Archive for September, 2005

Rakyat

Monday, September 5th, 2005

Hartoyo Andangjaya menulis tentang rakyat dalam salah satu sajaknya yang berbunyi:

Rakyat ialah kita

Jutaan tangan yang mengayun dalam kerja

di bumi tanah tercinta

jutaan tangan yang mengayun bersama

membuka hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga

mengepulkan asap dari cerobong pabrik kota

mereba kelam di tambang logam

dan batu bara menaikkan layar menebar jala

rakyat ialah tangan yang bekerja

………………………………………..

rakyat ialah kita puisi kaya makna di wajah semesta

Kalau Hartoyo menekankan rakyat dengan “kita”, Rendra malah menggugat, dan dengan lantang mengatakan bahwa rakyat bukan “kita”. Gugatan itu dituangkan dalam sajak “pernyataan dari rakyat” :

Karena kami makan akar

dan terigu menumpuk di gudangmu

karena kami hidup berhimpitan

dan ruangmu berlebihan

maka kita bukan sekutu!

Karena kami dibungkam

dan kamu nyerocos bicara

Karena kami diancam

dan kamu memaksakan kekuasaan

Maka kami bilang tidak kepadamu!…..

Terjadi kontradiksi antara kedua sajak tersebut. Rakyat dalam pandangan Hartoyo lebih kepada tataran “idea” sedangkan rakyat dalam pandangan Rendra adalah dalam tataran “reality”. Hal yang harus disadari memang, bahwa antara “idea” dan “reality” antara “conception” dan “creation” tidak selamanya selalu seiring sejalan. Antara wacana dan sector riil, antara yang “di atas meja” dan yang “di bawah meja” kadang selalu tercipta jarak.

Siapakah rakyat itu?

Dalam bahasa latin, Rakyat biasa disebut populis. Dalam bahasa inggrisnya sering disebut people. Dalam konteks keindonesiaan? Masih menjadi teka-teka silang. Bingung. Karena pengertian rakyat di Indonesia bisa berbeda-beda sesuai dengan kepentingan. Seperti perseneling yang dengan mudah diganti-ganti oleh sopir.

Rakyat dalam Undang-undang Dasar 45 adalah pemegang kedaulatan tertinggi, sehingga disebutkan pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Ini sejalan dengan pandangan Hartoyo Andanjaya bahwa rakyat ialah kita. Tapi pada perjalanan selanjutnya kata rakyat mengalami pergeseran makna. Kata rakyat sering dilekatkan kepada kelompok masyarakat yang tidak mempunyai cukup kekuatan atau legitimasi untuk secara gampang memerintah orang lain begitu saja. Kata rakyat bergeser nilainya menjadi wong cilik, akar rumput kering yang selalu terinjak sepatu. Bahkan pada rezim sebelumnya, rakyat sering dianggap sebagai duri-duri tajam yang harus disingkirkan. Diburunya wiji thukul, penyair solo yang merupakan ketua jaringan kesenian Rakyat (Jaker) karena dicurigai sajaknya menyuarakan sosialisme-komunisme sebab didalam sajaknya banyak menyebut kata “rakyat” merupakan fakta gamblang tentang hal ini (lha! apa kaitannya kata “rakyat” di Indonesia dengan sosialisme-komunisme?)

Dalam struktur hirarki, rakyat selalu menempati bagian alas. Kelompok yang tidak pernah naik kelas. Kelompok yang harus rela di pecundangi dan di gencet-gencet oleh mereka dari kelompok atas dalam hal ini kaum elit atau penguasa. Dalam distribusi kekayaan alam (namanya saja di posisi alas ) yah, harus rela mendapat ampasnya. Itupun kalau masih ada ampasnya. Apesnya lagi, kadang nasib rakyat seperti kata pepatah, tidak makan nangkanya dapat getahnya. Tidak menikmati kekayaan alamnya, ketiban utangnya.

