It’s The Love….
Khoeksss..Khoeksss…
Oit oit…jangan muntah dulu …gak ada kantong plastik nih…
Okey…kenapa saya milih judul itu?? Hmmm..karena kebetulan kata itu yg nyangkut di kepala setelah berjam jam nongkrongin komputer. Argh..ternyata membuat judul tulisan pun bukan pekerjaan yang gampang..lagian apa ngaruhnya sih sebuah judul?? Iya kan??
Beberapa hari ini saya bete abis campur sebbel. Sudah seminggu saya diuber-uber fans minta tanda tangan, mana tanda tangan se-rim yg telah saya persiapkan kena hujan lagi…tanda tangannya luntur abiz, kan saya capek banget kalo harus bikin tanda tangan lagi…(hehehe…gak percaya kan…ember!!)..maksudnya… saya lagi di uber-uber Pimpred media butut ini. Deadline tinggal menghitung jam, dan tidak ada satupun ide yang nongol di kepala. Puyeng2! Bola mataku sampai mau meloncat keluar saking seriusnya menatap langit langit kamar, kali aja si ide mau menampakkan dirinya secara utuh…uuuugh…ternyata tetap aja…otakku blank…gelap!
Hmm…ternyata harus ku akui…otakku mulai berkarat.
Kemudian tanpa sadar terlintas pikiran…ngapain juga sih susah susah nulis…bikin bulletin seperti ini, mana selalu di kejar kejar deadline..iya kalo ada yg mau di tulis?? Kalo lagi mampet kayak WC kos gini? Kan susah …harus manggil tukang sedot WC segala…(iih joyok abiz)…kemampetan ini makin menjadi jadi ketika isi sms cuma “ “Sil, …artikelnya mana?”
Huaaa..saya capek! capek asli!..saking capeknya saya minta pamit untuk hengkang aja dari dunia perbuletinan. Melengang santai tanpa di kejar-kejar deadline…juga tidak harus begadang melayout. Juga tidak harus berpuyeng puyeng ria mikirin uang tuk nyetak. Setelah pertarungan perasaan yang seru (kayak film action) antara ingin keluar dengan tetap bertahan akhirnya…keputusannya…KE…LU…AR!..Yup, saya kalah! saya nyerah! (bendera putih setengah tiang berkibar kibar di tangan).. Huaaaa!!! aku bebaaas! Good bye buletin jelex…muaach muaach I’ll miss uuuu….(khoeks!)
Tiba tiba sebuah bisikan menghantam hantam kesadaran saya bak palu dogam! Dug! saya tersentak.. Oh..Tuhan …apa yang telah saya perbuat? Secengeng inikah saya? tak seharusnya saya keluar. Tak seharusnya saya nyerah! Emang apa tujuan saya nulis?? Agar mereka sadar?? Kalo gak sadar sadar juga, apa saya harus nyerah dan ngerasa apa yg saya lakuin sia-sia?? Sadarlah!!! (loh sekarang malah saya yg di suruh sadar..) yang dinilai oleh Allah bukan hasil, tapi usaha! Usaha yang di landasi keikhlasan. Saya seperti ini bukankah karena usaha teman-teman yang tak pernah putus asa mencereweti saya dan tak jarang mereka juga harus menerima semprotan dan nada sinis dari saya, tapi apakah mereka menyerah?? Tidak, mereka tidak pernah menyerah. Dan seandainya saat itu mereka menyerah, barangkali saya masih tetap berenang-renang ria dalam comberan dosa sampai sekarang. Oh Tuhan…hamba malu. Sangat malu!
Brukk!!! Tubuh ringkih penuh celak dosa ini tiba tiba tersungkur..memamerkan kekerdilan diri dan kemaha terbatasan. Dalam isakan panjang kutuangkan segala gumpalan gumpalan kecengenganku di hadapan Rabbul Izzati penguasa jagad yang Maha Tidak Terbatas.
Ya Allah…kuatkanlah hamba untuk mengemban amanat ini. Amanat untuk menyebarkan risalah yang di bawa oleh rasul-MU. Tetapkanlah hati hamba untuk selalu ikhlash menyebarkan cinta di bumi, seperti matahari yang tak mengharapkan apapun dari semesta atas sinar yang di berikannya.
