Karena Kita Bukan Kodok!

Hanya kodok yang terus menerus merasa asyik berkubang dalam panci walau panci itu berisi air yang mendidih terjerang panas. Sungguh, betapa malanganya kita jika bangga menjadi warga kodok yang tidak siap menghadapi gelombang perubahan (Setiawan Djody)

Kita tidak perlu takut dengan perubahan. Karena kehidupan tidak pernah stagnan. Selalu bergerak tanpa mampu kita cegah. Dari zaman primitif-tradisional, industri-modern, dan kemudian kita akan memasuki masa post industrial, gelombang ketiga, dan yang paling menggemparkan adalah globalisasi. Dan kita pun bakal memasuki era post capitalism, post structuralism, post modernism yang kita kenal dengan posmo (mengutip berbagai pendapat kaum futuristik Daniell Bell, Alvin Toffler, dan John Naisbitt). Ah..sepertinya hidup selalu bergerak linier, dan tidak memberikan kesempatan bagi kita untuk menoleh ke belakang. Padahal itu perlu, setidaknya untuk renungan.
Dari perubahan-perubahan yang meledak-ledak ini, saya sendiri sering mempertanyakan : What change? Perubahan yang sekedar berubah inikah yang sejatinya di sebut perubahan?
Apa pun jawabannya, perubahan adalah keniscayaan! Seperti peristiwa yang digambarkan dalam teori catastropy pada ilmu matematika.
Pertanyaan sentral sekarang adalah: Dimana peran umat Islam di tengah-tengah perubahan yang menimbulkan ledakan-ledakan sejarah tersebut?
“Sebagai pecundang!” Celetuk Ceplik yang tiba-tiba muncul dari balik tirai gerimis.
Tentu tidak! Umat Islam pernah memegang kendali peradaban selama berabad-abad. Dan dunia mengakui (kalau mau jujur) betapa besar kontribusi umat Islam terhadap kemajuan peradaban.
Timbulnya gerakan kebangkitan kembali (renaissance) yang terjadi pada abad ke –14 tidak bisa lepas dari pengaruh Islam yang mulai memasuki wilayah Eropa. Orang-orang Islam berhasil menyelamatkan pusaka Yunani, dipelihara lalu diterjemahkan ke bahasa Arab. Dari bahasa Arab kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Spanyol. Dengan berpusat di Spanyol, kebudayaan dan ilmu pengetahuan Islam bergerak mempengaruhi kehidupan Eropa. Maka terjadilah kebangkitan kembali Eropa. Kebangkitan menuju dunia ilmu pengetahuan yang maju serta tata budaya yang tinggi.
Rasionalisme pada abad ke –17 dengan tokohnya Rene Descartes dan John Locke, dan Pencerahan Baru atau Aufklarung pada abad ke-18 dengan dedengkotnya Voltaire, Montesque, Leibniz dan lain-lain semuanya adalah akibat dari penggalian kembali pusaka yunani oleh Islam. Eropa mengenal Khazanah ilmu filsafat Yunani adalah dari terjemahan-terjemahan Arab. Bukan itu saja, tapi Eropa bangkit juga karena pengaruh pemikiran murni muslimin Arab yang masuk bersama terjemahan-terjemahan tersebut.
Terhadap kontribusi besar yang diberikan Islam, Eropa telah bersikap tidak jujur kepada dirinya sendiri dan juga kepada dunia tentang sumber-sumber peradaban dunia modern yang dibangunnya. Padahal industri mustahil tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan ilmu pengetahuan dan teknologi mustahil tanpa induksi-deduksi dan metode percobaan yang datang dari Islam.
Tapi tidaklah semua orang Barat bungkam mengenai kebajikan-kebajikan Islam. Pujangga besar Percy Bysshe Shelly dan George Bernard shaw dari Inggris serta Johan Wolgang Von Goethe serta banyak lagi yang lain, termasuk Napoleon Bonaparate, telah jujur mengakui kebajikan-kebajikan Islam.
Napoleon Bonaparte bahkan dengan lantang bilang,” selama abad-abad pertengahan, sejarah Islam adalah sejarah peradaban sepenuhnya. Berkat keuletan kaum musliminlah maka ilmu pengetahuan dan falsafah yunani tertolong dari kebinasaan, dan kemudian datang membangunkan dunia barat serta membangkitkan gerakan intelektual sampai pada pembaharuan Bacon. Pada abad ke –7, ketika Dunia Lama itu sedang dalam sakaratul maut, Islam datang memberikan darah baru. Muhammad memberikan kepada mereka sebuah Qur’an yang merupakan titik tolak ke arah dunia baru”. Wow, mereka aja mengakuinya, kenapa kita malah gak pede dengan status keislaman kita?!
“Alaaaahh….bukan saatnya bernostalgia, Neng! Sekarang kondisi umat Islam gaimana? Tak lebih seperti ‘roti sandwich’ terhimpit di antara kekuatan raksasa, kapitalisme modern dan komunisme modern, tanpa bisa berbuat apa-apa. Pun untuk keluar dari himpitan tersebut. Anehnya lagi , mereka bahkan betah” Lagi-lagi Ceplik nyeletuk tanpa di minta.
