………….???……………….

July 4th, 2007 by fitri-asad

Ada sesuatu yang tak kutahu
yang seharusnya ku tahu
aku tak tahu apa itu yang tak kutahu
dan aku merasa aku kelihatan dungu bila aku tampak tak tahu dan tak tahu apa itu yang tak kutahu
karena itu aku pura-pura tahu.
ini sangat menyiksa sarafku
karena aku tak tahu apa yang harus kupura-purai untuk kutahu
karena itu aku pura-pura tahu semuanya

Aku merasa engaku tahu apa yang seharusnya ku tahu
tapi engkau tak dapat mengatakan padaku apakah itu
karena engkau tak tahu bahwa aku tak tahu apakah itu

Engkau mungkin tahu apa yang tak kutahu
tapi tak tahu apakah itu
dan aku tak dapat mengatakannya padamu
maka… engkau harus mengatakannya padaku…

Ku Biarkan Rinduku Mengendap

July 4th, 2007 by fitri-asad

Kubiarkan rinduku mengendap
menyemai pada bulir dan rerumputan
pada pasir2 dan buih di lautan
pada awan dan karang yang memutih
Tapi, adakah kau di sana,
menyebut namaku dengan gemetar hatimu..?
ataukah, matahari telah kau tanam di ujung rambutmu?

Ayeshaku

July 1st, 2007 by fitri-asad

Duh Yeshaaaaaa, baru aje kite ketemuan lu main karbur aje. eh tapi gue bersykur bgt, gue sempat nyasar ke bjm lagi, n bisa ketemu ma loe lagi, walau cuma sesaat. Hwaaaaaaa rinduku belum tuntas pren!Loe tau gak, pas loe bener2 karbur n loe ga ngasih kepastian kapan loe balik lagi, gue sedih bgt!  pas loe pamit di depan pintu, gue sampe ga sempat salaman ma loe… loe pasti juga ga ingat. Kira2 gue bakal temen yg kayak loe lagi ya…? kayaknya susah bgt! gue udah berkelana ke sana kemari, ga ada yang sama dengan loe!Loe di sana jangan selingkuh ya…? tapi gue yakin, loe juga ga bakal dapat sohib yang kayak gue… hehehe… loe jangan lama2 di sana ya…? n sering kontak2 gueh…

Di rumah lagi ga ada orang, n janjian tadi ma teman, eh dia tiba2 batalin, gue jadi  ingat loe! makanya gue kabur ke warnet n nulis tentang loe di sini…

Met menjemput impianmu di sana, gue doain loe dapat ustadz DT yang mirip Doni ‘Ada Band’ atau Ari Wibowo. Hehehe…. Gue yakin Allah bakal selalu sayang ma loe n memberikan loe yang terbaik dari ketetapanNya.

Cinta dan rindu yang tak pernah tuntas untuk Ayeshaku… Emmuaahh lop u cz Allah….

Aku Masuk Koran

July 11th, 2006 by fitri-asad

   

“Copeetttttt!!!”

 

Tanpa
menunggu hitungan detik aku segera kabur menjauhi ibu gendut yang
dompetnya kini tergenggam erat di tanganku. Ibu gendut yang memakai
daster dan gelang rincing besar-besar di lengannya serta empat cincin
di jari tangan kanan dan kririnya berteriak-teriak histeris. Ibu muda
yang sedang menggendong bayi yang tadi ditemani ngobrol ikut juga
berteriak-teriak.

 

“Coopeettt!!!”

 

Aku
semakin mempercepat lariku. Kaki-kaki kecilku yang tanpa alas
menjejak-jejak dengan cepat di jalan aspal rusak bebatuan. Perih. Tapi
aku tidak perduli. Aku lebih perduli dengan keselamatan diriku. Aku
tidak mau di pukul sampai bonyok oleh warga. Aku terus belari sampai
memasuki lorong yang agak sepi. Teriakan ibu tadi sudah tidak lagi
terdengar. Dia tak mungkin mengejarku. Tubuh gendutnya tentu sangat berat untuk dibawa berlari.

 

Menyadari
kalau keadaannya sudah aman. Aku memperlambat lariku. Ku atur nafasku
yang ngosngosan. Dadaku sudah tidak terlalu sesak lagi. Hhh, agak lega!
Titik-titik keringat merayap ringan di kening,
leher. Kuhapus dengan kerah bajuku yang sudah mengeras akibat
gumpalan-gumpalan daki. Aku lupa, kapan baju ini terakhir kucuci.
Kulirik dompet biru dengan gambar winnie the pooh di tanganku. Kuintip isinya. Ada lima puluh ribu empat ratus
rupiah. Hm.. Lumayan. Senyumku mengembang indah. Kue lemper Acil Tari melikuk-liuk gemulai di pelupuk mataku. Liurku menetes.

 

“Heiii!!!…”

 

Aku
kaget oleh teriakan keras dibelakangku. Kue lemper Acil Tari yang
melayang-layang di pelupuk mataku terlempar ke got. Anganku yang belum
sempat menjejak awan terpaksa terpelanting kembali ke bumi. Air liurku
kutelan kembali. Teriakan itu… teriakan itu untukku? Kutolehkan leher dengan pelan…

 

“Aaaaaaaaa!!!..”

 

Dibelakangku
ternyata ada belasan orang sedang berlari ke arahku. Ditangan mereka
ada bermacam-macam benda. Sebagian besar adalah kayu balok besar.
Ibu-ibu dan anak kecil memegang sandal jepit. Mereka ingin memukulku?..
untuk apa? Apa salahku kepada mereka? Apa aku pernah mencopet uang
mereka? Kapan?

 

“Aaaaaaa..!”
Mulut, hidung dan mataku melebar serempak. Ibu gendut itu ada
disela-sela mereka! Anak kecil dekil sekarang apa yang kau
tunggu….Lariiii…!!!

 

Kembali
kaki kecilku dengan lincah berlari. Busyet tuh ibu! Buat apa dia
ngundang orang segala untuk mengejarku. Gak ada kerjaan amat! Lagian
uang yang aku copet cuma lima puluh ribu. Dibandingkan uang yang dia
miliki yah lima puluh ribu gak ada apa-apanya. Rumahnya besar. Emas
mengkilat-kilat bergelantungan di sekujur tubuhnya. Pasti uangnya
banyak sekali. Ah dasar orang kaya. Pelit! Diikhlas aja napa sih! Dasar
bandit kecil. Udah nyolong duit orang, eh pake nyalahin orang lagi.
Senyumku memgembang. Tapi mendadak padam. Deru kaki di belakangku
semakin mendekat.

 

“Hei Anak kecil! Berhentiiiii”

 

Bodo! Dikejar mau dipentungin disuruh berhenti. Siapa yang mau! Dasar! Berhenti berarti bunuh diri
tau! 

 

Lariiiii…

 

Dengan
tenaga yang masih tersisa kukepalkan tanganku dan kuangkat tumitku
tinggi-tinggi. Aku terus berlari sekencang-kencangnya dengan rambut
bergerai-gerai. Kakiku seakan refleks berlari sendiri. Tubuhku
membundar mengencang. Meliuk liuk keluar masuk lorong.

 

Tapi…

 

Dadaku…
Dadaku oh! Dadaku mendadak sakit sekali. Seperti dipukul godam. Kuremas
dadaku. Nafasku sesak. Mataku berarir. Liurku meleleh. Aku meludah ke
tanah. Oh! Darah! Aku kenapa? Aku kena apa?! Apakah aku akan mati??
Tidakkkk!!!

 

“Berhentiiiii….!!!”

 

Mereka
masih terus mengejarku. Aku tidak punya pilihan lain saat ini selain
berlari sekencang-kencangnya. Sambil memegangi dada, aku terus berlari,
berlari dan berlari.

 

Aku
ngosngosan. Dadaku semakin merejam sakit. Kuangkat wajahku, di depan
mukaku terpampang masjid dengan menara mengkilat-kilat disepuh cahaya
matahari jam 12 siang. Kaki kecilku menyeret tubuhku masuk kedalam
pagar masjid. Kosong. Ini bukan waktunya shalat. Aku terus masuk ke
dalam masjid. Masuk sampai ke tempat imam shalat. Aku bersimpuh dan
mengangkat tinggi-tinggi kedua tanganku yang ditopang lengan kurus
berdebu.

 

“Tuhan..
tolong hambamu! Aku sudah lama tidak menyebutmu! Tapi sekarang aku
mencarimu, kamu di mana tuhan. Aku minta tolong. Tuhaaaaaaaaan kamu di
manaaaaaa?!!!