Wacana tentang rakyat memang selalu mengandung polemik, membutuhkan waktu yang panjang dan melelahkan. Apakah pengertian rakyat itu tertuju kepada seluruh penghuni negeri ini, termasuk juga penguasanya, pengusahanya, koruptornya, malingnya, garongnya, tukang becaknya, penjual jamu gendongnya, ataukah pengertian rakyat hanya tertuju kepada mereka yang menjadi korban gusuran untuk gedung-gedung bertingkat milik konglomerat, mereka yang hidup di daerah kumuh, mereka yang sering di eksploitasi tenaganya oleh pihak perusahaan dan hanya mendapat upah pas-pasan, atau mereka yang tinggal dipedalaman yang tidak kebagian listrik dan pembangunan jalan yang layak?

Malas rasanya memperdebatkan tentang siapa dan apa itu rakyat, toh akhirnya kita juga sepakat bahwa dari dulu dan barangkali akan terus berlanjut entah sampai kapan, di mana-mana rakyat telah dikondisikan untuk manut, taat dan patuh. Dikondisikan untuk harus mendengar apa kata elit atau penguasanya tanpa boleh membantah sedikitpun. Tak jarang perintah dari sang penguasa hampir menjadi firman suci yang mutlak harus dilakukan. Bahkan konsekuensi jika tak menjalankan perintah dari para penguasa, secara psikis, sering terasa lebih menakutkan dari pada konsekuensi tidak menjalankan perintah Sang Khaliq. Iya, memang demikian, karena konsekuensi tak menjalankan perintah Sang Khaliq, sering dianggap remeh, karena ganjarannya dianggap nanti akan datang pada suatu masa.

Lebih baik sekarang kita menengok Mang Karun , tukang becak yang sering kena gusur karena alasan ketertiban kota dan sama sekali tidak menyimpan harta karun seculipun, yang sedang sibuk membuat Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Keluarga (RAPBK) selama satu bulan. Penghasilan : Tidak tetap, tergantung nasib. Pengeluaran : - Biaya makan untuk lima orang. Kalau 1 hari = Rp. 20.000 (menu tempe, sambel trasi plus krupuk), Kalau sebulan =Rp. 600.000,- - Biaya spp untuk ketiga anaknya di hitung rata-rata 20.000 (itu sudah yang kelas pinggiran), sebulan =Rp. 60.000,- - Biaya transportasi tiga orang anaknya pulang pergi sekolah, 1 0rang Rp 3000 x 3=9000 sehari. Kalau sebulan Rp. 270.000,-

Malang nian nasib Mang Karun. Dia keburu pingsan karena sesak nafas sebelum sempat menghitung biaya sewa kontrakan, beli minyak tanah untuk lampu teploknya, biaya perbaikan becaknya, dan sebagainya. Setelah siuman, Langit di atas kepala Mang Karun nampak semakin pekat. Sepekat kopi pahit yang dia minum setiap pagi. Harapan-harapan yang dia pancang tinggi harus di robohkan. Impian-impian manis yang dia kulum, terpaksa dia muntahkan. Sedangkan perut semakin tidak pernah kenal kompromi, dan perubahan yang dia harapkan hanya sekedar mimpi.

Penguasa yang seharusnya menjadi pelindung rakyat malah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang semakin tidak memihak rakyat. Wakil-wakil rakyat yang seharusnya menjadi aspirator rakyat malah mendukung dan gelinya lagi, mereka malah meminta tambahan gaji. Pernyataan-pernyataan para menteri semakin membuat dada yang sudah sesak menjadi semakin sesak. Subsidi yang cuma seupil-upil dicabut dengan alasan APBN sudah sekarat.

Kalau rakyat terus-terusan di subsidi, rakyat nantinya tidak kreatif, tidak mandiri, sebaiknya rakyat tidak di beri ikan, tapi di beri pancing, kata mereka. Duhai, jangan menghina rakyat dengan memberi pancing, sedangkan kali-kali yang akan dikail sudah kering dikeruk oleh kaum kapitalis.

Ah…Mang Karun tak mau berlama-lama berkeluh kesah. Dengan sisa-sisa nafasnya dia berusaha menyulam benang-benang asanya yang sudah rapuh dan koyak menjadi rajutan baru dan dengan keyakinan bulat bahwa dia masih punya tuhan yang selalu mendengar ratapan hambanya yang terzhalimi oleh penguasa. Ratapan yang mempu meretakkan langit yang semakin tua dan rapuh.

