Refleksi
Tiga anak kecil bersama bapak dan ibunya berdiri mematung memandangi bangunan yang telah menjadi puing di depannya. Bangunan yang dulu megah dan kokoh kini telah rata dengan tanah. Suatu kenyataan pahit yang harus mereka terima.
“Kemana kita pergi sekarang, Pa?” Anak yang paling sulung bertanya.
“Kita tetap di sini, Nak”
“Di tempat ini?”
“Ya!” Jawab bapaknya mantap.
“Dengan keadaan seperti ini?”
Ayahnya mengangguk.
“ Kenapa kita tidak menumpang ditempat orang, Pa”
Laki-laki berumur sekitar 45 tahun itu menatap anak sulungnya yang bertanya tadi kemudian memegang bahu anaknya dan berkata lembut,” sejak kapan Bapak mengajarimu menjadi cengeng? Lihatlah bangunan yang telah runtuh itu. Kita masih bisa membangunnya kembali, walau untuk sementara tidak sekokoh dulu, tapi suatau saat kita bisa merenovasinya menjadi bangunan yang megah dan indah yang kembali dapat menanungi kita semua.
“Mungkinkah itu, Pa?” Mata itu menatap bapaknya tak percaya. Bapaknya mengangguk dan tersenyum.
“Tinggal ditempat sederhana itu lebih baik dari pada tinggal ditempat yang bagus tapi numpang.”
Wajar jika anak tadi bertanya tentang ketidak mungkinan itu. Puing-puing didepannya semakin meyakinkannya bahwa impiannya bapaknya terlalu indah untuk diwujudkan. Ia menganggap bahwa kata-kata bapaknya hanya sekedar untuk menghiburnya. Anak itu tidak pernah tahu bahwa bapaknya masih punya simpanan uang untuk dapat membangun kembali rumah mereka walaupun tidak sekokoh dulu. Tapi setidaknya bapaknya telah mengajarkan kepada anaknya untuk tidak mudah berputus asa, berfikiran skeptis dan terlalu bersandarkan kepada realitas. Sesuatu bisa aja mungkin selama kita mau berusaha. Yang tidak mungkin apabila kita hanya tidur dan pasrah pada nasib. Percayalah bahwa LANGKAH KE SERIBU SELALU DI MULAI DENGAN LANGKAH PERTAMA!!!
******
Barangkali kawan akan bertanya apa maksud saya mengawali tulisan ini dengan analogi seperti di atas?. Jujur, saya hanya ingin menyuguhkan kenyataan yang tak kalah pahitnya dari realitas tersebut yaitu bahwa Umat Islam dulu pernah memiliki sebuah “rumah” yang megah dan kokoh yang menaungi seluruh umat Islam. Tapi apa yang terjadi sekarang? “Rumah” itu telah 81 tahun runtuh sejak runtuhnya Turki Utmani, yang kejadiannya tepat pada tanggal 3 Maret 1924. Yang tak kalah pahitnya lagi (lebih pahit dari oseng-oseng pare) adalah sebagian besar umat Islam tidak mengetahui hal ini. Dari polling yang dilakukan oleh kru Positip ternyata hampir 99% tidak mengetahui apa yang terjadi pada tanggal 3 Maret 1924. Menyedihkan banget kan?
Oh…Kawan bangunlah….matahari telah tinggi. Hapuslah iler kalian, Preteli belek-belek yang menutupi pandangan kalian dan kemudian bukalah jendela kamarmu dan lihatlah apa yang terjadi di luar sana!!!. Maka saya yakin kalian akan kaget melihat kenyataan bahwa sekarang UMAT ISLAM DI JAJAH!!! UMAT ISLAM YANG BANYAKNYA LAKSANA BUIH DI LAUTAN TELAH DI MAMAH DENGAN RAKUS OLEH UMAT LAIN SEBAGAIMANA ANJING-ANJING YANG MENGELILINGI HIDANGAN.
Kalian belum juga menyadarinya? Wah payah banget! Terlalu!
Kalau memang demikian yang kawan alami, maka segeralah kawan cuci muka berwudlu dan tersungkurlah, beristigfar mohon ampunan kepada Sang Ilahi, karena kalian telah lama tertidur dan betul-betul tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan nasib Umat Islam sekarang. Mohon ampunlah, karena Rasul junjungan kita telah bersabda bahwa barang siapa yang ketika bangun pagi tetapi tidak memikirkan nasib umatku, maka bukan termasuk golonganku.
Camkanlah kawan, kemana lagi kita mencari tempat perlindungan, tempat untuk di mohonkan syafaat kalau bukan kepada baginda Rasulullah. Tapi apa yang dapat kita lakukan ketika Rasulullah tidak mengakui kita sebagai umatnya?