 

Aku berteriak-teriak sendiri. Suara cemprengkuku menggema di seantero masjid. Aku merinding mendengar suaraku sendiri.

 

“Hei berhentiiiii”

 

Waks! Mereka masih mengejarku! Dan sekarang mereka sudah ada di halaman masjid!!!

 

Lariiii….

 

Aku segera mengambil langkah seribu. Kabur lewat pintu samping. Ini katanya pintu tempat imam kabur kalau kentut.

 

“Berhentiiiii…!”

 

Orang-orang
dibelakangku masih juga berlari mengejarku. Mereka semakin dekat dan
semakin banyak. Aku terus berlari sambil menoleh ke belakang.

 

Dug!

 

Hidungku mencium tiang listrik. Sakit. Kuelus sebentar dan kemudian belari lagi sekencang-kencangnya.

 

Buk!

 

Sebuah sandal jepit mendarat
di tengkukku. Aku menoleh, ternyata anak kecil dari rombongan pengejar
yang melempar. Bagus juga sandalnya. Sayang cuma sebelah.

 

 “Berhentiiiiiii”

 

Aku terus berlari.

 

“Berhentiiiiiiii!!!”

 

Okhok!
Darah segar kembali keluar saat aku batuk. Sekarang dadaku sudah tak
tertahankan lagi sakitnya. Aku sudah tidak bisa berlari. Aku terduduk di pinggir jalan dekat got. Tungkaiku gemetaran. Tubuhku gemetaran. Jari-jari tanganku gemetaran. Jantungku berdegup-degup tidak karuan. Keringat membanjiri seluruh tubuhku. Liurku asin. Aku meludah ke tanah. Lagi lagi darah! Aku tertuduk sambil menekan-nekan dadaku. Apakah aku akan mati??!

 

Mataku
memanas. Air perlahan menyembul dari ceruk mataku dan
buliran-bulirannya mengalir deras ke pipi. Aku menangis. Bukan hanya
karena sakit di dada. Di hatiku tiba-tiba ada yang tersayat perih. 

 

Sambil
terus memegangi dadaku yang sakit, aku merenungi nasibku yang
luntang-lantung. Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Aku sempat
punya ibu. Tapi ibu meninggal akibat di bakar massa. Ibuku
diseret-seret diarak beramai-ramai didepan mataku dalam keadaan
telanjang, kemudian dilempar ke dalam api unggun yang menyala-nyala.
Aku hanya menangis melihat tubuh ibu terpanggang. Di desa ini, hukuman
bagi pelacur adalah dengan dibakar.

 

Yah,
ibuku memang seorang pelacur. Dan aku tahu kalau pelacur itu di benci
tuhan. Tapi ibu melacur karena terpaksa. Ibu harus membayar utang-utang
kakek yang terjerat rentenir. Setelah itu katanya kakek sakit
keras. Ibu terpaksa menjual tubuhnya untuk biaya kakek berobat. Ibuku
lumayan cantik. Jadi banyak yang suka ibu. Tapi aku yakin hati ibu
pasti menjerit karena telah melakukan perbuatan yang di benci Allah.
Tapi, rintihan kakek lebih nyata terdengar di telinga ibu dari pada
rintihan manusia-manusia di neraka. Akhirnya ibu lebih memilih melacur.

 

 Air
mataku meleleh. Aku teringat ibu. Ibu, diakhirat ibu berada dimana? Di
neraka atau di surga? Kalau pelacur seperti ibu pantas di neraka, terus
orang-orang pintar yang melacurkan kepintarannya, untuk menipu dan
melakukan kebohongan-kebohoangan hanya demi uang tempatnya dimana ibu?
Di neraka juga? Kalau ibu melacur karena terpaksa, tapi mereka
melacurkan kepintarannya bukan karena terpaksa. Uang mereka banyak.
Tapi karena perut mereka tidak pernah kenyang hanya dnegan makan lima
piring.

 

Retina mataku yang masih tergenang air menelusuri setiap jengkal tubuhku yang sedang meringkuk. Ada kaki yang berbalut debu. Betis yang kurus, legam. Lutut yang bersisik
dan dikerubungi koreng. Baju yang compang camping dan penuh tambalan.
Dada yang tipis tinggal tulang. Hei, sudah agak menonjol, walau masih
kecil. Amboy, kau sudah jadi gadis kecil rupanya. Kubelai rambutku yang
lecek dan jarang disisir. Kuraba wajahku. Aku tidak melihat wajahku
sendiri. Pasti jelek sekali, walau pipiku belum di tumbuhi jerawat. Aku
meringis, ah pasti gigiku sudah sangat karatan. Aku tidak pernah sikat
gigi selama bertahun-tahun. Sambil menggit bibir, kubiarkan air merayap
hangat ke pipi. Kupejamkan mataku, kurasakan ribuan duri menusuk-nusuk
lembut hatiku. Sakit tak bernokhtah.

 

Sekarang
orang-orang itu sudah mengerubungiku. Tubuh kecilku meringkuk ditengah
kerumunan itu. Dari mulut-mulut mereka berhamburan sumpah serapah. Aku
tidak perduli. Sumpah serapah itu bagai suara penjual siomay yang
selalu lalu lalang di depan mataku.  

 

Buk…buk… buk..!

 

Kayu-kayu
yang mereka bawa mendarat satu persatu ke tubuhku. Aku hanya pasrah,
sambil hatiku menghitung berapa kali kayu itu mendera tubuhku.

 

“Rasain pencopet!!!” Makan nih kayu.

 

“Kecil-kecil udah jadi maling!!! Makan nih sandal!”

 

Oh!
Andai kayu dan sandal bisa dimakan, aku akan makan semua itu, Tapi
manusia ditakdirkan makan nasi, ikan, sayur. Dan sekarang itu semua
harganya mahal. Dan aku sudah tidak tahu kapan terakhir aku makan.
Sekarang aku sangat lapar. Perutku melilit sakit. Hei orang-orang yang
memukulku! Apa kalian pernah merasakan lapar sepertiku? Apakah
anak-anak kalian pernah merasakan liurnya meleleh karena ingin juga
makanan bergelantungan di toko-toko? Pernahkah kalian merasakan betapa
sakitnya jadi orang miskin. Tapi jeritan itu aku dekap dalam hati.
Percuma aku bicara. Percuma aku teriak. Telinga mereka tidak bisa mendengar, mata mereka tidak bisa melihat, hati mereka tak bisa merasa jeritan orang miskin.

 

Buk…buk…buk!

 

Kayu-kayu
dan sandal masih tetap menghunjam tubuh kecilku. Sekarang aku
terguling-guling ditanah sambil mendekap dadaku yang nyeri. Darah masih
tetap mengalir dari bibirku. 

 

Dompet
ditanganku sudah diambil yang punya. Maafkan aku, Bu! Aku terpaksa
mencopet. Jangan berkata “ kenapa kamu tidak minta saja?” omong kosong!
Kapan ibu memberi uang kalau aku minta? Orang kaya seperti ibu pelit!
Maafkan aku Bu kalau terpaksa mencopet. Aku sangat lapar. Lapar. Lapar.
Lapar. Kata yang sangat akrab di bibirku

 

Buk…buk…buk…!

 

Kayu
itu mendarat di kepalaku. Mataku berkunang-kunang. Sekarang tanganku
memeluk kepalaku yang berdenyut-denyut. Basah… apakah darah??! Aku
tidak mau melihatnya!

 

Buk buk buk!

 

Kayu-kayu
itu mendarat di leherku bagian atas. Akhhhhhhh…..! Mata sayuku melihat
hamburan kunang-kunang beterbangan di sekelilingku. Alam diseitarku perlahan
memudar warna. Cahaya matahari berubah merah saga. Langit diatas
kepalaku membelah dan perlahan runtuh, menghimpit tubuhku yang kecil
dan jarang mandi. Tiba-tiba kurasakan semuanya ringan. Rohkupun
beranjak perlahan meninggalkan tubuhku yang tergeletak di tengah jalan
dengan masih dikerubungi orang. Kulihat bibirku meringis menahan sakit
yang teramat sangat. Selamat tinggal tubuh dekilku. Selamat tinggal
segala derita. Selamat tinggal segala hamburan duri yang menusuk daging
kehidupanku. Selamat tinggal dunia yang tak menyisakan apa-apa untukku
selain kepedihan. Selamat tinggal semuaaaaaaaaaa!!!