BIar Saja

Saturday, September 3rd, 2005

Biar saja…..

Dunia ini terus berputar,

dan mata angin tetap pada tempatnya,

sebab kita terlalu banyak alpa,

menginsafi tangga tangga hijau,

yang telah mengingkari syurga….

EPISODE

Saturday, September 3rd, 2005

Kurengkuh mimpi bersama aliran darah

untuk luka yang tak pernah kering

biaskan aroma amis di tiap pernjuru mata angin

Muak!!! teriakku

Dalam perih ku coba menyusun keping keping asa

karena langit masih menampung harap

dari jiwa jiwa yang bergetar mengharapkan tetesan kasih

tuk hapuskan dahaga

dalam ragu ku untai do’a

"Ya Rahim, Bawalah aku kembali ke jalan_Mu"

nyekek!

Saturday, September 3rd, 2005

nyekekkkk!!!

“Fren, kita kabur, yuk….!”
“Ayo. Mumpung penjegal uang 500 perak ga kliatan alis shinchannya” sobatku membalas.
Tengok kanan kiri, berputar ke belakang….
Hup… “Cepetan…” gw ambil helm dan dengan seluruh kecepatan yg gw miliki (apaan?) gw putar Majeeda (motor gw).

Yach… kalah cepat deh dengan abang tukang parkir yang berlari2 menghampiri kami. Gw ma temen gw langsung ketawa, ketahuan mo kabur. Hehe…he….
“Mba…” dia negur kami dengan wajah innocent-nya. Pasti tuh orang bingung ngeliat kami ketawa. Gw cuek ajah, pura2 ga denger. Kalo bosen nunggu pasti dia menjauh dan selamatlah uang 500.
“Mba…” dia negur lagi.
Hhhh…. Dengan berat hati gw kasih juga uang 500 perak ke dia. Benci bangget. Tapi, moga ada hikmahnya.

Nyekekk… hampir tiap tempat ada si abang tukang parkir. Gw harus nyisihin uang 500 perak hanya untuk numpang tempat naruh Majeeda walo cuma 5 menitan. Di depan gw, lagi. Lebih parah lagi 500 itu mesti gw bayar karena gw ada di wilayah kekuasaan abang tukang parkir ga peduli gw masih bertengger di atas Majeeda.

Ga tau apa gw perlu berhemat. Gw kan masih ngemis ma ortu. 500 perak kan lumayan. Bayangin kalo dalam satu hari gw mesti mampir di 5 tempat: Rp. 500 x 5 = Rp. 2.500.
Aaakh, uang segitu mah bisa buat sekali makan.

Untuk apa seh uang 500 perak itu???
Untuk ngejagain motor/ boil kita? Kalo ilang emang mau tanggung jawab??? Esensi dari tukang parkir itu kan seperti itu (nurut gw, seh).
Or agar motor yang diparkir teratur rapi??? Kalo ada yang bisa ngatur motornya dengan rapi tanpa bantuan abang tukang parkir, gimana???
Ataukah digunain karena kita udah minjem tempat dia buat naruh motor kita???
Emberrr… emang jalan punya dia apa???

Anyway, gw sbenarnya ngerti knapa banyak abang tukang parkir. Gw tau mereka butuh uang untuk menghidupi diri dan keluarganya. Anak mereka perlu biaya sekolah. Mereka ga mau di keluarga mereka terjadi tragedy bunuh diri hanya karena ga bisa bayar uang sekolah sebesar Rp. 2.500,- ataupun karena ga bisa bayar uang untuk biaya UAN sekitar seratus ribuan. Abang tukang parkir ga mau rumah tangga mereka retak hanya karena abang ga punya duit, abang cuma nyengsarain istrinya tersayang. Ga mau kan??

Ngerti koq, sekarang susah buat nyari kerja. Profesi sebagai abang tukang parkir kan alhamdulillah. Penghasilannya Insya Allah halal. Untung jika dibandingin jadi pengacara (pengangguran banyak acara) atau malah nyari duit dengan jalan yang ga bener.
Gw maklum abang tukang parkir sebenarnya juga ga bisa buat apa2. Mereka cuman ngejalanin episode kehidupannya dengan profesinya itu. Mengais setiap receh 500-an untuk keberlangsungan kehidupannya. Untuk anak-istrinya di rumah. Mereka pun adalah bagian dari potongan korban dalam kehidupan yang rusak di muka bumi ini.