Hiksss…(terdengar isak tangis di pojok sana)
udah..udah…bukan saatnya menyesali diri. Saatnya sekarang kita buka mata, buka telinga, buka hati dan kemudian dengan berbekal potensi yang ada dalam diri kita bersama dalam satu barisan untuk kembali mengangkat derajat kaum muslimin di mata dunia sebagai umat terbaik. Gimana? Siap?!!! (Siap boss!) Nah gitu dong. Ini baru generasi militan!
*****
Kawan, fakta tentang begitu mengenaskannya nasib kaum muslimin berceceran di mana-mana. Yang baru-baru ini yang masih segar bugar dalam ingatan kita adalah infasi Amerika terhadap Irak di susul kemudian Iran. Kekejaman yahudi terhadap saudara kita di palestina, afganistan dan Negri-negeri muslim lainnya. Tak terhitung berapa gallon sudah darah yang tumpah dari saudara kita kaum muslimin. Berapa Drum sudah air mata yang terkuras dari ayah yang ditinggal anaknya,dari ibu yang di tinggal buah hatinya, dari suami yang di tinggal istrinya, dari istri yang ditinggal suaminya. Sungguh tak terhitung kawan!
Di Indonesia sendiri pegimane? Eiiit…Jangan dikira aman dulu. Kalau kawan menyangka bahwa Indonesia bebas dari “penjajahan” Kaum kafir imprealis, berarti kawan salah besar (Maaf atas vonis ini). Kaum kafir imprealis (As dan konco-konco setianya) telah mencengkramkan taringnya di Indonesia dengan melalui jeratan utang. Berapa utang kita? $83,5 miliar Man (Rp. 616,63 triliun)! Itu adalah jumlah yang sangat besar (apalagi dibandingkan dengan kita yang masih di subsidi oleh ortu). Nah, dengan utang itu mereka dengan enaknya mendikte Indonesia (pemerintahnya).
****
Dalam sebuah diskusi dengan teman-teman di sebuah kedai kopi tak jauh dari kos kami terlibat pembicaraan seru. Intinya ialah sikap skeptis mereka terhadap perkataan saya yang mengatakan bahwa hanya dengan suatu khilafah (Daulah Islamiyah) Islam dapat diterapkan secara totalitas (kaffah). Menurut saya (dalam diskusi tersebut) adalah sutu kebohongan besar jika kita menginginkan kelanjutan kehidupan Islam yang mencakup seluruh sendi kehidupan jika kita masih hidup dalam system kufur produk otak udang manusia.
Diantara argument yang dilontarkan untuk menolak system khilafah adalah alas an sejarah. Sejarah Khilafah digambarkan sebagai fragmen kehidupan yang penuh darah, kekacauan, dan konflik. khalifah yang otoriter dan diktator, pembunuhan yang terjadi pada masa khulafaur-rasyidin , dan perlakuan Islam yang diskriminatif terhadap non-Muslim dan Wanita. (Jujur pernyataan ini juga yang saya lontarkan ketika pikiran-pikiran saya masih di selimuti virus realitas zaman kepada pemateri dalam kajian Islam kontemporer yang diadakan rutin oleh LDK Unlam, dari jawaban pemateri itulah kemudian saya bisa menjawab pertanyaan teman saya dalam diskusi di warung kopi saat itu, saat hujan mengguyur Banjarmasin)
Lewat media jelek ini (dengan segala keterbatasan saya tentunya, juga keterbatasan space yang diberikan kepada saya ) saya mencoba menjelaskan bahwa ada beberapa kesalahan mendasar dari argumentasi di atas, Pertama, kesalahan dalam menempatkan posisi sejarah Islam. Perlu diketahui bahwa kewajiban menegakkan khilafah bukanlah didasarkan pada argumentasi sejarah. Artinya sejarah bukanlah dalil untuk menerima atau menolak system khilafah. Dalam Islam yang menjadi dalil syari’at adalah al_qur’an, as-Sunnah, Ijma’ Sahabat dan Qiyas. Karena itu kewajiban Khalifah haruslah merujuk pada empat dalil tersebut.
Namun bukan berarti kenyataan sejarah tidak ada artinya sama sekali. Kita juga diharuskan untuk menengok sejarah masa lalu untuk dapat digunakan sebagai perenungan. Dari sejarah kita mengetahui apakah hukum-hukum syari’at Islam tersebut telah dilaksanakan atau tidak; apa akibat kalau hukum-hukum syari’at tesebut tidak dilaksanakan. Sebab, manusia sebagai pelaku hukum-hukum syari’at adalah tempat salah dan khilaf begitu juga dengan para khalifah. Satu-satunya yang ma’shum yang tidak mungkin keliru adalah para Nabi dan Rasulullah.
