Tentang Seorang Teman
Friday, January 20th, 2006 Dari dulu saya mencintai buku, tentunya buku: Sastra. Sejak SD hingga SMU
rasanya tidak ada buku-buku sastra di perpustakaan sekolah yang tersembunyi
dari pengawasan saya.
Walau begitu tergila-gila
dengan buku-buku sastra, buku teks pemikiran saya malah sebaliknya. Apalagi
tentang politik, ideologi! Dulu, saya tidak suka konflik, istilah-istilah
pelik, riuh manusia, problematika umat. Saya suka terpaan angin, guyuran hujan,
sinar matahari, pepohonan rindang, ikan-ikan di kolam, semua yang tanpa
konflik.
Sampai suatu ketika,
semester satu, janji yang saya buat pada seseorang di perpustakaan universitas,
mendamparkan saya sejenak ke kamar persegi kost-an teman ’sekelas’ saya.
Rak-rak yang penuh buku adalah awal cinta pertama saya pada kamar persegi itu.
Untuk selanjutnya, setiap
dosen terlambat masuk atau tidak masuk sama sekali, saya selalu mengunjungi
kamar persegi itu. Membaca buku-buku sastra: fiksi islami yang sayangnya
jumlahnya hanya sepersepuluh dari keseluruhan buku-buku itu. Selebihnya
buku–buku teks pemikiran Islam; tentang: akidah, syariah, politik dan ideologi
Islam, sirah, hakekat berfikir, dll.
Teman saya itu (yang empunya kamar) selanjutnya menjadi teman
diskusi saya. Kalau saya begitu mencintai buku sastra dan anti terhadap
buku-buku teks pemikiran, dia malah sebaliknya.
Dua tahun awal pertemanan
kami selalu ada beberapa buku teks baru menjadi penghuni kamar persegi itu.
Dengan mata berbinar-binar, teman saya itu selalu menceritakan
pemikiran-pemikiran dalam buku baru itu (sikap dan ekspresi yang sama persis saat saya sedang memegang buku
sastra). Sikap dan ekspresi wajahnya lama-kelamaan seperti menghipnotis saya.
Saya pun kemudian menggandrungi buku-buku semacam itu.
Agar terasa ’adil’ dan
diskusi kami bisa menjangkau banyak aspek, saya pun merekomendasikan buku-buku
sastra (yang saya pinjam dari teman lain) untuk dia baca. Bukan fiksi islami,
tapi buku karya pengarang wanita yang sedang ’hangat’ dibicarakan karena kevulgarannya.
Sayangnya, dia terlalu kaget membaca karya-karya semacam itu. Setelah pusing,
mual, ia pun muntah. Ia lalu mengeluarkan komentarnya, bahwa penerbitan
buku-buku semacam itu lebih pas disebut sebagai era kebangkitan ’sastra bau’.
Sesungguhnyalah, selain
sebagai teman, dia sekaligus guru dan adik bagi saya.
Sebagai teman, dia adalah
orang yang mengerti saya, seseorang yang mampu merobohkan benteng angkuh yang
sejak lama saya bangun di sekeliling saya (jadi ingat lagu Padi: Angkuh). Ketika
mengetahui saya suka lagu-lagu Skorpion, tanpa memberi tahu terlebih dahulu dia
menyengaja membeli MP3-nya, menginstal lagu-lagu itu (padahal dia suka lagu
nasyid). Sehingga setiap kali saya mengunjungi kamar perseginya, untuk membaca
buku, lagu-lagu itu ia perdengarkan untuk saya. Begitu
pula ketika saya masih suka menenangkan diri dengan When The Blind Man Cry-nya
D Purple, dia memperdengarkannya untuk saya. Ia selalu bersedia bersama-sama
saya mengerjakan tugas (yang kadang terlambat dikumpul), menemani makan di kantin,
bahkan kadang-kadang saya ‘paksa’ bolos ketika perkuliahan yang membosankan.
Dia bersedia mendengarkan cerita-cerita saya, tentang buku-buku yang saya suka,
tentang lagu-lagu favorit dan amper tua saya, tentang keputusasaan saya,
tentang semangat saya. Dia ada.
Sebagai guru, dia adalah tempat
bertanya berbagai hal; keimanan, kebenaran, dll. Pertimbangan-pertimbangannya,
kerasionalannya membuat saya kagum. Pernah suatu ketika setelah membaca cerpen
tentang seekor ayam sakit-sakitan yang dikeroyok sampai mati oleh ayam-ayam
lain yang sehat, tapi sedang kehausan. Cerpen itu agak lama membekas. Saya
ceritakan isi cerpen itu lalu saya bertanya padanya, “Seandainya cerpen itu ada
realitasnya, adakah keadilan Tuhan bagi ayam itu. Kalau ada dalam wujud apa?”
Mendengar pertanyaan saya itu,dia hanya tersenyum dan berkata bahwa ada banyak
hal yang dapat dipikirkan dan memang harus untuk dipikirkan, yaitu masalah umat
yang bejibun banyaknya yang mendesak
untuk diperjuangkan solusinya yaitu berdirinya Khilafah Islam. Dia kemudian
menyibukkan saya dengan kajian, diskusi,
seminar, tabligh akbar, yang membahas fakta-fakta real ketertindasan umat Islam
saat ini. Dia adalah insfirasi untuk menjadi baik.