Menjadi abang tukang parkir adalah salah satu cara untuk nyari nafkah. Kebanyakan dari penarikan uang 500-an karena itu dilegalkan oleh pemerintah dengan dikeluarkannya perpu (peraturan pemerintah). Peraturan itu dibuat dengan alasan buat nambah pendapatan daerah dan membuka lapangan kerja bagi warganya. Hmmm, tapi tahukah pemerintah, kemacetan yang ditimbulkan dengan adanya parkir2 di pinggir jalan? Tahukah pemerintah banyak yang dengan terpaksa harus membayar 500 itu. 500 perak itu bagi sebagian orang mungkin ga ada artinya. tapi bagi sebagian orang yang laen 500 itu berharga sekali. Misalnya, seorang bapak yang ingin beli obat untuk anaknya yang sedang sakit parah. Si bapak kemudian pergi ke apotek dan bertanya ke penjualnya obat yang sesuai untuk sakit anaknya juga harga obat tsb. Kesepakatan terjadi si bapak merogoh uang di kantong celananya. Deg… kurang 500. si bapak pengen ngutang tapi udah peraturan apotek itu ga boleh ngutang. Akhirya si bapak ga jadi beli obat. Bisa kita bayangkan gimana nasib anaknya tanpa pengobatan. Atau loe sendiri, ketika sedang haus2nya,loe pergi ke kantin. Loe minum teh es dan makan kue 2 biji. Ketika mo bayar,oow, uangnya kurang 500 perak. pengen ngutang?? Malu!!! Di kantin ada banyak orang. Ada ce/cowok cakep, ada dosen, ada paman tukang parkir yang ternyata bisa bayar tunai. Bayangkan! Betapa berartinya uang 500 perak pada saat itu.
So, bisa kita simpulkan bahwa ternyata peraturan yang dibuat pemerintah di satu sisi nguntungin namun disisi laen malah ngerugiin.

Liat aja pelokalisasian pelacuran. Orang2 di pemerintahan itu sebagian besar adalah orang Islam yang tentunya tau klo Allah netapin hukum zina itu haram. Hanya karena pelokalisasian itu nambah pendapatan daerah dan memberikan lapangan kerja bagi masyarakatnya juga agar terjaga ketertiban masyarakat maka pemerintah ga segan2 untuk melegalkan pelacuran.

Ataupun penertiban2/ razia2. Selama ini penertiban yang dilakukan oleh Polisi hanya berkisar pada hal2 yang nurut gw ga bikin gw berdosa ato ngerugiin orang laen. Contohnya: razia SIM & STNK, razia helm. Emang seh gw tau ada razia2 untuk nertibin pelacuran2 jalanan dan perjudian. Tapi kembali lagi kita di buat bingung. Knapa yang ditertibin itu yang ga dilegalkan ma pemerintah. Padahal kita sama2 tau pelacuran dan perjudian itu haram. Nah, hal inilah yang seharusnya membuat kita berpikir bahwa terjadi kesalahan besaaar dalam kehidupan kita. Kita diatur dengan aturan yang salah.

Tentu ajah. Aturan yang ada selama ini kan yang bikin adalah manusia yang kita semua tau punya keterbatasan dalam memikirkan sisi kebaikan dan keburukan sesuatu. Contohnya? Kembali pada kasus kita yang pertama. PARKIR. Ya kan???

Coba ajah di dalam negara yang nerapin Sistem Islam yang didalamnya diterapkan syariat Islam. Aturan dari sang Maha Pencipta, Maha Pengatur, Maha Adil, Maha Benar, yaitu Allah SWT. Ga mungkin tuch peraturan yang dibuat nyengsarain kita. Islam kan rahmatan lil ‘alamin. Contohnya ya itu tadi. ga mungkin parkir bentar 500 perak. markir disini markir disana 500 perak. Sengsara aku sengsara oh karena dia sengsara… sengsaraaa sengsara ra ra… (begitu kata penyanyi dangdut ng-expresiin ancurnya hatinya).
Parkir merupakan sesuatu hal yang dibolehkan, bukanlah sesuatu yang terlarang. Jika dengan parkir itu masyarakat kesusahan karena diharuskan bayar, bisa jadi abang tukang parkir bakal digajih oleh negara. Dan kita pun bisa menghemat dan kita dapet ridho Allah karena dapat berIslam secara sempurna dalam yang nerapin Sistem Islam.Senengnya…..

