Pembusukan Budaya

Cerita seorang teman yang kuliah di kota metropolitan sana, bahwa pergaulan disana sudah sangat memprihatinkan. Adegan mesra antara lawan jenis dengan mudah dapat dijumpai di mana -mana. Di mal, di pinggir jalan, di angkot, di pojok kampus, di kos, pokoke adegan seperti itu sudah menjadi tontonan umum. Bahkan yang lebih seru dan lebih gawat lagi, teman saya tanpa sengaja menyaksikan “adegan gulat” antara dua lelaki homo di sebuah taman. Dan yang sangat mengherankan, kata teman saya, orang-orang disekitar taman yang juga menyaksikan “adegan gulat” tersebut tidak merasa heran, seolah-olah kejadian seperti itu merupakan hal yang wajar dan biasa dalam budaya kita. Juga tidak ketinggalan gambar-gambar porno yang dapat membuat manusia sesak nafas, terpajang dengan damai dimana-mana. Di majalah, tabloid, cover neovel picisan, di pinggir jalan, di depan gedung bioskop, di toilet dan sebagainya.

Barangkali teman saya merupakan salah satu generasi yang mengalami “keterlambatan budaya” demikin pula halnya saya, karena masih mempersoalkan hal-hal yang menurut orang lain sesuatu yang biasa. Bukankah hal-hal seperti yang tergambar tadi merupakan gejala kemajuan budaya? Entah dilihat dari sudut pandang yang mana.

Teman saya bertanya tentang keadaan disini (di banjarmasin), saya bilang bahwa keadaan disini masih baik-baik saja (walaupun bukan berarti tidak ada), dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya, masih mending. Nilai-nilai relegius masih tertanam kuat dalam praksis budaya masyarakat. Jawaban saya subyetif aja, karena saya sendiri belum terlalu jauh menjelajahi kota ini. Barangkali kalau ditelusuri lebih jauh, keadaannya lebih dari sekedar “baik-baik saja” (semoga persepsi ini salah).

Meminjam istilahnya Mustofa W. Hasyim, bahwa lambat tapi pasti, kita sedang mengalami apa yang dinamakan proses “pembusukan budaya” .

Kalau kita cermati lebih jauh lagi, sebenarnya “pembusukan budaya” hanyalah merupakan gejala pelengkap, karena pada saat yang bersamaan juga telah terjadi proses pembusukan yang menyentuh hampir semua sektor kehidupan manusia. Pembusukan politik, pembusukan ekonomi, pembusukan sosial dan sebagainya, dengan indikasinya masing-masing.
Kita perlu bersyukur, apabila masih ada orang yang merasa sesak nafas mencium kebusukan-kebusukan yang terjadi disekitarnya. Karena tidak dapat dibayangkan apabila “hidung” kita sudah tidak peka lagi untuk mengindrai kebusukan-kebusukan tersebut. Bahkan tidak jarang orang sekarang memilih untuk menyetel sedemikin rupa indra penciumannya agar tidak dapat mencium kebusukan atau memilih untuk mem-bloon-kan diri seolah-olah tidak pernah terjadi pembusukan , dan itu merupakan salah satu cara ampuh dan jitu untuk dapat bisa hidup damai dan tenang di tengah-tengah kebusukan. Atau memang kita tidak dapat mencium kebusukan tersebut karena saking dekatnya alias kita sendirilah sumbernya. Bukankah yang busuk-busuk yang bersumber dari diri kita sendiri, kita tidak pernah menganggapnya busuk?.

Bukan saatnya kita diam

Melihat realitas pembusukan yang terjadi secara kaffah dan berjamaah tersebut, tidak harus membuat kita frustasi berat, apalagi sampai pingsan segala, tapi juga bukan dengan cara diam atau mem-bloon-kan diri, seolah-olah semuanya baik-baik saja, karena kenyataanya, pembusukan itu ada dan terjadi di depan hidung kita.
Kata sebagian orang, diam itu emas, walau kata dosen bahasa inggris saya , “silent is not always golden”. Diam bisa berarti ketidak-berdayaan. Diam juga bisa merupakan ungkapan pengakuan tidak langsung bahwa dialah pelakunya. Misal, ketika kenyamanan kita menikmati perjalanan di sebuah angkot tiba-tiba terusik oleh “aroma tak diundang” yang tiba-tiba hadir, orang-orang dalam angkot tersebut serentak melakukan pencarian dengan hidung masing-masing mencari sumber aroma tersebut, tapi ada salah seorang yang diam saja, dan seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa, maka kita akan berfikir, “ jangan-jangan …dia pelakunya”. Nah…Hayo ngaku! Walaupun sebetulnya hal ini tidak bisa dijadikan acuan, karena sekarang manusia semakin pintar untuk mengelabui orang. Dia yang melakukan pembusukan, tapi malah dia yang paling duluan nutup hidung dan paling nyaring suaranya untuk membasmi kebusukan, bahkan dia sendiri yang mengetuai “tim pencarian pembusukan” dan tanpa basa-basi menuduh orang lain sebagai pelakunya.