 

 

********

 

 Koran
pagi memuat berita tentangku. Gadis kecil yang mati dipukuli massa
karena mencopet. Aku masuk Koran!!!. Sesuatu yang kadang jadi impian
banyak orang. Aku gembira. Aku terkena! Tapi… siapa yang perduli dengan
berita kematianku? Koran memuatnya untuk memenuhi halaman kosong, dan
kemudian dijual. Orang-orang membacanya sekedar berita biasa sambil
menikmati kopi hangat mengepul di pagi hari. Berita kematian hanya
sekedar hiburan. Sekali lagi, siapa yang peduli? Toh setiap hari mereka telah dijejali oleh berita-berita yang memusingkan. Tapi…., pernahkah mereka tahu, bahwa kematianku mewakilkan jeritan-jeritan kaum miskin yang doanya mampu meretakkan langit tua.

 

Aku
beritakan kepada pembaca. Aku mati karena mencopet. Aku mencopet karena
aku tidak tahan lapar. Aku tidak makan karena semuanya mahal. Sedangkan
tidak ada yang mau menampungku, walau sekedar dijadikan pembantu.
Sedangkan penguasa tidak perduli dengan nasib orang-orang miskin.
Katanya negeri ini kaya, gemahripah loh jinawi, toto tentrem kertorahrajo. Negeri Jamrut katulistiwa. Bak Serpihan surga di bumi.  Tongkat
di tanam tumbuh hutan. Di bawah tempat duduk kita terhampar kekayaan
alam barang tambang. Tapi kenapa banyak yang kelaparan? Banyak yang
miskin? Kenapa??!

 

Aku
mati demi uang lima puluh ribu empat ratus rupiah. Kalau demi uang lima
puluh ribu empat ratus rupiah, aku harus menukarnya dengan nyawaku..
Bagaimana dnegan mereka-mereka yang korupsi bermilyar-milyar rupiah?
Berapa lembar nyawa yang dapat menggantikannya. Lima puluh ribu sama
dengan satu lembar nyawa harganya. 1 miliyar berapa lembar nyawa
tukarannya??? Selamat belajar menghitung…

 

 

Setelah bingung ttg apa yang ingin ku posting

July 8th, 2006 by fitri-asad

Kemarin kopdaran lagi dengan teh Faristku terzinta. Huaa cenengnyah. Setiap maasyiroh yang bikin aku semangat datang, n pagi2 harus mandi n dandan rapi yah karena ingin ketemu ma kawan2 yang datang dari berbagai daerah. Hehehehe….
Maasyiroh hari yang paling ku tunggu2. Oh iya, kemarin jg ketemu ma bininya kemakimen, walau kelihatannya beliau agak bingung juga, n barangkali mikir, "orang gila dari mana nguntitin aku terus" hehe…. hoi mba, gue bukan org gila tapi cuma gak terlalu waras,. Hihihihi… Welkam di banjarmasin yang penuh debu dan kotor yah… :)
Untuk Kekasihku Rain di ngawi,  Bintangku yg gak pernah lagi kulihat sinarnya, "EREN" di Bandung coret. Maaf gak pernah menghubungi dikau sayang. Untuk Rence di amuntai, duhh kog kawan2 amuntai gak datang kemarinn, padahal saya  sudah harap2 cemas nungguin, n ditengah sesaknya manusia ku cari dirimu. :)
Ahhhh, silmi kangen ma kalian… Bintang2 yang selalu memaku di ubun2 ingatanku :)
Tathaaaaa Muah222x

Negeri Abu Nawas

June 27th, 2006 by fitri-asad

23.30

Sesak rasanya dada ini, dan jari-jari tanganku hanya mampu terkulai lemah di keyboard beberapa saat sebelum saya memulai menulis artikel ini. Rasanya saya sudah kehabisan kosa kata untuk menggambarkan kepedihan rakyat ini yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Ya Allah, entah kesabaran seperti apa yang telah Engkau semayamkan di hati-hati rakyat Indonesia sehingga begitu legowo menerima perlakuan seperti ini. Sebenarnya, awalnya saya ingin menulis yang indah-indah saja minggu ini, seperti saran seorang teman : “ya mbok sekali-kali nulis yang bagus-bagus gitu tah, jangan selalu tentang berita pilu, buruk, sedih yang membuat kita pesimis. Di balik awan pekat masih ada langit biru, kan?” Tapi entah kenapa, topik yang indah-indah yang hendak saya tulis menguap seketika, dan terpaksa saya menulis tentang yang “buruk-buruk” lagi. Maafkan saya, kawan!   

Yah, Sebuah paradoks negeri tiba-tiba terpamer di depan saya ketika membolak-bolak sebuah surat kabar yang saya pinjam dari seorang teman. Mataku tertumbuk ke sebuah halaman suratkabar yang menampilkan gambar seorang pengemis tua renta dengan rambut yang penuh uban terbungkuk bungkuk dengan mangkok ditangannya, dan disampingnya dua orang polisi sedang memegangi lengannya. Dibawah gambar tersebut bertuliskan: RAZIA: Seorang pengemis tua sedang diamankan oleh tiga polisi Pamong Praja Kota Bogor didepan pasar Bogor, Jabar, Kamis (16/3). Dalam razia ini berhasil dijaring 22 gelandangan dan pengemis (gepeng) dan 30 orang anak jalanan. Mereka dianggap melanggar Perda No 1 Tahun 1990 tentang K3. Kemudian dihalaman lain sebuah surat kabar tertulis berita tentang kemenangan ExxonMobil sebagai kepala operator eksplorasi lapangan minyak dan gas Cepu dalam jangka waktu 30 tahun. 30 tahun man! Sebuah jangka waktu yang cukup lama untuk mengeruk habis kekayaan negeri ini. ExxonMobil jingkrak-jingkrak, pertamina gigit jari, raykat menangis.

Suprisenya, Pengumuman kemenangan Exxsonmobil keluar tidak sampai 24 jam sebelum kedatangan Condy –Panggilan Condolezza Rice, Menlu AS– ke Indonesia. Ini menimbulkan tanya besar : Ada kaitan apa antara Kedatangan condy dan dimenangkannya ExxonMobil? Apa ada proses “Tekan-Menekan” disini? (Tekan menekan bukan hal yang aneh lagi di Indonesia sejak zaman kalabendu sampai jaman encing-encing pake kaca mata riben naik mercy, sampai-sampai Indonesia tubuhnya makin ringsek singset dan nafasnya ngek-ngekan akibat sering ditekan-tekan pihak asing)

Rasanya sangat awam kalau kita hanya bisa membaca bahwa kedatangan Condy hanya sekedar kunjungan biasa. Dan juga masih sangat lugu jika kita membaca bahwa “kemenangan” ExxonMobil hanya semata bisnis biasa. Dimenangkannya ExxonMobil sarat dengan muatan politis! ExxonMobil bisa dimanfaatkan AS untuk mengalirkan secara langsung kekayaan bumi Indonesia ke Washington. Oleh karena itu, AS merasa perlu menekan Indonesia untuk memenangkan ExxonMobil. Ini juga bisa menjadi balas budi Bush terhadap ExxonMobil yang telah mendanai Bush dalam kampanye pemilihan presiden tahun 2004. Jadi kunjungan Condy ke Indonesia harus dilihat sebagai upaya AS untuk memberikan tekanan kepada Pemerintah Indonesia dalam kaitannya dengan pengelolaan Blok Cepu. (selain agenda politis lainnya seperti pencarian dukungan atas War On Terorisme nya, juga penggalangan dukungan dari Indonesia dalam masalah Paletina dan Iran, dsb.)

Rasanya patut kita bertanya: Kenapa Indonesia sama sekali tidak bisa mendongak menghadapi tekanan AS? Kenapa selalu kepentingan Amerika yang dikedepankan dibandingkan kepentingan rakyat? Dimenangkannya ExxonMobil semakin memperpanjang daftar pengkhianatan penguasa kepada rakyatnya, setelah sebelumnya penguasa sudah menorehkan luka yang tak pernah kering di hati rakyat dengan membiarkan para maling-maling itu melakukan pengkaplingan-pengkalipngan atas wilayah tambang Indonesia: Timika untuk Freeport, Lhok Seumawe untuk Exxon mobil, Sulawesi Selatan untuk Mosanto, Buyat-Minahasa dan Sumbawa untuk Newmont International, Teluk Bintun di Papua untuk British Petrolium, Kaltim untuk PT Katim Prima Coal, dsb. Membaca Indonesia kita diajak untuk membaca kisah Abunawas. Bagaimana Abu Nawas yang harus bersembunyi dalam peti ketika maling memasuki rumahnya. Abu Nawas sembunyi bukan karena takut sama maling, tapi karena malu jika maling tersebut tidak menjumpai apapun yang berharga dirumahnya. Nah, Indonesia adalah negeri Abu Nawas. Dari pada harus malu dibilang tidak punya harta untuk dicuri, lebih baik menunjukkan tempat-tempat harta tersebut dan kemudian sambil tersersenyum manis kita berkata : Silahkan Ambil, silahkan Ambil!

