Wati Memakai Sepatu Tinggi

Wati lulus dari akademi sekretaris dengan nilai yang baik. Semua lulusan Akademi Sekretaris yang nilainya baik otomatis mendapat pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar, karena perusahaan besar selalu berkembang dengan pesat, dan karena itu selalu membutuhkan sekretaris yang baik.

Alhasil, pada suatu pagi wati sudah berhadapan dengan Sekretaris Kepala sebuah perusahaan. Inilah hari pertama sebagai pekerja dalam hidupnya, dan belum-belum ia sudah mendapat masalah.

“Engkau tahu apa kesalahanmu pada hari pertamamu ini?”
Wati tidak mengerti. Ia belum melakukan pekerjaan apa-apa.
“Tidak, saya tidak tahu.”
Sekretaris Kepala memandangnya dengan sengit. Baginya para sekretaris baru selalu merupakan ancaman.
“Lihatlah ke bawah,” katanya.
Wati melihat ke bawah, ia melihat sepatunya sendiri.
“Sepatu saya?”
“Ya! Sepatumu! Masa’ sekretaris pakai sepatu tennis!”
“Apa salahnya, yang dibutuhkan adalah kemampuan saya dalam kesekretariatan, bukan sepatu saya.”
“Kemampuan dan tampang, bego!”
“Tampang?”
“Wati, kalau kamu ingin bekerja diperusahaan ini, kamu harus mengenakan sepatu tinggi. Mungkin tidak usah tujuh sentimeter, tapi pokoknya sepatu tinggi. Karena hanya sepatu tinggi memberi image modern dan professional sebagai seorang sekretaris. Tampang seorang sekretaris adalah bagian dari image direktur dan perusahannya, jadi jangan memalukan.”
“Jadi, untuk apa saya belajar yang hebat-hebat, kalau penilaian pada diri saya hanya berdasarkan pakaian?” (Dikutip dari cerpen Wati Memakai Sepatu Tinggi karya Seno Gumira Ajidarma)
*****

Sepertinya sudah menjadi standar baku bahwa untuk memberi image modern dan profesional, wanita-wanitanya harus berblazer, plus blues, rok span, kosmetik dan minyak wangi yang mahal-mahal, tak ketinggalan juga sepatu tinggi yang menimbulkan irama ritmis, tak tik tak tik seperti mesin ketik kantor polisi. Tak peduli kakinya harus lecet, tungkainya kapalan, jari-jari kakinya mekar seperti kipas, betisnya mengeras karena harus menopang berat badan dengan kondisi tubuh tidak seimbang.

Bukan itu saja. Tuntutan untuk menjadi manusia modern diantaranya lagi adalah harus mempunyai struktur wajah yang berkarakter (?), tinggi dan berat badan harus proporsional. Untuk itu, mereka rela memeras tubuhnya di pusat-pusat kebugaran, ikut terapi penambah tinggi badan, keluar masuk salon, dan kalau perlu, bagian wajah dan tubuhnya direparasi baik dengan operasi plastik atau dengan menggunakan silicon. Wah..wah!

Hal ini juga didukung oleh tuntutan pasar. Maksudnya, agar dikatakan perusahaan-perusahaan bonafid, dalam penerimaan pegawai mereka merasa perlu untuk mencantumkan syarat-syarat sebagai berikut: Berpenampilan menarik, tinggi badan min. 165, dan bla…bla…yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan.

Manusia-manusia modern juga semakin hari semakin menampakkan gejala keedanan. Gimana kami tidak mengatakan edan. Untuk menjadi atau disebut sebagai manusia modern mereka menggunakana cara-cara yang “primitif”. Lihat saja, mereka memakai pakaian yang sudah tidak layak pakai. Robek sana sini. lengan cuma sebelah bergelantungan dan berumbai-rumbai (mengingatkan pada zaman tarzan saja). Bahkan baju tersebut tidak cukup untuk menutupi seluruh tubuhnya. Diangkat ke atas kelihatan di bawah. Cukup di bawah, kelihatan di atas. Bahannya juga aneh-aneh. Ada juga yang membuat baju dari kulit kerang, lempengan CD, dari kulit kayu, kulit binatang dan sebagainya.. Ditambah lagi dengan aksesoris yang semakin melengkapi ke’primitif’annya. Kalung dari gigi gajah, cincin dari tulang, anting-anting dari akar, dan sebagainya. Lebih edannya lagi, mereka rela merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pakaian dan aksesoris yang aneh-aneh tersebut, plus tingkah laku yang lebih aneh lagi. Lengkap dah! Ini zaman kebebasan! Teriak mereka serak. Ah..yang bener? Kebebasan yang seperti apa?

Modernisme : Kebebasan tanpa Nalar (Freedom without reason)

C. Wright Mills, sosiolog Amerika yang kontroversial, menandaskan bahwa pada abad XVIII, pemikiran pencerahan (atas nama nalar dan kebebasan ) telah meraup sukses besar (Succes story) dalam memusnahkan pelbagai ketidakadilan, kedunguan, dan prasangka dari order tua (the old order). Dalam pemikiran pencerahan (Enlightement), nalar dan kebebasan telah bersekutu dalam rangka perjuangan merontokkan rantai-rantai rejim kuno (Ancien regime) yang biasa disebut dengan abad kegelapan (the dark age). Akhirnya, tentu saja, pencerahan memberikan kontribusi besar kepada terjadinya revolusi prancis dan revolusi industri yang kemudian melahirkan masyarakat baru (new regime). Tapi sayang, setelah “pesta pora” perayaan kemenangan tersebut (kemenangan atas musnahnya abad kegelapan yang mengkungkung kebebasan dan nalar manusia dalam tradisi-tradisi gereja), dalam perjalanan sejarah selanjutnya, nalar dan kebebasan menjadi saling memusuhi.