Jika pembusukan tersebut mencapai titik yang dominan, maka diam itu adalah dosa! “jika kamu melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tanganmu, apabila tidak mampu maka rubahlah dengan lidahmu, jika tidak mampu maka dengan hatimu, dan itulah selemah-lemahnya iman” sabda Nabi.

Kenapa kita mesti terbebani untuk melakukan perubahan baik dengan tangan maupun lisan?. Logika sederhananya, jika kita melihat orang yang buang sampah disembarang tempat, walaupun itu di got atau dikolong rumahnya sendiri, kemudian kita hanya diam dengan alasan, itu kan hak atau urusannya mereka, maka apabila terjadi banjir, apakah banjir tersebut hanya akan menimpa orang yang membuang sampah tadi?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ath-Thabrani, Rasululah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat umum karena perbuatan orang-orang tertentu hingga masyarakat umum melihat kemungkaran di hadapan mereka, sedangkan mereka mampu mengingkarinya, tetapi mereka tidak mengingkarinya. Jika mereka berbuat demikian, Allah pasti akan menyiksa masyarakat umum dan orang-orang tertentu itu”
Oleh karena itu, masyarakat secara umum harus berusaha sekuat mungkin dan sungguh-sungguh untuk mencegah dan menghalangi segala jenis perilaku “pembusukan”. Masyarakat harus meningkatkan intensitas amar ma’ruf nahi mungkar baik dalam hal kualitas ketegasan maupun kuantitasnya.

Ramadhan, Momentum menuju titik fitri
Setelah sekian lama berbusuk-busuk ria, marilah kita bersama-sama mandi dan menyabuni diri di telaga Ramadhan. Walau idealnya, untuk mandi dan menyabuni diri tidak perlu harus menunggu datangnya bulan Ramadhan karena pintu magfirah Allah selalu terbuka lebar untuk hambanya yang mau bertobat dan menyerahkan diri. Dan kita sungguh sangat lemah dan tak berdaya walau sekedar menentukan apakah usia kita masih bisa sampai kepada ramadhan berikutnya.

Kadang tidak habis pikir, kenapa setelah kita mensucikan diri di bulan Ramadhan, kita harus mencemplungkan diri kita lagi ke comberan kehidupan? Kenapa kehidupan yang demikian yang menjadi pilihan kita? Sedangkan jalan yang lurus dan di ridhai Allah masih terbentang luas? Apakah keruwetan hidup telah memuaikan dan melelehka keimanan kita, juga kemanusiaan kita sehingga kita tidak mampu lagi membedakan mana yang harum mana yang busuk?

Manusia adalah Ahsanu At-taqwiim (sebaik-baik makhluk), dan kita sendiri yang memilih untuk menghempaskan diri kedalan status asfala saafiliin (sejelek-jelek makhluk) dan bahkan kal an’aam bal Adhollun (seperti binatang, bahkan lebih jelek).

Merenungi kembali bencana-yang menimpa kita yang sepertinya sangat komplit. Tidak hanya bersentuhan dengan salah satu sisi kehidupan saja, tetapi hampir menyentuh semua sisi kehidupan. Mulai dari bencana alam (kekeringan, kebakaran hutan, banjir daan sebagainya), bencana kecelakaan, bencana ekonomi-keuangan (krisis yang berkepanjangan, harga barang yang semakin melonjak), bencana sosial (kerusuhan-kerusuhan), bencana politik, bencana budaya ( makin dominannya budaya hedonisme, materialistik, sekularistik dan sebagainya), bencana hukum (ketidakadilan, keriminalitas yang semakin meningkat), seharusnya membuat mata kesadaran kita terbuka. Karena apabila hal tersebut belum juga mampu membangunkan kesadaran kita, maka teguran Allah bukan lagi berupa “cubitan”, bukankah kadang manusia dipenthung dulu baru sadar? Dan apabila hal itu betul-betul terjadi, kita hanya bisa melongo dan berkata,” Kog bisa begini?”. Terlambat!

Leave a Reply