pemberontakan

Saturday, September 3rd, 2005

Debukan drum ritmis dalam tempo yang cepat. Menyusul melodi dan gitar yang meraung tinggi, juga cabikan bas yang dinamis. Di tengah itulah menyelinap masuk sebuah lagu. Suara vokal dalam jerit panjang, lengking yang menyakitkan telinga, namun lantang mengekspresikan sesuatu yang demikian lepas. Perpindahan nada berlangsung cepat tanpa mengubah tempo musik. Energi musikal di situ seakan-akan membayangkan kemarahan dan pemberontakan yang dieksplorasi habis-habisan. Juga dalam ”performance” dan perangai pentas mereka.

Di bawah panggung, di antara musik yang berdentam-dentam dan jerit panjang sang vokalis, sejumlah penonton tak hanya menggerak-gerakkan kepala mereka. Tapi juga melakukan pogo, sebuah gaya komunitas underground dalam merespons musik. Mereka terkesan bergerak liar dan seenaknya, saling bertubrukan, saling menerjang. Bahkan ada beberapa di antaranya terjatuh dan hampir terinjak-injak. Tapi mereka hanya saling tertawa.

Di pentas, musik dan suara vokalis terus bergemuruh. Bertelanjang dada, dengan tubuh dihiasi tato, suara  sesekali seperti parau. Namun terus meninggi dalam tempo monoton yang ditingkahi permainan gitar yang dinamis. Demikian juga dengan penampilan bas yang atraktif. Sedangkan tabuhan drum tak hanya energik, tapi juga sesekali menunjukkan kegarangannya. Pukulan dan ketukannya terukur meski dalam lompatan-lompatan nada yang cepat.

Beberapa lagu mereka bawakan, yang umumnya bertutur dan meneriakkan realitas yang chaos, seperti nomor "Jerit Kematian" dan "Aborsi". Itulah penampilan kelompok Victim of Rage (V.O.R). Penampilan group musik underground asal Bandung yang beraliran Brutal Death ini adalah satu dari sejumlah penampilan grup musik underground lainnya dalam acara bertajuk Stay In Underground di Bukit Kafe, Cimahi, Minggu (23/1) kemarin.

Demikian juga kelompok Discount, yang hadir dengan warna musik punk. Begitu naik ke pentas, kontan mereka langsung menggebrak dengan nomor-nomor yang menghentak, yang langsung direspons penonton dengan pogo. Grup musik yang terdiri dari Apep (vokal), Cevo (drum), Pict (gitar) dan Opik (bas) ini, memainkan sejumlah nomor lagu yang meneriakkan realitas dan semangat pemberontakan, seperti "Anjing Perang", "Politikus", atau "Terpenjara Diri".

Ketika salah seorang personel Discount melemparkan ratusan stiker ke arah penonton, sementara musik terus berdentam-dentam, suasana makin panas. Penonton yang rata-rata adalah anak-anak remaja belasan tahun dengan dandanan yang khas itu, langsung turun ikut berebut. Dan pogo terus dilanjutkan. Mereka bergerak, saling menabrakkan diri, saling terjang, dan terus bergerak!

Seperti penampilan kelompok musik yang lain, tak jelas benar syair yang diucapkan oleh Avev sebagai vokalis, kecuali hanya terdengar sebagai raungan dan jeritan. Bahasa dan kata-kata di situ seakan-akan tidak lagi menjadi penting untuk dikomunikasikan. Bahkan terkesan itulah yang mereka lawan. Karena itulah, jeritan, raungan, adalah satu-satunya cara untuk mengomunikasikan pemberontakan mereka.