‘Permusuhan’ antara nalar dan kebebasan ini berawal ketika manusia telah tiba di stadium kejayaan rasionalitas instrumentalnya, yaitu zaman ketika teknologi semakin menampakkan “keperkasaannya”. Zaman bisnis raksasa. Di zaman ini, menurut Horkheimer, individu (manusia) dipandang sebagai benda dan alat belaka. Individu benar-benar kehilangan identitasnya, no man! Manusia tidak mampu lagi bertindak sebagai “manusia” ataupun untuk sekedar merancang masa depannya sendiri. Untuk bisa bertahan, ia harus menyerahkan semua keterampilannya, kecendrungannya, dan nalarnya kepada perusahaan. Modal-modal raksasa yang buta itu menjadi maha tahu, sedang individu (manusia) menjadi mesin ‘yang dungu’ (Horkeimer dikutip dari Ridwan Al-makassary, 2000).

Pelan namun pasti, manusia menjelma menjadi ‘robot girang’ (cheerful robot, Mills)) yang miskin daya reflektif . Ia tidak mampu memahami muatan makna dari tindakan yang ditempuhnya. Ia tidak mampu berpartisipasi memformulasi tujuan dari pengejaran rasionalnya. Ia bertindak sesuai dengan dikte lingkungannya. Bergerak mengikuti sabda modernisme tanpa perlu mendiskusi, mendebat, menolak dan memutus berdasarkan nalar kritis dari tujuan tindakan yang seharusnya dipertanyakan kembali. ‘Robot girang’ hanya mengetahui bagaimana cara berbuat (what to do) namun tidak tahu mengapa itu harus dilakukan (why it is tobe done).

Selain Mills, kekhwatiran lain tentang kondisi manusia-manusia modern juga diungkapkan oleh Max Weber bahwa masyarakat modern menjadi maju secara teknologi diakibatkan oleh penyebaran rasionalisasi dalam format kapitalisme dan birokrasi. Teknologi mampu memproduksi lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit dan usaha yang sedikit pula. Masyarakat modern sukses meminimalkan pemiskinan material. Tetapi hal itu, ironisnya, digerakkan dengan jalan memiskinkan spirit manusia.

Kemiskinan spirit manusia inilah yang kemudian menyeret manusia modern kedalam situasi anomi atau normless yang merupakan jurang bahaya yang siap menghancurlumatkan masyarakat modern. Anomie, menurut Berger (dikutip dari Kematian Manusia Modern, Ridwan Al-Makassary, 2000) adalah mimpi buruk yang sempurna di mana individu hidup dalam dunia amburadul, kehilangan kepekaan, dan kegilaan. Anomie adalah titik yang tak tertahankan di mana individu mungkin memilih mati karenanya. Kekhawatiran yang sama juga dilontarkan oleh Emile Durheim. Dan dalam keputus-asaannya ia berteriak parau,”Agama adalah obat anomie masyarakat modern!”

Dari beberapa pemikiran panjang para sosiolog di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kita sebenarnya tengah berada dalam suatu pungkasan yang menemui jalan buntu, dan kita telah jauh terjebak di dalamnya.. Dan kebebasan yang menjadi “dalil” manusia-manusia modern sebenarnya telah memasung kebebasan manusia itu sendiri. Tepatnya: kebebasan yang memenjarakan!

Dalam kegamangan, kecemasan, ketidakpastian, ketakutan, putus asa, fatalisme, dan kehilangan harapan, manusia-manusia modern memilih untuk menceburkan diri dalam lautan kegilaan.

Tidak harus ikut-ikutan gila.

Kegilaan zaman yang sudah semakin tua dan keriput ini dulukiskan dengan sangat jitu oleh Pujangga Jawa Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam Serat Kalatidhanya : Amenangi zaman edan/ ewuh aya ing pambudi/ melu edan nora tahan/ ning yen tan melu/ boya keduman melik/ kaliren wekasani pun/ sabeja-bejane kang lali/ luwih beja kang eling lawan waspada Yang saya coba artikan: Mengalami zaman edan/bingung dalam bertindak/ ikut edan enggak tahan/ kalau enggak ikut edan/ enggak kebagian, kelaparan akhirnya/ insyallah, seuntung-untungnya yang gila masih lebih untung yang ingat dan waspada.

Ditengah kebingungan yang tak berujung pangkal ini, ikut edan bukan cara yang tepat. Apalagi kita sebagai muslim yang mempunyai pegangan yang kuat untuk tidak ikut terombang ambing oleh arus zaman. Al-Qur’an dan As-sunnah, telah memberikan jawaban tuntas dari pertanyaan-pertanyaan yang selalu hadir dalam kebimbangan pencarian jati diri sebagai manusia.

Masalahnya, ketika kita terlalu jauh terseret arus zaman, masihkah ada keinginan dari kita untuk kembali ke ajaran Al-Qur’an dan As-sunnah lagi?

” Sungguh aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Sesuatu tersebut itu adalah sesuatu yang jelas, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya” sabda Rasulullah.
“Kebenaran adalah dari Tuhanmu, maka janganlah kamu menjadi orang yang ragu,” Firman Allah SWT.

Masihkah kita ingin ikut-ikutan edan?!

Ya Allah, ketika kebenaran nampak sebagai kebatilan, dan ketika kebatilan nampak sebagai kebenaran, maka tunjukkanlah yang benar itu benar, dan berilah aku kemampuan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah yang batil itu batil, dan berilah aku kemampuan untuk menolaknya. Amin!

Leave a Reply