Membaca Indonesia kita diajak untuk menyelami kehidupan sebuah negeri seribu satu paradoks (Mengalahkan cerita Seribu satu malam nih): (1) Kita berani menggelandang Para Gepeng dan tukang becak yang dianggap melanggar aturan kebersihan dan tata keindahan Kota, di sisi lain kita tidak sanggup meluruskan punggung dihadapan mereka yang nyata-nyata menjarah harta kekayaan kita. (2) Katanya, bumi, air dan semua kekayaan alam di Indonesia dikelola sebasar-besar kemakmuran rakat, faktanya, bumi air dan kekayaan alam dikelola sebesar-sbesar kemakmuran penguasa dan pengusaha (3) Tiap tahun Universitas-universitas menelorkan puluhan ribu sarjana, tapi kenapa untuk pengelolaan kekayaan alam kita masih menyerahkan kepada pihak Asing? …………..(1001) Kita terlalu sering berdiskusi tentang banyak hal tapi kita belum mampu menjalin berbagai persoalan yang menindih bangsa ini menjadi simpul untuh yang bisa menjawab : Apa sebenarnya “Penyakit” mendasar dari semua ini? Dan Alternatif “pengobatan” seperti apa yang cocok untuk peyakitnya?”

Semoga kita punya banyak waktu untuk mendiskusikan kembali hal ini, sambil bercerita tentang lengan-lengan kering yang menengadah mengharap sepotong roti dari gedung-gedung bertingkat, atau tentang orang-orang yang berjongkok diatas tulang kaki nya yang kering kerontang, memeluki perutnya yang melilit perih, menatapi anak-anaknya yang kurus dengan tatapan mata kosong, perut buncit berisi bakteri dan udara udara kotor akibat busung lapar. Ya, semoga masih ada waktu.

3:00 Dini hari… Saatnya tidur, dan semoga ketika kita terbangun esok hari kita selalu teringat oleh Sabda Rasul “ Barangsiapa yang bangun pagi, dan tidak memikirkan urusan kaum muslimin, maka bukan golongan mereka” Fitri_asad@yahoo.com

Mahasiswa: antara harapan dan kenyataan

June 23rd, 2006 by fitri-asad

Dengan berbekal uang hasil penjualan kambing dan uang tabungan yang ia kumpulkan selama beberapa tahun, dan dengan diiringi do’a kedua orang tuanya berangkatlah si Udin menuju kota Banjarmasin untuk melanjutkan studinya dengan harapan nantinya ia bisa menjadi “orang”. Setelah melewati pesaingan yang ketat, ia pun diterima di salah satu  perguruan tinggi di Banjarmasin.

Dengan penuh kesabaran ia menjalani masa-masa kuliahnya, tetap dengan cita-cita semula: supaya kelak bisa menjadi “orang”. Setelah melewati masa-masa  yang panjang dan melelahkan , akhirnya si Udin pun lulus. Pada waktu acara wisuda sarjana orang tuanyapun turut hadir. Dengan wajah berseri-seri mereka mendampingi sang anak yang mengenakan pakaian “kebesaran” (toga)- tanpa pernah mempersoalkan mengapa mereka harus berbusana seperti itu. Syukuran pun diselenggarakan-apapun tafsiran mereka atas makna syukuran . Si orang tua mungkin tidak pernah tahu cara apa yang telah ditempuh anaknya dalam upaya meraih gelar sarjana. Dan si Udin pun seakan lupa total pada cara-cara yang dilaluinya selama ini.

Dengan berbekal ijazah yang baru diterimanya, si Udin  kemudian harus terbentur-bentur dari pintu  instansi yang satu ke pintu instansi yang lain, kenyataan pahit harus diterimanya: tidak ada yang sudi menerimanya jadi pegawai (Karena memang kesempatan kerja yang semakin sempit seperti sekarang ini memperkecil kemungkinan ia mendapat tempat). Lama kemudian,  setelah nyaris frustasi dan setelah map yang berisi surat lamaran dan macam-macam surat lainnya lusuh, barulah ia mendapatkan pekerjaan, itupun dibidang yang tidak diminatinya dan  tidak ada kaitannya dengan disiplin ilmu dipelajarinya selama bertahun-tahun di bangku kuliah.

Si Udin masih lebih beruntung bila dibandingkan dengan temannya yang “hingga tetes darah penghabisan” belum juga mendapatkan pekerjaan. Akhirnya ia pulang kampung, bertani, ataupun apapun yang penting ia bisa hidup.

Sebenarnya ada juga temannya yang bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan posisi yang “lumayan” . mengapa?  Karena ia punya koneksi yang kuat atau modal yang dapat digunakan untuk membayar uang “ketebelece”. Atau sebagian yang lain memang telah dipersiapkan sejak dini oleh ayahnya, pamannya, saudaranya, atau kerabatnya. Dengan kata lain, jaringan koneksi memang telah tersusun rapi jauh sebelum mereka lulus kuliah.

Dari realitas tersebut  orang pun mulai  mempertanyakan: “ mengapa suatu perguruan tinggi bisa sampai menghasilkan produk yang kualitas intelektual dan kualitas moralnya rendah?

Tulisan ini tidak ingin mencari mana telur masalah, dan mana ayam persoalannya. Tulisan ini hanya sekedar “risalah lepas” bagi rekan-rekan mahasiswa dan juga para staff akademika bahwa tantangan yang kita hadapi ke depan sangat berat. Saatnya kita membenahi sistem pendidikan yang ada, sehingga nantinya dapat melahirkan insan-insan akademis yang handal secara inteletual dan anggun secara moral. Untuk menuju ke arah tersebut, suguhan-suguhan keilmuan dan kajian-kajian ilmiah harus di semarakkan untuk dapat merangsang kreativitas dan kemampuan penalaran kritis mahasiswa, sehingga nantinya ia mampu memposisikan diri di tengah-tengah masyarakatnya sebagai pembawa perubahan (agent of change). Menjadi “orang” sebagaimana yang menjadi harapan si Udin, seharusnya tidak diukur dari sudut pandang materi. Menjadi “orang” disini adalah  sejauh mana ia ikut bergumul dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan dan mampu memberikan gugusan ide yang cerdas dan solutif yang dapat memberikan arah bagi kemacetan sosial yang dihadapi masyarakatnya.

Barangkali perlu mempertanyakan kembali, apakah yang kita kerjakan selama ini telah sesuai dengan hakikat tujuan pendidikan suatu perguruan tinggi sebagai lembaga ilmu pengetahuan? . Yang sering dilupakan bahwa tujuan utama dari pendidikan universitas, adalah membentuk kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah manusiawi dan menolong manusia membentuk suatu dunia yang lebih baik baginya.

Puisi Air Mata Terakir untuk Gi

June 18th, 2006 by fitri-asad

             Kutangkap semua yang melayang tentangmu, kurangkum dalam bakul memoriku, kugerai perlahan menjadi puisi air mata, kemudian ku persembahkan untukmu. Karena engkau pernah hadir.

 

            Gi, Aku sungguh tak pernah lupa saat kau pertama kali menginjakkan kaki di halaman hatiku. Saat aku hampir mampus di kunyah sepi, kau menghampiriku. Kau datang dengan sejuta cerita dan ceria yang kau tumpahkan semua di depan mukaku. Kau datang dengan sejuta tawa dan canda yang tidak pernah habis aku lahap. Aku sangat mengagumimu.

 

            Aku juga takkan lupa saat kau bercerita tentang tangis bisu anak jalanan yang mengais nafasnya di terik aspal. Tentang asap knalpot dan parfum yang merobek ozon. Tentang jiwa jiwa yang mabuk di ujung malam dalam pesta. Kau bercerita tentang langit yang berkabut. Tentang peradaban yang serba absurd. Tentang lalu lintas yang semrawut. Tentang   wajah negeri yang kusut. Tentang kehidupan urban yang kalang kabut. Tentang dunia yang semakin sekarat dan keriput. Tentang…

 

            Kau selalu mempunyai cerita, dan akupun selalu siap melahapnya. Karena aku sangat mencintaimu.