“Intrupsi…kalau gitu dalam penerapan system sekuler pun (system kapitalis atau sosialis dengan sistem cabangnya yang berupa Demokrasi, HAM, Pancasila de el el) itu juga tidak salah. Yang salah adalah orangnya, bukan sistemnya”
“Hmm.. gitu ya? Maaf, boleh saya lanjutkan dulu penjelasan saya, baru saya jawab pertanyaan Anda?”
“Yup”
(Menarik nafas panjang sambil menyeruput teh hangat ) Oh, ya sampai di mana tadi penjelasannya?”
“tentang kesalahan mendasar dari argumentasi penolakan mereka terhadap system khilafah”
Okey saya lanjutkan, sebagai system yang dipraktekkan oleh manusia, system khilafah adalah system politik yang manusiawi. Karena itu, dalam berbagai praktik system khilafah, bisa saja terjadi kekeliruan. Namun yang penting dicatat di sini adalah bahwa penyimpangan yang dilakukan oleh khalifah atau pejabat Negara, bukan berarti menunjukkan bahwa system khilafahna salah dan keliru. Tidaklah relevan menyalahkan system yang ideal dengan melihat kesalahan dari pelakunya.
Contoh sederhana adalah memandang Islam sebagai agama yang buruk hanya karena melihat prilaku sebagian para pemeluknya saat ini. Di Indonesia, misalnya, pembunuh, pemerkosa, garong, koruptor banyak yang berlebel Islam, tapi apakah itu berarti bahwa Islam menganjurkan untuk membunuh, memperkosa, mencuri, menyabet milik orang lain yang bukan haknya, korup dan sebagainya? Tentu tidak kan?
Kawan, kita jangan terjebak pada generalisasi. Maksudnya, menyimpulkan bahwa system khilafah sebagai system yang buruk hanya dengan mengungkap beberapa fakta sejarah. Beberapa fakta sejarah tentang sikap Khalifah tidaklah mencerminkan keseluruhan dari system khilafah tersebut. Apalagi yang dilakukan oleh khalifah tersebut adalah bentuk penyimpangan dari system khilafah yang benar. Tentu keliru menggambarkan masa pemerintahan Bani Umayah dengan hanya memfokuskan sejarah seorang Yazid atau menggambarkan masa pemerintahan Bani Abbas hanya dengan mengambil sebagian peristiwa dan tingkah laku para khalifahnya. Apalagi yang menjadi fakta sejarah adalah buku-buku sejarah yang dibuat oleh musuh-musuh Islam yang nyata kebenciannya terhadap Islam.
‘Gimana? Kamu setuju?”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, kawan,”
“Oh, tentang system sekuler. kawan percaya dengan ungkapan bahwa yang salah dari system itu hanyalah pelakunya? Bukan sistemnya?”
“yup,”
“Apa landasan kawan mengatakan demikian?”
Sejenak dia terdiam menatap cicak dengan ekor terputus yang sedang melintas.
Setelah menyeruput teh yang mulai dingin aku mulai angkat bicara lagi. Ku tatap manik-manik matanya.
“Kalau kawan tidak mempunyai landasan yang membenarkan argumen anda bahwa system sekuler hanyalah kesalahan pelakunya bukan sistemnya, berati argumen anda lemah. Kalau saya selama napas belum lepas dari ubun-ubun tetap tidak akan sudi berteduh di bawah system sekuler kapitalis yang nyata-nyata tidak pernah memberi keteduha itu”
“Kamu terlalu berteori kawan, coba terangkan alasan yang masuk akal”
“okey, (kembali kutatap manik-manik matanya). Yang membuat system sekuler itu siapa?” manusia kan? Bagaimana mungkin kawan mengimani system buatan manusia yang tempat bercokolnya salah dan khilaf, yang pengetahuan hanya seupil dibandingkan dengan ilmu Allah?”
Sepi
“Bagaimana mungkin seorang manusia bisa membuat aturan tentang manusia sebumi, sedangkan dia sendiri terikat oleh waktu dan ruang. Akalnya terbatas, dan indranya hanya mampu menjangkau jarak berapa meter?
Dingin
Bagaimana mungkin seorang manusia bisa membuat aturan yang sempuna, sedangkan dirinya sendiri terkungkung oleh sejuta keterbatasan?”
Gerimis mulai turun satu persatu.
“Setolol-tololnya orang yang membuat aturan tadi, masih lebih tolol yang membebek aturan tersebut”
Dia tersentak, mukanya memerah.
Maaf, kawan….