Dan di situ juga bukan pada tempatnya orang bicara tentang kaidah-kaidah estetika yang konvensional. Sebab, musik-musik underground hadir dengan kaidah estetika musikalitasnya sendiri. Dan juga jangan ditanyakan skill dan permainan musik mereka. Paling tidak, seperti yang ditunjukan grup-grup yang tampil hari itu, seperti Discount, Victim of Rage, atau juga Crawl of The Dark, bisa dikatakan bahwa performance dan skill mereka di atas rata-rata. Setidaknya ketiga grup ini memiliki harapan yang lebih jauh dalam mengeksplorasi kemampuan mereka.

Setidaknya begitulah underground yang dipahami oleh remaja-remaja konyol yang ada di indonesia saat ini. Mereka hanya memahami underground movement sebagai musik, tanpa membawa ideologi tertentu. Mereka memang melakukan pemberontakan, dari penampilannya saja kita sudah bisa menilai sendiri bahwa mereka melanggar kaidah2 formal yang ada (dan saya suka). Dari segi cara bicara, cara hidup, dan hal lainnya mereka sengaja nyeleneh untuk memberangus belenggu kekakuan. Dalam sebuah wawancara yang saya lakukan bersama seorang kru posmagz terhadap salah satu komunitas punk di banjarmasin, mereka melakukan tindakan yang 180 derajat berbeda dari yang orang anggap karena mereka bosan dengan belenggu kekakuan yang dibuat oleh manusia.

Sebagai seorang yang sedikit ‘nge-punk’, saya juga membeontak belenggu kekakuan yang dibuat di oganisasi saya. Katanya gak layak seorang yang katanya aktivis (eh, gue aktivis ya?) menggunakan pakaian2 yang gak layak. Ah, gak layak yang seperti apa? Saya nutup aurat kok! Kan aurat cowok cuma diantara puser dan lutut? Kenapa pusing2 mikirin yang selain itu? Kalo memang Islam gak suka orang yang gak pake kemeja atau baju koko, atau pake sarung, kenapa Islam cuma membatasi aurat laki2 cuma sebatas puser sampai lutut?

Bedanya, pemberontakan saya punya dalil, sedangkan pemberontakan anak punk gak ada dalilnya. Koma!

Sebenarnya saya salut dengan pemberontakan yang dilakukan anak2 dari komunitas punk, skinhead, blackmetal, hardcore, atau apalah nanamanya.  Kabarnya, punk-pun lahir sebagai reaksi pemberontakan kaum buruh di pinggiran inggris terhadap kezaliman sistem! Kurang lebih sama dengan revolusi bolsjevic, mereka pun melakukan pemberontakan dan ingin menerapkan ideologi sosialis sebagai alternatif kapitalis disaat semua orang tertidur pulas di atas kasur berduri bernama demokrasi kapitalis (termasuk orang2 ‘sholeh’ yang sekarang masuk parlemen menikmati tai ayam demokrasi, hi..jijay)

Tapi…

Jauh sebelum kaum punk lahir, jauh sebelum tarian pogo jadi tren, jauh sebelum rambut mohawk jadi dandanan favorit, jauh sebelum gelang spike selalu melingkar di tangan remaja, jauh sebelum celana belel jadi dandanan khas anak muda, dan jauh sebelum dakwah lewat media sepeti posmagz ini ada, telah terjadi sebuah pemberontakan besar! Pemberontakan yang memberangus mainstream saat itu, pemberontakan yang tidak menyisakan lagi ketakutan, melainkan ketakutan akan azab Allah. pemberontakan yang menghilangkan segala kemarahan, kecuali terhadap kezaliman dan kekufuran, pemberontakan yang tak memberi tempat sedikitpun  bagi ideologi lain. Pemberontakan itu telah dicatat dengan tinta emas para ulama dan darah suci para syuhada. Pemberontakan Muhammad terhadap peradaban arab jahiliyyah!

Setelah pemberontakan suci itu, tak satupun wanita yang perlu takut keluar rumah, karena kehormatan mereka berada di bawah tanggung jawab sang kholifah. Setelah pembeontakan gemilang itu, tak satupun kebodohan dibiarkan melanda rakyat negara yang baru saja didirikan Muhammad di Madinah. Tak satupun negeri ditaklukkan, kecuali kerahmatan menaungi negeri tersebut. Tak satupun jiwa kaum muslimin gugur, kecuali dijanjikan surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.