Sebagai adik, dia pernah membuat saya merasa begitu kehilangan karena
dalam mimpi, di hadapan saya, dia tiba-tiba menghilang, lenyap! Seseorang pada
waktu tertentu dengan rona ceria menceritakan koleksi game barunya, yang
sesekali mengajak saya bermain sega diwaktu luang.
Mungkin ada diantara pembaca yang
bertanya, “mengapa cerita beginian di
tuls di sini?” Setidaknya saya punya dua alasan.
Pertama, Saya ingin
membingkainya di sini sebagai jejak yang kelak dapat saya buktikan
keberadaannya. Sekaligus
berbagi cerita pada pembaca lain yang mungkin memiliki keadaan atau kecintaan
pada seorang teman: seperti saya.
Kedua, Karena saya tahu, dia hampir setiap hari
minggu mengintip halaman Cakrawala ini melihat kalau-kalau tulisan saya dimuat.
Pernah beberapa kali dia berusaha menelpon saya hanya untuk memberitahukan
bahwa ada komentar ’tajam’ yang ditujukan untuk tulisan saya. Dengan bersemangat dia berkata bahwa saya harus membuat komentar
balik.
Selama ini, hampir setiap kali
selesai menulis tulisan yang ingin saya publikasikan dia adalah editor pertama
dan kadang merangkap sukarelawan juru ketik.
Dua minggu lalu, tepatnya hari Kamis. Saya dan dia sana saya membeli dua buku. Salah satunya karangan Christoper Norris:Membongkar Teori Dekonstruksi Derrida.
bersepakat ke Gramedia membeli buku yang mungkin bisa kami jadikan bahan
skripsi. Di
padanya.
Dua hari berikutnya
sebelum perkuliahan dimulai saya menepati janji, menceritakan isi buku itu.
Saya sampaikan bahwa dekonstruksi adalah sebuah tindakan dari subjek terhadap
objek yang tersusun dari berbagai unsur. Yang pada
awalnya merupakan cara atau metode untuk membaca teks. Bahwa dekonstruksi
‘biasanya’ ingin menelanjangi tekstualitas laten dalam sebuah teks yang
bertujuan untuk menunjukkan ketidakberhasilan upaya penghadiran kebenaran
absolute. Saya sampaikan lagi padanya, bahwa pembacaan dekonstruktif hanya
ingin mencari ketidak utuhan atau kegagalan tiap upaya teks menutup diri dengan
makna atau kebenaran tunggal. Bahwa teks tidak dipandang sebagai tatanan makna
utuh, melainkan arena pergulatan yang terbuka, atau tepatnya permainan antara
penataan dengan chaos, antara perdamaian dengan peperangan,
antara akur dengan cek cok. Bahwa yang terjadi kemudian
hanyalah semacam pendewasaan diri.
Mendengar uraian saya, dia pun
mengangguk beberapa kali sambil ber “ooh”. Seperti biasa kami berdiskusi. Tiba-tiba ia
bertanya pada saya. ”Bagaimana dengan teks al Quran dan hadits dengan derajat
mutawatir yang dapat dipastikan kebenarannya? Bagaimana dengan masalah akidah
yang menuntut pembenaran secara pasti, tunggal tanpa keraguan sedikitpun?” Dia
mengusulkan supaya saya menulis artikel tentang itu. Saya menyanggupi. Diskusi
kami berlanjut untuk memilih judul apa yang akan kami pilih.
” Sejak awal, ketika seorang
mengikrarkan diri dengan syahadat sebagai muslim, ia akan mengakui keberadaan
dan keesaan Allah serta kerasulan Muhammad. Itu merupakan kebenaran absolut.
Iya kan? Selain itu Wahyu berupa al Quran yang merupakan pertanda kerasulan
Muhammad adalah teks yang kebenarannya tidak bisa diganggu gugat. Kalau begitu
emm.., Mari Kita Bunuh Dekonstruksi dengan Kalimat Suci, Gimana?”Kata saya.
Dia mengangguk setuju.
Matanya berbinar, dia tersenyum. Sosok di depan saya saat itu, adalah orang
pertama yang saya dengar keritikannya, untuk saya tanpa bangkitnya amarah.Yang
menyemangati saya, memberikan motivasi ketika saya tak ingin apa-apa.
Ah, rupanya saya harus mencari
referensi lebih banyak lagi, menyusun argumen-argumen, supaya teori yang saya rangkum dari pemikir-pemikir favorit
saya akan lebih kuat. Membunuh dekonstruksi dengan akidah Islam hanya akan
berlaku bagi penganutnya, tidak bagi yang tidak mengakuinya. Jadi untuk
membunuh dekonstruksi, hanya perlu
argumen yang memuaskan akal alias dalil aqli. Pufhh… Kapan selesainya
ya?
Semoga tulisan ini
setidaknya bermakna selingan dari tulisan-tulisan lain yang hadir di sini.