksa mencopet. Aku sangat lapar. Lapar. Lapar.
Lapar. Kata yang sangat akrab di bibirku

 

Buk…buk…buk…!

 

Kayu
itu mendarat di kepalaku. Mataku berkunang-kunang. Sekarang tanganku
memeluk kepalaku yang berdenyut-denyut. Basah… apakah darah??! Aku
tidak mau melihatnya!

 

Buk buk buk!

 

Kayu-kayu
itu mendarat di leherku bagian atas. Akhhhhhhh…..! Mata sayuku melihat
hamburan kunang-kunang beterbangan di sekelilingku. Alam diseitarku perlahan
memudar warna. Cahaya matahari berubah merah saga. Langit diatas
kepalaku membelah dan perlahan runtuh, menghimpit tubuhku yang kecil
dan jarang mandi. Tiba-tiba kurasakan semuanya ringan. Rohkupun
beranjak perlahan meninggalkan tubuhku yang tergeletak di tengah jalan
dengan masih dikerubungi orang. Kulihat bibirku meringis menahan sakit
yang teramat sangat. Selamat tinggal tubuh dekilku. Selamat tinggal
segala derita. Selamat tinggal segala hamburan duri yang menusuk daging
kehidupanku. Selamat tinggal dunia yang tak menyisakan apa-apa untukku
selain kepedihan. Selamat tinggal semuaaaaaaaaaa!!!

 

 

********

 

 Koran
pagi memuat berita tentangku. Gadis kecil yang mati dipukuli massa
karena mencopet. Aku masuk Koran!!!. Sesuatu yang kadang jadi impian
banyak orang. Aku gembira. Aku terkena! Tapi… siapa yang perduli dengan
berita kematianku? Koran memuatnya untuk memenuhi halaman kosong, dan
kemudian dijual. Orang-orang membacanya sekedar berita biasa sambil
menikmati kopi hangat mengepul di pagi hari. Berita kematian hanya
sekedar hiburan. Sekali lagi, siapa yang peduli? Toh setiap hari mereka telah dijejali oleh berita-berita yang memusingkan. Tapi…., pernahkah mereka tahu, bahwa kematianku mewakilkan jeritan-jeritan kaum miskin yang doanya mampu meretakkan langit tua.

 

Aku
beritakan kepada pembaca. Aku mati karena mencopet. Aku mencopet karena
aku tidak tahan lapar. Aku tidak makan karena semuanya mahal. Sedangkan
tidak ada yang mau menampungku, walau sekedar dijadikan pembantu.
Sedangkan penguasa tidak perduli dengan nasib orang-orang miskin.
Katanya negeri ini kaya, gemahripah loh jinawi, toto tentrem kertorahrajo. Negeri Jamrut katulistiwa. Bak Serpihan surga di bumi.  Tongkat
di tanam tumbuh hutan. Di bawah tempat duduk kita terhampar kekayaan
alam barang tambang. Tapi kenapa banyak yang kelaparan? Banyak yang
miskin? Kenapa??!

 

Aku
mati demi uang lima puluh ribu empat ratus rupiah. Kalau demi uang lima
puluh ribu empat ratus rupiah, aku harus menukarnya dengan nyawaku..
Bagaimana dnegan mereka-mereka yang korupsi bermilyar-milyar rupiah?
Berapa lembar nyawa yang dapat menggantikannya. Lima puluh ribu sama
dengan satu lembar nyawa harganya. 1 miliyar berapa lembar nyawa
tukarannya??? Selamat belajar menghitung…

 

 

Setelah bingung ttg apa yang ingin ku posting

Saturday, July 8th, 2006

Kemarin kopdaran lagi dengan teh Faristku terzinta. Huaa cenengnyah. Setiap maasyiroh yang bikin aku semangat datang, n pagi2 harus mandi n dandan rapi yah karena ingin ketemu ma kawan2 yang datang dari berbagai daerah. Hehehehe….
Maasyiroh hari yang paling ku tunggu2. Oh iya, kemarin jg ketemu ma bininya kemakimen, walau kelihatannya beliau agak bingung juga, n barangkali mikir, "orang gila dari mana nguntitin aku terus" hehe…. hoi mba, gue bukan org gila tapi cuma gak terlalu waras,. Hihihihi… Welkam di banjarmasin yang penuh debu dan kotor yah… :)
Untuk Kekasihku Rain di ngawi,  Bintangku yg gak pernah lagi kulihat sinarnya, "EREN" di Bandung coret. Maaf gak pernah menghubungi dikau sayang. Untuk Rence di amuntai, duhh kog kawan2 amuntai gak datang kemarinn, padahal saya  sudah harap2 cemas nungguin, n ditengah sesaknya manusia ku cari dirimu. :)
Ahhhh, silmi kangen ma kalian… Bintang2 yang selalu memaku di ubun2 ingatanku :)
Tathaaaaa Muah222x