Ya Allah…hamba sangat rapuh…tapi izinkanlah hamba mengais ridhamu dalam kerapuhan ini, karena ridhamu adalah cita cita tertinggi hamba.
*****
Tulisan ini saya buat ketika saya berada dalam titik kerapuhan…jangankan tuk berjalan tegak…berdiri pun tidak mampu…Karena cintalah yang menuntun saya untuk hadir lagi di hadapan kawan kawan…menyapa kawan kawan…karena saya sangat mencintai kalian…sangat!!!
Tapi saya gak bisa mengekpresikankan cinta saya yang meluber ini dalam bahasa lisan, karena lidah ini terasa berlipat lipat jika saya ingin mengatakannya . Izinkanlah saya mengungkapkan cinta ini dalam bentuk tulisan sederhana dan gak bermutu, semoga mampu mewakili apa yang tidak sanggup saya lisankan.
Kawan, Betapa tak terperikan hati saya, ketika melihat kawan sudah semakin sombong dan congkak di depan Allah…memamerkan segala kepongahan. Dengan dada membusung berjalan di bumi Allah…menabrak apa yang telah Allah gariskan…kawan gak perduli lagi apakah yang telah kawan lakukan itu menjadi murka Allah atau tidak. Kawan sudah tidak perduli, bahkan terlalu cuek untuk ukuran mahluk bertitel manusia yang di beri potensi akal untuk berfikir mana yang baik mana yang buruk, mana yang di larang mana yang tidak.
Betapa saya ingin berkata kepada kalian saat melihat kalian duduk berdua dengan pacar kalian di sebuah taman sambil saling meremas tangan..”kawan…dia itu bukan muhrimmu..jangan biarkan dia menyentuhmu…” tapi bibir ini tak mau terbuka…kelu mendadak…dan… saya hanya sanggup melangkah dari hadapanmu dengan hati remuk.
Ketika kawan dengan penuh kebanggaan memamerkan kemolekan bodi yang kawan tidak pernah ikut campur sedikitpun dalam penciptaan tubuh molek itu…ingin lidah ini berkata “ Kawan…seorang muslimah wajib memakai jilbab…karena murka Allah akan selalu mengikutimu selama auratmu masih melambai melambai seperti itu…” tapi lidah ini terasa bertulang…dan…kembali saya berlalu dari hadapanmu, lagi lagi dengan hati remuk.
Salah satu bukti cinta seorang saudara…adalah saling nasehat menasehati…dan tidak akan pernah tega melihat saudaranya terjerumus…sebenarnya itu yang ingin saya lakukan. Tapi saya terlalu kerdil untuk mengungkapkan cinta yang tumpah ruang kepada kalian. Saya terlalu takut kalian akan mengatakan “Halaah sok…iyya karena kamu kerempeng…bodimu gak beraturan…ancur tak berbentuk… jadi wajar kalo di tutup..sedangkan kami…sayang kan? Kalo anugerah seindah ini gak di pamerin…”atau “…Emang kalo saya pacaran napa?? Bukan urusan loe…?? Atau “ “Jangan sok alim loe…aku tahu masa lalumu seperti apa… hitam pekat juga..” atau “Jangan ngurusin orang aja loe…diri loe tuh yang di urusin…” plus pandangan sinis yang mampu membuat hati terasa tergergaji…hancur luluh jadi serbuk (hiperbola banget yah???)..Kawan..saya kurang tegar untuk menerima kata kata yang seperti itu…Hati ini lemah, saya hanya bisa berharap lirih ..”Ya Allah tuntunlah kawan kawan hamba…dengan segenap cintaMu…jangan biarkan mereka berlama-lama dalam kubangan dosa…karena hamba sangat mencintai mereka. Kuatkanlah hati hamba dan lancarkan lidah ini untuk menasehati mereka sebagai ungkapan cinta hamba” Amin…
November 8th, 2009 at 12:52 am
ijin ngopi sebagian yak