Tapi… seribu tiga ratus tahun kemudian, disaat negara yang didirikan Muhammad telah melebarkan sayap kerahmatannya ke dua pertiga belahan dunia, romawi, persia, spanyol, dan negeri-negeri lainnya….seorang yahudi berkhianat! Dia bersekongkol dengan inggris untuk meruntuhkan negara itu (khilafah) dan membuat surat palsu untuk memecat kholifah Abdul hamid II dan kemudian mengasingkannya.

Ya, setelah sekian lama pertarungan fisik tak pernah bisa mengalahkan kaum muslimin dan negara Islam, akhirnya SANG KAPIR mengetahui rahasia kekuatan kaum Muslimin dan negara Islam, yaitu al-Quran! Selama al-Quran tidak dipisahkan dari kaum Muslimin, maka harapan untuk menghancurkan negara Islam adalah mimpi di siang bolong. Maka mulailah usaha mereka memisahkan kaum Muslimin dari al-Quran. Al-Quran hanya dijadikan ibarat penentram hati dikala duka, dan sekedar untuk dibaca dan ditenteng atau dimasukkan dalam tas setiap bepergian. Tapi, ajaran-ajaran yang temaktub dalam al-Quran sama sekali tidak dipedulikan. Sukser besar bagi SANG KAPIR!

81 tahun telah berlalu sejak negara adidaya itu runtuh, negeri-negeri bekas naungan negara khilafahpun menjadi potongan2 kue yang sangat menggiurkan bagi SANG KAPIR. Para wanita yang terlahir di negeri-negeri eks-khilafah pun sangat menggiurkan bagi tentara2 kapir untuk melampiaskan syahwatnya. Seluruh negeri kaum muslimin menangis dan berharap akan kembalinya negara impian itu. Tapi siapa saja yang berniat dan bersuara untuk mewujudkan kembali negara impian itu (khilafah Islam), maka dia adalah TERORIS! Dimulailah propaganda-propaganda buruk melawan terorisme. SANG KAPIR memaksakan undang2 anti-terorisme kepada setiap negeri kaum Muslimin.

BODOHNYA!!! Masih banyak kaum Muslimin yang tidak menyadari hal ini, mereka menganggap bahwa sistem yang ada sekarang adalah sistem yang ideal. Mereka menganggap demokrasi sudah final. Penguasa negeri2 kaum Muslimin pun semakin memperlihatkan kesetiaannya kepada negara2 KAPIR IMPERIALIS dan mengorbankan rakyatnya yang mayoritas Muslim.

Ya,

81 tahun telah berlalu sejak runtuhnya negara khilafah yang telah berhasil menaungi 2/3 belahan dunia selama 13 abad. Muncullah berbagai gerakan/harokah Islam untuk mewujudkan kembali negara khilafah Islam. Meski ditengah perjalanan banyak yang kehabisan nafas, namun tetap ada gerakan yang terus setia dan terus berjuang demi tegaknya negara impian, negara khilafah. Dan mereka adalah pemberontak!

Ya, mereka adalah pemberontak! Dan pemberontakan mereka adalah sebuah keharusan, pemberontakan yang dilakukan ditengah jerit tangis anak dan istri mereka. Mereka memberontak dengan segenap kemampuan dan segenap keikhlasan, dengan PEMIKIRAN yang akan memberangus aturan kufur di negeri ini dan negeri-negeri lainnya.

Apa bedanya pemberontakan mereka dengan pemberontakan kaum underground? Bedanya ada pada nilai. Meskipun pemberontakan yang dilakukan sama, yaitu sama2 memberontak kapitalis/aturan yang tidak ideal. Tapi dari sisi nilai, jelas berbeda. Pemberontakan yang dilakukan oleh kaum underground tidak dilandasi dengan motivasi ruhiyah, bahkan tak jarang dilakukan dengan MENIADAKAN TUHAN. Sementara, pemberontakan yang saya sebutkan belakangan (pemberontakan demi mewujudkan kembali khilafah Islam) dilandasi dengan motivasi spiritual (ruhiyah) dengan cara yang benar pula, yaitu dengan perang pemikiran.

Keep Revolt!!!