 

            “Gi…” Sapaku ketika kulihat Yahoo Messengermu menyala.

 

            “Hadir…!” Kebiasaanmu setiap aku sapa. Entah, padahal kita hanya berjabat tangan di awan, tapi aku merasa telah lama mengenalmu. Sungguh aneh!

 

            “Lagi ngapain kok lama baru di jawab…?”

 

            “lagi baca buku yang baru aku beli tadi siang” Aku seakan mendengar tawa ceriamu, melihat senyum dan binar matamu. Ingin rasanya aku menarikmu dari anganku dan kemudian menghadirkanmu dengan paksa di hadapanku. Arrrgh!

 

            “Buku apa, Gi?”

 

            “Novel karangan Susanna Tamaro. Judulnya Va’ ove Ti Porta Il Cuore”

 

            “Apa tuh?”

 

            “Artinya, Pergilah Kemana Hati Membawamu”

 

            “Wow, Keren!”

 

            “Kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil. Janganlah memilihnya dengan asal saja. Tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah nafas dalam dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernafas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu. Tunggulah, dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah kemana hati membawamu”

 

            “Wow, itu untukku yah?” Pede!

 

            “Itu kutipan novel tersebut”

 

            “Oooo”

 

            Hm, aku salut dengan kegilaanmu dengan sastra, walau kamu mengaku sastra bikin imajimu liar dan juga bikin otakmu sedikit error. Dasar!

 

            “Pernah baca bukunya Seno Gumira Adjidarma yang judulnya Sepotong Senja Untuk Pacarku” Tanyamu sesaat setelah terdiam.

 

            “Belum” Kuakui aku begitu blo’on tentang sastra.

 

            Kemudian kamu bercerita tentang Sukab yang berusaha mencuri senja, memotongnya sebesar ukuran postcard untuk dipersembahkan kepada pacarnya.

 

            “Aku tidak mampu memberikan senja untukmu” Godaku.

 

            “Aku tidak suka senja. Aku suka matahari dan pelangi” Kamu memberikan simbol senyum di massagemu.  Akupun tersenyum.

 

            “Akan kucungkil mentari dengan jemari, kemudian kupersembahkan untukmu. Akan kutambah lingkar pelangi, kemudian kukalungkan ke lehermu”

 

            “Wow, hebat!”

 

            Aku hanya bisa tersenyum di depan komputer. Soalnya yang aku tulis tadi adalah puisi jiplakan.

 

            “Kamu juga lagi ngapain, Yo?”

 

            “Lagi dengerin lagunya Pistol lan Kembang. Judulnya Ojo Mewek

 

            “Ih, lagu apa tuh. Lagu jawa yah? Belum pernah dengar”

 

            Masa’ sih gak pernah dengar?”

 

            “Iya”

 

            Aku ngakak sendiri di depan komputer.

            “Itu Guns ‘n Roses, Don’t Cry”

 

            “Huh, dasar!”

            “Kena, loe! Ha..ha…ha…”

 

            “Hi…hi…hi…”

 

            Gi, aku menyukai semua tentangmu. Kau menyentuh hidupku dengan cara yang beda. Walau kita bertemu hanya lewat hamburan huruf-huruf dari jari-jari yang mematuk di keyboard, tapi aku mendapatkan sesuatu yang istimewa di sana. Kedengarannya sangat aneh. Tapi, bukankah Kahlil Ghibran Dan May Ziadah pun merajut rasa saat keduanya belum pernah berjumpa? Seperti katamu, cinta itu irrasional. Cinta itu absurd. Tak butuh ruang tak butuh definisi. Walau kata sebagian orang cinta itu tai kucing. Asem!

 

            Jujur, bersamamu seperti tak ada mendung yang mampu bergelayut. Karena kamu selalu mampu menyibaknya dengan caramu. Tapi setelah beberapa saat kebersamaan kita, ada nyeri yang menusuk pelan. Engkau yang terpenjara di ruang maya ternyata sangat mewah untuk aku petik dengan tangan rapuhku. Aku seperti kecoak tolol yang merindukan matahari.

 

            Aku memutuskan untuk keluar dari bayanganmu. Tapi itu tak mudah. Semua tentangmu telah menancap kuat di biji mataku. Di ubun ubunku. Tapi aku harus bisa keluar, Gi. Harus! Kenyataan bahwa kamu adalah kembang mewah yang tak mungkin bisa aku petik dengan tangan kerdilku membuat nyaliku melorot seketika dan aku memilih untuk mengundurkan diri dari percaturan memperebutkan hatimu. Aku tidak mempunyai modal apapun untuk dapat mengatrol harga diriku untuk mampu berdiri tegar di hadapan orang tuamu dan kemudian berkata “Pak, izinkan saya mempersunting putrimu” Arrgh!

 

            Dengan nyeri yang mengigit-gigit aku memberanikan diri mengirimkan e-mail perpisahan untukmu. Belum sempat kusend e-mail yang akan aku kirim, aku sudah menerima e-mail yang serupa darimu.

Selamat  tinggal, Yo.

 

            Yo, ijinkan Gi pergi. Gi tidak bisa mengatakannya sekarang. Biarlah waktu yang menjawab teka-teki ini dan membawanya ke hadapanmu. Suatu saat kita juga akan saling melupa, dan kitapun merayap di dunia masing-masing. Maafkan aku.

 

          Anggi

            Membingungkan!

 

            Sebuah mixer besar mengaduk-aduk isi kepalaku. Seribu pertanyaan yang tak mampu kujawab meraung-raung memenuhi tengkorak kepalaku. Kenapa kamu tiba-tiba ingin pergi, Gi? Aku kemudian menekatkan diri datang ke kotamu. Menemuimu. Sebuah kenyataan pahit terpaksa kutelan. Kamu telah menikah dengan pria kaya dua hari yang lalu. Inikah alasan kepergianmu, Gi? Akupun kemudian pergi ke tempat Pingkan, sahabatmu. Aku hanya mematung tak bernyawa ketika pingkan bilang “Dia tidak pernah serius kepadamu, Yo”

 

            Gie ternyata kamu tidak pernah menganggapku ada. Aku hanyalah bayang bayang sepi bagimu. Tapi kenapa kamu memberiku mimpi? Aku takut bermimpi. Karena banyak dari mimpiku yang patah. Ah, aku benar benar hanya kecoak dungu yang sekedar numpang lewat di celah celah hidupmu. Padahal aku begitu mencintaimu dengan seluruh nafasku. Kalaupun aku pernah ingin mengucapkan selamat tinggal, aku tidak berniat untuk benar benar pergi. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk menganyam sayap kuda semberaniku untuk dapat membawamu terbang mengikuti jejak jejak awan. Terbang mencungkil mentari dengan jemari  kemudian mempersembahkannya untukmu. Seperti janjiku.

 

            Tiba-tiba air merayap pelan di kulit wajah. Cengeng! Tidak masalah. Laki-lakipun butuh menangis.

 

            Akupun pulang dengan tubuh melayang antara bumi dan awan. Membawa nafas yang masih tersisa. Kepedihan kembali mengalun.

Kisah tentangmu berakhir  di sini. Selamat tinggal, Gie.

Aku Pulang…Tanpa dendam…Kuterima kekalahanku…jreng..jreng…

***

 

            Sepi kembali mengoyak kejam. Berada dalam kamar kos ukuran 3×4 membuat aku semakin naif dari panggung dunia yang besar. Tak ada cinta, tak ada kawan.Menyesakkan. Menyebalkan.

 

            

Aku hanya terpaku, mendekap bantal, menatapi guratan guratan kapur di dinding kamar sambil menyigi memori-memori lapuk. Tiba tiba mataku hinggap di potret ayah dan bunda yang tersenyum jenaka ke arahku. Ku dengar ayah berbisik “Nih, lihat! Ayah mendapatkan bundamu yang baik hati dan shalehah tanpa pacaran” Aku merasa tersindir.       

           Maafkan hambaMu Tuhan yang sempat terlupa bahwa ajal, rizki dan jodoh hanya di tanganMu. Kelak, jika aku ingin mencintai satu di antara mereka, bukan sekedar karena ingin mendekap dan memilikinya. Tapi, semoga aku mencintainya karena kerena kecintaanku kepadaMu. Bersamanya merayapi sisa usia dalam mengais ridhaMu.

 

Ya Allah, tetapkanlah aku di jalanMu.