Jujur, saya mengakui bahwa ceplik benar (mudah-mudahan dia tidak geer) Kenyataan pahit yang harus kita akui memang. Kondisi umat Islam sekarang tak lebih seperti ‘roti sandwich’. Terjepit!. Umat Islam terpuruk ke lembah yang sangat dalam karena telah menanggalkan ajaran agamanya, dan memisahkannya dari kehidupan. Mereka memilih untuk menjadi robot girang (the cheerful robot) yang bergerak mengikuti irama gendang yang ditabuh Barat. Memilih untuk membebek sabda pemikiran-pemikiran jahiliyah modern dan mengadopsinya menjadi pandangan hidup tanpa reserve. Menyedihkan!
“Melihat kenyataan yang demikian apa yang harus dilakukan umat Islam? Berdiam diri dan menjadikan kejayaan Islam dulu hanya sebagai kenangan sejarah? “.
Tentu tidak! Berjuang untuk membangkitkan kembali pilar-pilar Islam yang dulu pernah berdiri kokoh adalah suatu keharusan. Dan umat Islam kembali memegang kendali sejarah.
“Tapi kapaaaan, ?”
Segera!
“Caranyaaaa?”
“Waduh, sabar dong ceplik!”
Ceplik nyengir sambil terus mengunyah singkong goring.
Yah, tentu saja dengan membongkar pemikiran-pemikiran sekuler yang telah dicekoki kaum kafir imprealis kepada umat Islam.dan membangun kesadaran umat untuk kembali ke ajaran agamanya secara totalitas seperti firman Allah “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan, sebab sesungguhnya syaitan musuh yang nyata bagi kalian (TQS. Al-Baqarah (2):208) dan
“Huh…teorimu”.
Maaf kawan, bukan maksudku beretorika atau apapun. Saya hanya ingin memaparkan fakta barangkali masih ada sedikit keinginan dari umat Islam untuk bercermin, dan kemudian menyadari betapa mengenaskannya “tubuh” umat Islam sekarang.
Tubuh ummat Islam yang diibaratkan satu tubuh, kal jasadil wahidi, kata Rasul, kini telah tercabik-cabik menjadi keratan-keratan kecil. Kaum muslimin yang dahulunya hanya memiliki satu kepemimpinan dalam daulah khilafah Islamiyah kini dipecah-pecah oleh kafir imprealis menjadi dunia Arab dan dunia muslim non Arab. Dunia arab kemudian disayat-sayat menjadi 23 negara. Sementara itu dunia Islam di kerat-kerat menjadi belasan negara kecil-kecil. Negara yang kecil-kecil itupun disuwir-suwir lagi. Contohnya, Melayu dipecah menjadi Malaysia dan Indonesia. Malaysia pun dipecah lagi menjadi Malaysia dan Singapura. Di Indonesia sendiri, gema separatis masih terdengar di mana-mana. Aceh dan Maluku. Timor timur sudah lepas. Akibatnya adalah umat Islam pun terpisah satu sama lain. Tersekat-sekat oleh negara dan paham nasionalismenya masing-masing. Umat Islam menjadi tidak perduli lagi dengan kondisi saudaranya di belahan bumi yang lain. Contoh kecil, saat muslim palestina terus digempur, rumah-rumah mereka digusur, beribu-ribu orang diusir dari tanah mereka sendiri, jamaah masjid dibantai saat menunaikan shalat subuh, dan perjanjian perdamaian hanyalah sebatas batu loncatan penuh penghianatan, pemerintah negeri kaum muslimin hanya diam membloonkan diri. “ Kita tidak boleh mencampuri urusan dalam negeri negara lain” Alasannya. Bah!
Jelasnya, dengan nasionalisme, persaudaraan antar muslim sangat dibelenggu oleh batas-batas hukum dan teritorial. Apa yang bisa dilakukan oleh tubuh yang telah tercabik-cabik? Tidak ada! Umat Islam yang laksana buih di lautan banyaknya tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi kekejaman Israel-yahudi yang negaranya cuma seupil.
Itu baru contoh kecil teror-teror kaum kafir imprealis yang diinjeksikan ke tubuh umat Islam. Contoh lain lagi, kapitalisme di bidang ekonomi yang menyebabkan umat Islam menjadi miskin di negaranya yang kaya raya. Karena kekayaan itu hanya dinikmati oleh segelintir orang saja, yaitu penguasa dan pemilik modal. Belum lagi pembaratan budaya yang membombardir kehidupan umat Islam, destruksi aqidah dan syari’at dan masih banyak lagi yang lain.
Sekali lagi, berdiam diri bukan pilihan yang tepat. Karena itu adalah kepengecutan dan kekerdilan. Saatnya kita bangkit dan membangun kembali pilar-pilar Islam yang telah 81 tahun ambruk (setelah runtuhnya Turki Utsmani) menjadi bangunan yang kokoh yang dapat menaungi seluruh kaum muslimin dan seluruh umat manusia pada umumnya.
“Mungkinkah?”
Sangat mungkin, karena saya yakin kaum muslimin tanpa ragu akan memberikan tangannya, berangkulan pundak dan kemudian kita bersama-sama membangun kembali pilar Islam tersebut.
Umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan di muka bumi. Bukan umat bermental kodok yang terus merasa asyik berkubang dalam panci, walau panci itu berisi air terjerang panas.
“Kamu menyindirku ya?”
Maaf kawan, kebenaran harus disuarakan walau itu pahit. Bagi yang berhati,…renungkanlah!

Tidak ada pilihan lain
Kita harus berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku ?”

Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus.
(Diambil dari buku Tirani dan Benteng)

Leave a Reply