Menyebrang Samudera Tanpa Bahtera
Kebangkitan Islam telah lama dicanangkan. Namun, perumusannya boleh dikatakan tetap simpang siur, termasuk apa hakikat kebangkitan Islam itu, bagaimana mencapainya, dan darimana memulainya. Sebagian kalangan memandang kebangkitan Islam harus dimulai dengan dari kebangkitan akhlak, sebagian lain menunjuk kebangkitan ekonomi; Sebagian lagi berkeyakinan bahwa kebangkitan Islam harus dimulai dari sekaligus dicirikan oleh kebangkitan tekhnologi, dan lain-lain.
Sementara itu dalam realita di masyarakat banyak kita jumpai elemen umat yang sudah dan tengah mengusahakan kebangkitan umat berdasarkan visi, persepsi, dan orientasi masing-masing. Tetapi, tidak jarang usaha mereka justru kontraprodiktif dengan kebangkitan Islam itu sendiri.
Saya sependapat dengan yang dinyatakan Dr. Ing. H. Fahmi Amhar, seorang peneliti senior pada Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakorsurtanal), yang juga merupakan dosen luar biasa pada pascasarjana IPB dan Univ. Pramadina. Bahwa kebangkitan umat Islam atau umat Islam dikatakan mengalami kebangkitan bila umat iIslam secara real tidak lagi terjajah, politik mereka benar-benar independent, ekonomi mereka tidak dijerat hutang, hokum mereka bukan hukum imitqsi warisan penjajah, dan budaya mereka tidak membebek pada orang-orang kafir.
Tidak bisa dipungkiri untuk mewujudkan sebuak kebangkitan haruslah diawali dari kebangkitan cara berfikir umat Islam sendiri. Apalagi sebenarnya potensi kebangkitan yang ada di tengah umat Islam saat ini boleh dikatakan besar. Dari rahim umat Islam sedunia sudah lahir berjuta-juta muslim yang memiliki potensi besar, baik sebagai ulama, saintis, teknokrat, ataupun industriawan.
Sayangnya, ibarat sapu lidi, mereka seperti lidi yang bertebaran, tidak diikat agar bisa digunakan secara efektif. Sebagian besar dari mereka justru berkiprah di nereri-negeri Barat seperti Jerman, Prancis, Inggris, AS, dan Jepang. Mereka dikirim kesana untuk belajar sampai meraih PhD. Kemudian mendapati bahwa situasi dan kondisi negeri asal mereka belum siap untuk menggunakan keahlian mereka. Akhirnya mereka memetap di sana. Merekalah yang membuat pesawat di jerman, reactor nuklir di Inggris, atau satelit di AS.
Sesungguhnya peluang bagi kebangkitan umat Islam adalah besar. Saat ini kreadibilitas Barat, terutama AS semakin turun. Mereka tidak konsisten dengan jargon-jargonnya sendiri seperti demokrasi, HAM, dan lain-lain. Untuk jangka panjang mereka juga membahayakan masa depan mereka sendiri, dengan kerusakan ekologi,yang sangat parah di planet ini, akibat ketamakan ideologi mereka. Hubungan sosial di dalam masyarakat mereka juga amat rapuh.
Namun., walau peluang untuk menuju kebangkitan besar, tetapi tantangannya juga tak kurang besar. Dari segala lini, umat Islam sudah di gempur. Sudah berpuluh tahun kepada mereka dicekokkan pendidikan sekular, ekonomi ribawi, budaya ‘membebek’, bahkan kepercayaan yang sinkretis (semua agama sama). Para kapitalis tidak rela keeeepentingan kapitalistik-egoistiknya di masa depan tergugat oleh bangkitnya umat Islam. Karena itu mereka mengerahkan segala cara untuk menghadang Islam ideologis yang mereka ketahui memiliki potensi sangat besaruntuk membawa umat Islam kepada kebangkitan. Sehingga setiap gerakan. Orang yang bersikukuh memperjuangkan ideology Islam mereka tuduh teroris.
Di lain pihak, umat Islam sendiri ketika melihat kemajuan tekhnologi Barat yang memang maju pesat, lantas berpendapat kalau umat Islam hanya akan bangkit dengan tekhnologi. Bagi kalangan ini, kemajuan tewkhnologi adalah syarat sebuah kebangkitan. Padahal sebenarnya tekhnologi bukan syarat kebangkitan.. Karena dimanapun tekhnologi lebih sebagai produk dari proses sosial yang telah berhasil. Walau begitu tekhnologi jelas memiliki peran dalam proses kebangkitan. Sebab meski bukan yang paling mendasar, tekhnologi bisa menjadi titik masuk yang baik untuk dakwah kebangkitan Islam. Eropa sendiri baru menelurkan banyak penemuan teknologi setelah konflik (penguasa) negara dengan (kalangan) agama mereda. Demikian juga, Amerika baru menyusul ketertinggalan tekhnologinya setelah perang saudara yang melelahkan berakhir.