 

Mentari hatiku kembali tersenyum. Ada damai yang menyusup pelan. Tak ada lagi sepi. Tak ada lagi duri.

 

Tentang Seorang Teman

January 20th, 2006 by fitri-asad

            Dari dulu saya mencintai buku, tentunya buku: Sastra. Sejak SD hingga SMU
rasanya tidak ada buku-buku sastra di perpustakaan sekolah yang tersembunyi
dari pengawasan saya. 

 Walau begitu tergila-gila
dengan buku-buku sastra, buku teks pemikiran saya malah sebaliknya. Apalagi
tentang politik, ideologi! Dulu, saya tidak suka konflik, istilah-istilah
pelik, riuh manusia, problematika umat. Saya suka terpaan angin, guyuran hujan,
sinar matahari, pepohonan rindang, ikan-ikan di kolam, semua yang tanpa
konflik.

 Sampai suatu ketika,
semester satu, janji yang saya buat pada seseorang di perpustakaan universitas,
mendamparkan saya sejenak ke kamar persegi kost-an teman ’sekelas’ saya.
Rak-rak yang penuh buku adalah awal cinta pertama saya pada kamar persegi itu.

 Untuk selanjutnya, setiap
dosen terlambat masuk atau tidak masuk sama sekali, saya selalu mengunjungi
kamar persegi itu. Membaca buku-buku sastra: fiksi islami yang sayangnya
jumlahnya hanya sepersepuluh dari keseluruhan buku-buku itu. Selebihnya
buku–buku teks pemikiran Islam; tentang: akidah, syariah, politik dan ideologi
Islam, sirah, hakekat berfikir, dll.

 Teman saya itu (yang empunya kamar) selanjutnya menjadi teman
diskusi saya. Kalau saya begitu mencintai buku sastra dan anti terhadap
buku-buku teks pemikiran, dia malah sebaliknya.

 Dua tahun awal pertemanan
kami selalu ada beberapa buku teks baru menjadi penghuni kamar persegi itu.
Dengan mata berbinar-binar, teman saya itu selalu menceritakan
pemikiran-pemikiran dalam buku baru itu (sikap dan ekspresi yang sama persis saat saya sedang memegang buku
sastra). Sikap dan ekspresi wajahnya lama-kelamaan seperti menghipnotis saya.
Saya pun kemudian menggandrungi buku-buku semacam itu.    

 Agar terasa ’adil’ dan
diskusi kami bisa menjangkau banyak aspek, saya pun merekomendasikan buku-buku
sastra (yang saya pinjam dari teman lain) untuk dia baca. Bukan fiksi islami,
tapi buku karya pengarang wanita yang sedang ’hangat’ dibicarakan karena kevulgarannya.
Sayangnya, dia terlalu kaget membaca karya-karya semacam itu. Setelah pusing,
mual, ia pun muntah. Ia lalu mengeluarkan komentarnya, bahwa penerbitan
buku-buku semacam itu lebih pas disebut sebagai era kebangkitan ’sastra bau’.

 Sesungguhnyalah, selain
sebagai teman, dia sekaligus guru dan adik bagi saya.

 Sebagai teman, dia adalah
orang yang mengerti saya, seseorang yang mampu merobohkan benteng angkuh yang
sejak lama saya bangun di sekeliling saya (jadi ingat lagu Padi: Angkuh). Ketika
mengetahui saya suka lagu-lagu Skorpion, tanpa memberi tahu terlebih dahulu dia
menyengaja membeli MP3-nya, menginstal lagu-lagu itu (padahal dia suka lagu
nasyid). Sehingga setiap kali saya mengunjungi kamar perseginya, untuk membaca
buku, lagu-lagu itu ia perdengarkan untuk saya.
Begitu
pula ketika saya masih suka menenangkan diri dengan When The Blind Man Cry-nya
D Purple, dia memperdengarkannya untuk saya. Ia selalu bersedia bersama-sama
saya mengerjakan tugas (yang kadang terlambat dikumpul), menemani makan di kantin,
bahkan kadang-kadang saya ‘paksa’ bolos ketika perkuliahan yang membosankan.
Dia bersedia mendengarkan cerita-cerita saya, tentang buku-buku yang saya suka,
tentang lagu-lagu favorit dan amper tua saya, tentang keputusasaan saya,
tentang semangat saya. Dia ada.

 Sebagai guru, dia adalah tempat
bertanya berbagai hal; keimanan, kebenaran, dll. Pertimbangan-pertimbangannya,
kerasionalannya membuat saya kagum. Pernah suatu ketika setelah membaca cerpen
tentang seekor ayam sakit-sakitan yang dikeroyok sampai mati oleh ayam-ayam
lain yang sehat, tapi sedang kehausan. Cerpen itu agak lama membekas. Saya
ceritakan isi cerpen itu lalu saya bertanya padanya, “Seandainya cerpen itu ada
realitasnya, adakah keadilan Tuhan bagi ayam itu. Kalau ada dalam wujud apa?”
Mendengar pertanyaan saya itu,dia hanya tersenyum dan berkata bahwa ada banyak
hal yang dapat dipikirkan dan memang harus untuk dipikirkan, yaitu masalah umat
yang bejibun banyaknya yang mendesak
untuk diperjuangkan solusinya yaitu berdirinya Khilafah Islam. Dia kemudian
menyibukkan saya dengan kajian, diskusi,
seminar, tabligh akbar, yang membahas fakta-fakta real ketertindasan umat Islam
saat ini. Dia adalah insfirasi untuk menjadi baik.

Sebagai adik, dia pernah membuat saya merasa begitu kehilangan karena
dalam mimpi, di hadapan saya, dia tiba-tiba menghilang, lenyap! Seseorang pada
waktu tertentu dengan rona ceria menceritakan koleksi game barunya, yang
sesekali mengajak saya bermain sega diwaktu luang.   

 Mungkin ada diantara pembaca yang
bertanya, “mengapa cerita beginian di
tuls di sini?” Setidaknya saya punya dua alasan.

Pertama, Saya ingin
membingkainya di sini sebagai jejak yang kelak dapat saya buktikan
keberadaannya.
Sekaligus
berbagi cerita pada pembaca lain yang mungkin memiliki keadaan atau kecintaan
pada seorang teman: seperti saya.

Kedua, Karena saya tahu, dia hampir setiap hari
minggu mengintip halaman Cakrawala ini melihat kalau-kalau tulisan saya dimuat.
Pernah beberapa kali dia berusaha menelpon saya hanya untuk memberitahukan
bahwa ada komentar ’tajam’ yang ditujukan untuk tulisan saya.
Dengan bersemangat dia berkata bahwa saya harus membuat komentar
balik. 

 Selama ini, hampir setiap kali
selesai menulis tulisan yang ingin saya publikasikan dia adalah editor pertama
dan kadang merangkap sukarelawan juru ketik.

Dua minggu lalu, tepatnya hari Kamis. Saya dan dia
bersepakat ke Gramedia membeli buku yang mungkin bisa kami jadikan bahan
skripsi.
Di

sana

saya membeli dua buku. Salah satunya karangan Christoper Norris:Membongkar Teori Dekonstruksi Derrida. Sebelum berpisah, di tempat parkir saya berjanji akan menceritakan isi buku itu
padanya.

 Dua hari berikutnya
sebelum perkuliahan dimulai saya menepati janji, menceritakan isi buku itu.
Saya sampaikan bahwa dekonstruksi adalah sebuah tindakan dari subjek terhadap
objek yang tersusun dari berbagai unsur.
Yang pada
awalnya merupakan cara atau metode untuk membaca teks. Bahwa dekonstruksi
‘biasanya’ ingin menelanjangi tekstualitas laten dalam sebuah teks yang
bertujuan untuk menunjukkan ketidakberhasilan upaya penghadiran kebenaran
absolute. Saya sampaikan lagi padanya, bahwa pembacaan dekonstruktif hanya
ingin mencari ketidak utuhan atau kegagalan tiap upaya teks menutup diri dengan
makna atau kebenaran tunggal. Bahwa teks tidak dipandang sebagai tatanan makna
utuh, melainkan arena pergulatan yang terbuka, atau tepatnya permainan antara
penataan dengan chaos, antara perdamaian dengan peperangan,
antara akur dengan cek cok. Bahwa yang terjadi kemudian
hanyalah semacam pendewasaan diri.

 Mendengar uraian saya, dia pun
mengangguk beberapa kali sambil ber “ooh”.
Seperti biasa kami berdiskusi. Tiba-tiba ia
bertanya pada saya. ”Bagaimana dengan teks al Quran dan hadits dengan derajat
mutawatir yang dapat dipastikan kebenarannya? Bagaimana dengan masalah akidah
yang menuntut pembenaran secara pasti, tunggal tanpa keraguan sedikitpun?” Dia
mengusulkan supaya saya menulis artikel tentang itu. Saya menyanggupi. Diskusi
kami berlanjut untuk memilih judul apa yang akan kami pilih.

 ” Sejak awal, ketika seorang
mengikrarkan diri dengan syahadat sebagai muslim, ia akan mengakui keberadaan
dan keesaan Allah serta kerasulan Muhammad. Itu merupakan kebenaran absolut.
Iya kan? Selain itu Wahyu berupa al Quran yang merupakan pertanda kerasulan
Muhammad adalah teks yang kebenarannya tidak bisa diganggu gugat. Kalau begitu
emm.., Mari Kita Bunuh Dekonstruksi dengan Kalimat Suci, Gimana?”Kata saya.

 Dia mengangguk setuju.
Matanya berbinar, dia tersenyum. Sosok di depan saya saat itu, adalah orang
pertama yang saya dengar keritikannya, untuk saya tanpa bangkitnya amarah.Yang
menyemangati saya, memberikan motivasi ketika saya tak ingin apa-apa.  

 Ah, rupanya saya harus mencari
referensi lebih banyak lagi, menyusun argumen-argumen, supaya teori yang saya rangkum dari pemikir-pemikir favorit
saya akan lebih kuat. Membunuh dekonstruksi dengan akidah Islam hanya akan
berlaku bagi penganutnya, tidak bagi yang tidak mengakuinya. Jadi untuk
membunuh dekonstruksi,  hanya perlu
argumen yang memuaskan akal alias dalil aqli. Pufhh… Kapan selesainya
ya?  

 Semoga tulisan ini
setidaknya bermakna selingan dari tulisan-tulisan lain yang hadir di sini. 

It’s My Body

January 20th, 2006 by fitri-asad

 
“Ini tubuhku, dan aku berhak atasnya” Jeritan ini terdengar di
sela-sela gegap gempita teriakan kebebasan perempuan. Selama beberapa
abad sebelumnya kaum perempuan mengalami keadaan yang sangat
menyedihkan. Keberadaannya sebagai perempuan, bahkan
sebagai manusia tidak diperhitungkan. Baik dalam sector domestik maupun
publik. Akhirnya dalam keterkekangan itu mereka menggeliat untuk
melepaskan diri dari belenggu tersebut. Mereka mulai berupaya mendobrak
segala belenggu-belenggu, dan kemudian bergerak menuju kebebasan yang
diyakini bisa memberikan keadaan yang lebih baik.
 

Salah satu bentuk perjuangan mereka untuk mencapai kebebasan sepenuhnya adalah gagasan tentang hak-hak dan kesehatan reproduksi (kespro) perempuan. Banyak hal yang diharus disikapi secara kritis dari gagasan kespro yang pertama kali dipopulerkan oleh International Conference On Population and Development
(ICPD)/Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan yang
berlangsung 5-13 September 1994 di kairo dan telah menjadi isu global ini. Isi
dari program ICPD tentang kesehatan reproduksi perempuan sarat dengan
nilai-nilai liberalisme. Hal ini dapat dilihat dari 4 kerangka tujuan
ICPD:

 

  1. Tujuan agar setiap kegiatan seks harus bebas dari paksaan serta berdasarkan pilihan yang dipahami dan bertanggung jawab.
  2. Setiap tindakan seks harus bebas dari infeksi. Diantaranya dengan kondomisasi bagi yang aktif secara seksual dengan lebih dari satu pasangan.
  3. Setiap kehamilan dan persalinan harus diinginkan.
  4.  Setiap kehamilan dan persalinan harus aman.

 

Dengan pemahaman bahwa kegiatan seks harus bebas dari paksaan serta berdasarkan pilihan yang dipahami dan bertanggung jawab ini berarti bahwa: kegiatan
seks di bawah ikatan perkawinan karena dianggap memaksa harus di tolak.
Melayani kebutuhan suami sesuai keinginan. Perempuan bebas melakukan
kegiatan seks berdasarkan pasangan pilihannya, baik pasangan sah atau
bukan, asalkan bertanggung jawab dan paham atas resikonya.

 

Dalam butir kedua lebih mengerikan lagi. Di situ disebutkan ‘bagi
yang aktif secara seksual dengan lebih satu pasangan agar tidak
terinfeksi dan terjangkit segala jenis penyakit kelamin masa caranya
adalah dengan memakai kondom’ Dapat dibayangkan oleh kita akibat yang
terjadi kemudian. Seks bebas yang sudah menggila di masyarakat akan semakin menjadi-jadi.

 

Begitupula
dengan pemahaman dasar bahwa perempuan berhak untuk menentukan kapan
dia akan berproduksi atau tidak, maka perempuan bisa kapan saja memakai
atau atau tidak memakai alat kontrasepsi. Seorang istri boleh saja
memakai alat kontrasepsi sekalipun tanpa izin dari suami, saat ia tidak
menginginkan kehamilannya. Atas nama hak reproduksi, seorang perempuan
yang belum menikah pun bisa menggunakan alat kontrasepsi jika suatu
ketika membutuhkan.

 

Demikian
pula halnya jika ibu tidak menginginkan kehamilannya- umpamanya karena
kegagalan KB atau karena beratnya beban biaya hidup atau karna tuntutan
karier- ibu boleh saja melakukan aborsi. Agar aman, maka aborsi pun
diupayakan untuk dilegalkan. Inipun berlaku bagi perempuan yang belum menikah. Jika mereka
tidak menginginkan kehamilannya- umpamanya karena hubungan diluar nikah- maka aborsi menjadi sesuatu yang ‘sah-sah’ saja.

 

 

 

Solusi yang tidak nyambung

 

 

 

 Gagasan
kespro ini, menurut Tini Hadad (ketua Yayasan Kesehatan
Perempuan) dilatarbelakangi oleh banyaknya angka kematian ibu dan bayi,
juga banyaknya kasus-kasus pelanggaran hak reproduksi perempuan seperti
kasus perkosaan dalam perkawinan, perjodohan, larangan aborsi,
pelecehan seksual, penyiksaan, paksaan terhadap penggunaan alat-alat
kontrasepsi, tidak adanya akses mudah terhadap masalah kesehatan
reproduksi, dan berbagai bentuk diskriminasi yang menomorduakan
kedudukan perempuan.

 

  Kalau
dilihat dari latar belakang digagasnya konsep kespro ini dan
penyelesaian yang diberikan sangat tidak nyambung. Meningkatnya angka
kematian ibu dan bayi harusnya solusinya dengan mendesak pemerintah
untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan bisa
diakses dengan mudah oleh seluruh masyarakat. Bukan dengan cara aborsi
legal.

 

Begitu
pula dengan permasalahan maraknya pelecehan seksual dan pemerkosaan
terhadap perempuan. Solusinya bukan aborsi legal dan pemberian
pendidikan kespro di sekolah. Harusnya solusinya adalah dengan
mengurangi rangsangan-rangsangan yang dapat menjurus kearah pelecehan
seksual dan pemerkosaan. Diantaranya dengan pelarangan memakain baju
seksi yang menggambarkan lekuk-lekuk tubuh perempuan, mencegah
beredarnya media-media yang dapat merusak akhlak. Pendidikan agama baik
dirumah maupun disekolah-sekolah semakin ditingkatkan.

 

Banyaknya perempuan yang terinfeksi penyakit kelamin seperti HIV/AIDS mereka
memberikan solusi dengan kondomisasi. Sungguh sangat tidak waras dan
tidak nyambung! Kenapa mereka tidak mendesak pemerintah untuk melakukan
pelarangan terhadap aktivitas seks bebas, menutup tempat-tempat
maksiat, melarang pornografi, pornoaksi. Melarang tersebarnya
media-media porno yang sekarang sudah sangat merajalela dan anak
kecilpu sudah bisa mengakses dengan mudah. Karena inilah yang menjadi
penyebab tersebarnya virus HIV/ AIDS. Kenapa harus solusinya dengan
kondomisasi??!