Dalam sejarah Islam, pada masa peradaban Islam memimpin dunia dan ilmuan Islam bermunculan khilafah menempuh strategi tiga jalur sekaligus untuk memajukan tekhnologi; Kesadaran individu kultrural,dan sruktural.
Pada level individu ditanamkan ajaran Islam yang mencintai ilmu dam memerangi takhayul, serta bahwa bila ada sustu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan Sesuatu, maka Sesutu itupun menjadi wajib. Dan sesuatu ini bisa tekhnologi. Misal, jihad hukumnya wajib. Jihad tidak akan sempurna bila tekhnologi pendukung tidak ada maka kaum muslim lalu mengembangkan astronomi (untuk menavigasi armada laut), kedokteran (untuk mengobati mujahidin yang terluka), atau kimia (untuk bikin mesiu / senjata), dsb. Bisa disimpulkan dalam hal tekhnologi khi;afah akan memacu dan mengembangkan inisiatif dan kreativitas individu untuk kemajuan tekhnologi.
Pada level kultutral, disemai opini bahwa menjadi saintis dan teknokrat itu terhormat, baik secara duniawi maupun ukhrawi. Tinta ilmuwan itu, sama beratnya dengan darah syuhada. Walhasil,rakyat jelata lebih mengagumi para ilmuwan, saints, atau teknokrat, dari pada artis atau penyanyi dangdut. Para hartawan pun belum puas sebelum “jor-joran” untuk kemajuan tekhnologi. Mereka wakaf perpustakaan, lab, atau observatorium, lengkap dengan membayar tenaga ahlinya.
Kebijakan pada level individu dan kultural itu tentunya harus didukung strategi ketiga, yaitu pada level structural negara. Pada level ini, negara jelas sangat berperan. Amerika saja bisa sangat maju kartena negara memberi stimulus yang luar biasa. Tekhnologi computer, ponsel, dan internet, semula dikembangkan untuk keperluan petahanan. Dalam negara khilafah, negara sponsor pengembangan jenis tekhnologi yang perlu pethatian lebih. Para ulama atau saints digaji, sekolah-sekolah unggulan dibuka gratis. Ini persis, seperti yang dilakukan Jerman saat ini, di mana sekolah sampai PhD juga gratis.
Walau tekhnologi Umat Islam saat ini tidak semaju Amerika atau Jepang, kaum muslim tetap mampu bangkit melawan musuh-musuh yang menghalangi. Karena masalah sebenarnya terletak pada manusia-manusianya. Tekhnologi bisa dihancurkan dalam sekejap atau dihabisi pelan-pelan dengan embargo. Tetapi kalau yang dimiliki adalah sumberdaya insani yang kuat akidahnya, teguh menggenggam mabda (ideology) islam, dan istiqomah melaksanakan segala perintah syariat yang merupakan konsekuensi mabda dalam waktu singkat kaum muslim bisa menyusul ketertinggalan tekhnologi.
Sejarah masa lalu telah membuktikan ini. Misalnya, dulu tekhnologi Rasulullah jauh di bawah Romawi dan Persia. Tetapi, para Sahabat Rasulullah di bawah naungan sistewm khilafah lkemudian terbakar oleh mabda Islam yang memerintahkan untuk menuntut ilmu, walaupun sampai ke negeri China. Maka Jadi, persoalannya bukan , “Where are you?”, namun “Where we are going to ?” Bukan tekhnologi yang tersedia di dunia Islam sekarang, namun tekhnologi yang akan dikuasai setelah kebangkitan.
Kebangkitan baru bias dimulai bila taraf berfikir umat telah mengalami kebangkitan. Lalu dijadikan pikiran-pikiran yang bangkit itu menjadi opini umum. Kemudian opini umum tersebut akan menjadi perasaan umum yang menyatukan masyarakat. Setelah itu, tinggal mencari kekuatan yang mampu melindungi, menjadi wadah penerapan seluruh syari’at Islam, baik politik ekonomi, pendidikan dan pengembangan teknologi yaitu berupa institusi khilafah. Insyaallah setelah itu kebangkitan akan diraih Islam dan kaum muslim.
Jadi mungkinkah Islam bangkit tanpa sebuah institusi khilafah? Jawabnya adalah: Sulit!. Sama sulitnya membayangkan orang berdiri tanpa kaki atau berenang menyeberangi samudra tanpa bahtera.