 

Kasus
perkosaan dalam rumah tangga dan penyiksaan terhadap perempuan ini
terjadi karena kehidupan rumah tangga yang semakin jauh dari
nilai-nilai agama. Nilai-nilai sekuler liberalis telah merusak tatanan
keluarga. Kehidupan dalam rumah tangga tidak
lagi diartikan sebagai institusi mulia yang berperan untuk mencetak
generasi yang bertaqwa yang dilandasi oleh semangat untuk mencari ridha Allah.
Hubungan persahabatan dalam rumah tangga berubah menjadi hubungan
saling memanfaatkan. Siapa yang paling banyak memberikan kontribusi
materi dalam rumah tangga maka dia yang superior. Ketika seorang suami
merasa dia yang mencari nafkah dan menghidupi keluarga maka dia akan
bertindak menguasai dalam rumah tangga. Tindakan kekerasan, pelecahan,
pemerkosaan, dan pemaksaan akan mudah terjadi dalam sebuah keluarga
yang demikian. Yang terjadi sebaliknya pun juga banyak. Ketika istri
yang paling berkontribusi dalam memenuhi nafkah keluarga, istripun bisa
bertindak superior dan memperlakukan suami seperti pembokat.

 

  Yang lebih tidak warasnya lagi adalah kasus larangan aborsi yang ditengarai  sebagai
salah satu bentuk pelanggaran terhadap hak reproduksi perempuan.
Akhirnya mereka bejuang sekuat tenaga untuk melegalkan aborsi, dan
usaha mereka berhasil dengan gilang gemilang. Aborsi telah legal!

 

Akhirnya,
saatnya untuk menyadari bahwa gagasan kespro yang diharapkan mampu
membawa angin segar bagi perempuan malah menjerembabkan kaum perempuan
ke permasalahan yang lebih complicated. Solusi yang ditawarkan dalam konsep Kespro produk ICPD diibaratkan menambal kain usang. Ditambal disini robek sebelah sana. Ini merupakan ciri penyelesaian yang tidak sahih karena tidak sesuai dengan akal, tidak menentramkan hati dan tidak sesuai dengan fitrah manusia. Pantaskah diterima oleh kita yang masih berakal sehat?!

 

***********

 

Mengkritisi
gagasan kespro bukan berarti kita menafikan dan menganggap tidak
penting soal kesehatan reproduksi perempuan. Tapi yang tidak boleh
luput dari perhatian kita adalah, bahwa dalam gagasan kespro ini sarat
dengan nilai-nilai dan semangat liberalisme. Kebebasan individu adalah
segalanya. Agama tidak lagi menjadi rujukan. Hal ini harus disikapi
secara hati-hati oleh kita umat Islam. Karena merupakan kewajiban bagi
seorang muslim untuk selalu menjadikan pola pikir dan pola sikapnya
berstandarkan Islam. Menjadikan Islam sebagai qaidah fikriyah (landasan berfikir) dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berfikir) dalam menjalani segala aktivitas kehidupan.

 

Umat
Islam tidak perlu mengambil nilai-nilai atau konsep-konsep yang berasal
dari barat apalagi jika nyata-nyata itu bertentangan dengan Islam dan
membawa kehancuran bagi umat. Faktanya,
negara-negara yang telah lebih dulu mempraktekkan gagasan ini, tetap
tidak membawa perubahan bagi perempuan. Yang terjadi malah kehancuran-
yang diakibatkan oleh kebebasan yang tak terbendung lagi- juga rusaknya
tatanan rumah tangga. Kita tentu tidak mau ini juga terjadi
ditengah-tengah umat Islam.

 

 

Hak reproduksi perempuan dalam Islam

 

Islam
sangat memuliakan perempuan. Islam menempatkan posisi perempuan pada
tempat yang semestinya sesuai dengan penciptaannya. Islam memposisikan
perempuan sebagai ibu generasi dan mitra sejati laki-laki. Untuk
perannya ini Islam menurunkan aturan-aturan yang mengatur pola relasi
laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga seperti pernikahan,
kehamilan, kelahiran, penyusuan, jaminan nafkah, pendidikan anak dan
lain-lain.

 

Pernikahan
bertujuan untuk melahirkan keturunan dan melestarikan jenis manusia
(QS. Annisa [4]:1; QS an-Nahl [16]: 72 dan Islam melarang perbuatan
zina. Pernikahan bukan sebagai bentuk penjajahan atas kebebasan
perempuan. Pernikahan adalah bentuk penghargaan Islam yang tinggi atas
perempuan. Islam mewajibkan seorang suami untuk memperlakukan istrinya
secara ma’ruf (baik), dan menjamin kebutuhan fisiknya dengan mencukupi nafkahnya. Dengan ini perempuan tidak harus menghidupi
dirinya apalagi dengan cara-cara yang merusak kodratnya, seperti
melacurkan diri, yang dampaknya akan merusak organ-organ reproduksinya.

 

Dalam
hal kehamilan juga, Islam memberikan empati yang setinggi-tingginya
atas perempuan, yaitu dengan memerintah seluruh umat manusia untuk
menghormati ibunya (QS. Lukman [31]: 14). Suatu bentuk penghargaan yang
tak ternilai dan tak terukur secara materi.

 

Selama menyusui,
Islam memerintahkan seorang bapak (suami) untuk mencukupi gizi,
sandang, pangan, dan papan. Seorang bapak memiliki kewajiban untuk
mencukupi kebutuhan istri dan anaknya selama menyusui. Bapak dituntut
untuk memberikan perhatian dan tanggung jawab bagi proses reproduksi
perempuan. Artinya, janganlah ibu yang melahirkan dan menyusui masih
dibebani untuk mencari nafkah.

 

Konsep
mulia Islam juga dapat mencegah terjadinya tindakan kekerasan,
perkosaan dan pemaksaan dalam rumah tangga. Hubungan suami istri dalam
Islam dibangun atas dasar muasyarah bil al-ma’ruf (perlakukan
yang baik). Kehidupan suami istri adalah kehidupan dua orang sahabat
dengan dasar kesadaran menjalankan hukum Allah dalam rumah tangga.
Suami yang baik tidak akan meminta dan memaksa istrinya untuk
melayaninya saat kondisi istrinya tidak memungkinkan seperti sedang
sakit, lelah dan sebagainya. Saat kondisi istri siap untuk melayani dan
suami bersikap ma’ruf kepadanya, maka sudah semestinya istri tidak
mencari-cari alasan untuk menolak permintaan suami. Hubungan suami
Istri ini harus dipandang sebagai penunaian hak dan kewajiban yang
bernilai ibadah dengan harapan untuk mendapatkan ridha Allah.

 

Dalam
kehidupan diluar institusi rumah tangga, Islam sangat menghargai hak
reproduksi remaja. Islam memberikan aturan-aturan bagaimana pola
interaksi laki-laki dan perempuan. Islam memisahkan kehidupan laki-laki
dan perempuan kecuali hal-hal yang diperbolehkan oleh hukum Islam.
Islam memerintahkan perempuan perempuan menutup aurat jika berada
dilingkungan (kehidupan) umum dan mengenakan jilbab jika keluar rumah, sehingga
tidak merangsang laki-laki untuk melakukan tindakan pelecehan seksual.
Islam juga memerintahkan perempuan untuk ditemani muhrimnya apabila
melakukan perjalanan jauh. Islam sangat melarang ikhtilat (campur
aduk laki-laki dan perempuan dalam satu tempat yang tidak ada
kepentingan syar’I). Islam melarang aktivitas pacaran dan tersebarnya
media-media porno yang dapat merusak akhlak dan dapat mengarahkan
remaja untuk melakukan zina.

 

  Subhanallah…inilah
konsep hak reproduksi perempuan yang sebenarnya. Suatu konsep yang
memberikan perhargaan dan penghormatan yang sangat tinggi kepada
perempuan dalam menjaga dan menjalankan hak
reproduksinya. Suatu konsep yang sesuai dengan kodrat penciptaan
perempuan. Menentramkan hati, sesuai dengan akal, dan tidak menimbulkan
masalah baru. Islam, seperti script slognistic salah satu lembaga keuangan non perbankan “menyelesaikan masalah tanpa masalah”

 

Insya
Allah dengan pemahaman yang menyeluruh tentang hak reproduksi perempuan
dan juga penerapan solusi yang komprehensif dan mendasar seperti yang
ditawarkan Islam, fakta-fakta pelecehan terhadap hak reproduksi
perempuan tidak akan terjadi.

 

Dan teriakan “ini tubuhku dan aku berhak atasnya” akan berganti menjadi “inilah tubuh yang Allah anugerahkan untukku, dan akan aku gunakan demi ketundukkan totalitas kepadaNya”. Allahu Akbar